Hari kedua Workshop dan Pelatihan Menulis Qureta – APP Sinar Mas di Pekanbaru, Riau, berlanjut dengan fieldwork ke pabrik APP Sinar Mas. Lokasinya lumayan jauh dari hotel tempat kami menginap, yakni berada di Kabupaten Siak, ditempuh dengan waktu perjalanan kurang lebih 3 jam.

Meski demikian, perjalanan yang dimulai pada pukul 07.00 WIB menuju lokasi itu nyaris tak terasa. Selain karena ditemani lantunan musik Koes Plus yang mampu meredam keletihan, supir bus sendiri membawa kami layaknya pembalap yang sedang mengejar podium.

Sesampainya di Perawang, Kabupaten Siak, kami banyak melihat pemandangan alat berat. Mereka tengah asyik mengangkat kayu hasil hutan produksi APP Sinar Mas yang siap olah jadi kertas.

Sekitar pukul 09.00 WIB, panitia dan para peserta workshop pun akhirnya tiba di lokasi. Di sini, di lokasi dengan luas wilayah produksi kurang lebih 1000 ha ini, fieldwork "Kertas dan Peradaban" dimulai.

Sebagai agenda pertama, para peserta mendengarkan pemaparan langsung dari Senior Researcher APP Sinar Mas, Bambang Herdyantara. Ia paparkan soal proses produksi kertas dan komitmen perusahaan untuk meningkatkan jumlah produksi sembari tetap dalam prinsip penjagaan alam/lingkungan.

“Dalam menggerakkan roda perekonomian, Sinar Mas juga akan terus berkomitmen memberdayakan masyarakat sekitar. Kalian nanti bisa menemui mereka langsung di akhir perjalanan fieldwork ini,” ujarnya.

Sementara, menurut Direktur PT Indah Kiat Pulp & Paper, Hasanuddin The, fokus paparannya lebih ke soal isu ekonomi. Menurutnya, setiap perusahaan mesti mempunyai komitmen kuat dalam membantu negara. Seperti APP Sinar Mas, perusahaan harus terus berkolaborasi membantu negara dalam rangka meningkatkan jumlah ekspor dan impor agar Pulp & Paper setidaknya bisa jadi primadona bagi Indonesia dan dunia internasional.

“Namun perlu digarisbawahi, iklim investasi tentu harus juga sehat. Pascakrisis ekonomi tahun 1998, walaupun kita sudah lebih mandiri dalam menjalankan bisnis, dukungan pemerintah masih belum sepenuhnya hadir,” paparnya.

Maka dari itu, tambahnya, seraya meningkatkan keuntungan bagi Dividen negara, pemerintah pun perlu menyehatkan iklim investasi di Indonesia agar perusahaan tidak terkooptasi oleh regulasi yang banyak merugikan.

“Saya tentu sangat mengapresiasi instruksi Presiden Jokowi agar lebih menyederhanakan regulasi ekspor kertas. Di samping itu, Sinar Mas bisa fokus juga dalam pembangunan berkelanjutan untuk masa 50-100 tahun ke depan,” harapnya.

Di sesi tanya-jawab dengan peserta, Hasanuddin coba mengklarifikasi tudingan yang mengatakan APP Sinar Mas ikut andil membakar hutan untuk membuka lahan.

“Kalian tak perlu merasa gak enak. Pasti kalian juga sudah dengar tudingan kalau kami suka merusak alam. Sebenarnya, saat kebakaran hutan tahun 2015 lalu, kami malah ikut untuk memadamkan api ketika dampak kebakaran hutan terjadi di Palembang, Jambi dan Pekanbaru,” ujarnya kembali sekaligus ditutup dengan sesi foto bersama.

Sebelum melanjutkan kunjungan ke tempat produksi kertas, tim panitia dan peserta workshop berkeliling terlebih dahulu ke tempat-tempat penanaman tumbuhan Akasia. Tumbuhan ini adalah bibit tanaman industri yang diperuntukkan sebagai bahan dasar pengolahan pulp & paper.

