Anak sulung saya bernama Dela. Dia hadir setelah menunggu tiga tahun. Dengan demikian, tentu saja saya menyambut kelahirannya dengan suka cita yang besar.

Dela bertumbuh dengan sehat. Puji Tuhan. Wajahnya manis. Kulitnya eksotis. Rambutnya keriting. Lucu sekali.

Namun, itu menjadi ‘masalah’. Soal warna kulit, kebetulan saya berwarna kulit sawo matang mendekati hitam. Lain halnya dengan rambut. Rambut saya lurus. Demikian juga dengan ayah Dela.

Selain itu, seperti yang saya bilang, anak kecil berambut keriting itu memang terlihat lucu. Nah, lambat laun entah memang karena merasa bahwa rambut keriting itu lucu dan ingin memuji entah juga ingin mengejek. Yang jelas, Dela kerap dipanggil dengan Si Kiting atau Si Keriting.

Pernah pada suatu hari, saya ke pasar dengannya. Saat membeli sayuran, anak penjual sayur berkata pada ibunya sambil menunjuk Dela. “Ih, keriting padahal rambut ibunya lurus,” katanya.

Saat itu Dela memeluk saya. Dia mengajukan pertanyaan. “Memangnya kenapa kalau Dela keriting, Bunda?”

Saat itu saya balas memeluknya. Saya katakan bahwa berambut keriting itu baik. Tidak ada bedanya dengan yang berambut lurus.

Kejadian semacam itu tidak hanya terjadi sekali dua kali saja. Dan Dela kerap mengeluhkan orang-orang yang seolah mempermasalahkan rambutnya yang keriting. Terutama jika ada yang menghubungkan rambutnya yang keriting itu dengan rambut saya yang lurus.

Saya tahu ada yang memang bercanda. Ada pula yang sebenarnya kagum dan gemas karena melihat rambut yang terlihat lucu itu. Namun, kadang saya merasa hal itu sudah masuk ranah perundungan.

Saya kerap merasa sedih dan was-was ketika Dela melaporkan kalimat yang diucapkan orang padanya. Salah satunya, Dela bukan anak saya hanya karena rambutnya yang keriting.

Saya kerap mengabaikan perasaan saya dan fokus pada Dela. Saya lalu mengajaknya bicara tentang rambut keriting itu.

Saya tunjukkan tokoh princess yang beberapa berambut keriting. Kami bicara tentang keberanian, kebaikan hati, atau apa saja yang bisa dicontoh dari para tokoh itu. Tidak peduli bagaimana rambut mereka, para tokoh dalam cerita itu selalu membawa pesan kebaikan.

Menanamkan konsep bahwa diri kita indah apa adanya itu juga tidak mudah. Dalam waktu tertentu, saya harus siap mendengarkan keluhan Dela. Bahkan jika itu di saat saya sendiri sedang tidak mood.

Pertanyaan Dela pun beragam. Benarkah dia bukan anak Ayah dan Bunda? Benarkah sewaktu kecil dia bukan minum asi tetapi makan mie instan sehingga rambutnya keriting?

Pada titik tertentu, saya terbentur pada sulitnya menjelaskan sesuatu dengan logika yang bisa diterimanya. Saya pikir ini juga kesulitan banyak orang tua. Kadang kita berhadapan dengan pertanyaan mudah tapi sulit untuk dijelaskan.

Sejujurnya, proses ini tidak mudah untuk saya. Kadang dalam kondisi lelah atau kesal, saya mengeluarkan kalimat yang teramat jahat. Seperti, “Siapa sih yang ngomong gitu? Sini suruh ke sini biar Bunda marahi.”

Padahal saya tahu bahwa mengatakan hal itu tidak baik menurut buku-buku parenting. Hal itu akan membuat anak merasa terlalu dilindungi hingga ia tidak percaya diri menyelesaikan masalahnya. Di sisi lain, saya juga secara tidak sadar mengajarinya untuk melakukan kekerasan yang lain. Perundungan dibalas dengan kekerasan. Duh, kejahatan yang serupa lingkaran setan.

Namun, saya adalah ibu-ibu biasa yang bisa lelah dan capek. Menghadapi orang yang terus nyinyir hanya karena Dela berambut keriting membuat saya juga gerah.

Sampai pada suatu titik, saya mengatakan pada Dela untuk belajar menerima dirinya sendiri. Saya katakan tidak ada bedanya mereka yang berambut keriting dengan yang lurus. Saya ajak Dela berpikir bahwa rambut tidak berpengaruh pada kecerdasan, keimanan, dan kualitas relasi atau apa pun itu.

Saat malam, saya kerap berbisik di telinganya ketika anak perempuan saya itu tidur. Saya katakan bahwa dia cantik dengan semua yang ada pada dirinya. Saya katakan juga bahwa semua orang cantik dengan apa yang mereka punya.

Itu sebabnya, hal yang paling saya syukuri dari Dela adalah meski dia kerap sedih dan mempertanyakan rambutnya, dia tidak membalas orang-orang yang mengejeknya. Setidaknya saya tidak pernah mendengar secara langsung atau mendengar laporan bahwa dia balas mengejek.

Mungkin karena saya terus meyakinkan dia bahwa semuanya baik. Bisa jadi juga dia sudah belajar lebih ndableg, maka Dela kini sudah percaya diri dengan rambutnya. Tidak ada keinginan untuk merebonding, tidak pula merasa sedih ketika dikatai keriting.

Bisa jadi juga lambat laun para pengejek itu lelah. Ya, mereka lelah karena ejekan itu tidak dibalas dengan ejekan. Meski sebenarnya anak saya sedih dan kadang marah. Dia hanya mengelola kesedihan dan kemarahannya dengan membaginya pada saya. Dan kami berdua lalu membahasnya hingga kesedihan dan kemarahan itu hilang lenyap.