Terang saja, baik peserta maupun panitia sendiri, hal langka seperti ini tak boleh terlewatkan begitu saja. Beramai-ramailah kemudian mengabadikannya dengan berpose dihiasi latar tumbuhan Akasia ini.

Kelahiran Kertas

Mesin canggih nan-besar menjadi kunjungan kami berikutnya. Kami melihat pengolahan serat kayu menjadi bahan dasar kertas, kemudian dipindahkan untuk dikeramasi ke tahap akhir.

Ada fenomena menarik di sana. Alat berat pengangkut itu berkelok bak mobil balap dengan sigap mengangkut dan menyimpan bahan dasar itu di gudang. Seorang operator mengatakan, alat-alat itu terus berfungsi 24 jam guna menjaga alur produksi yang stabil.

Harus diakui, kita pasti pernah memperlakukan kertas seenaknya, seperti merobek kertas saat salah menuliskan kata, atau untuk membuat pesawat mainan dari kertas. Sudah berapa kilogram kertas yang tidak terpakai di meja belajar kita, kamar kita, atau di lemari buku kita, saat puluhan bahkan ratusan buku hanya menjadi pajangan saja tanpa semuanya selesai dibaca?

Tapi beruntung, melalui fieldwork ini, panitia dan peserta workshop setidaknya menyadari bagaimana pelik dan rumitnya proses kelahiran kertas. Kunjungan tim workshop di siang hari telah memberikan pesona ketakjuban melihat rahim yang melahirkan kertas itu. Buku tulis Sidu (salah satunya) yang dulu menemani kita menimba ilmu selama sekolah, pada akhirnya disaksikan langsung proses kelahirannya.

Melalui mesin-mesin canggih itu, kami disuguhkan kertas yang sangat memesona menjelang proses akhir. Packaging yang ciamik siap menemani kelompok intelektual Indonesia maupun internasional beraktivitas dengan kertas ini. Mesin canggih yang begitu piawai itu sampai tidak mengizinkan selembar kertas lecak pun lolos sensor mesin.

“Keren juga ya,” takjub salah seorang peserta workshop.

Simulasi Pemadaman Kebakaran Hutan

Dikelilingi hutan kayu dan tanaman sawit, perjalanan sekitar 30 menit membawa kami ke sebuah lokasi yang tak kalah keren lainnya, PIC Fire Management. Dalam kunjungan ini, kami dibawa ke lokasi pemberhentian di dekat menara pemantau api setinggi 18 meter. Peserta yang antusias sekeluar dari bus langsung menuju menara itu untuk melihat hutan sekitar.

Untuk bisa ke atas menara, panitia dan peserta harus antri karena pihak operator hanya mengizinkan 10 orang saja sekali muat. Sambil menunggu tim pemadam kebarakan datang, panitia dan peserta berbincang-bincang membahas penanganan kebakaran hutan di Riau.

Setelah menunggu tak beberapa lama, tim pemadam kebakaran pun datang. Mereka datang dengan tunggangan 5 motor trail dan 1 mobil truk pengangkut air.

Dengan pakaian seragam berwarna merah, tampak koordinasi timnya tidak jauh beda dengan TNI. Cara mereka bersikap sangat teratur. Mengeluarkan selang air, memasang helm, dan ambil kuda-kuda, dan tim pemadam pun siap melakukan simulasi pemadaman tepat di depan kami. Air yang dipancarkan sangat kuat. Ketua tim pemadam selalu terdengar mengingatkan pasukannya untuk tidak lengah.

Benar saja, setelah peserta, panitia yang juga mencoba selang air itu tampak kewalahan karena daya dorong airnya yang begitu kuat.

“Setiap selang harus dikendalikan minimal 3 orang,” kata tim pemadam.

Luthfi Assyaukanie saat mencoba melakukan simulasi pemadaman kebakaran hutan. (Foto: Qureta)

Peserta pun begitu antusias mengantri hanya untuk mencoba jadi tim pemadam. Canda tawa dan kegirangan terlantun di mana-mana melengkapi momen seru menjadi tim pemadam kebakaran hutan dalam sesaat.

Dalam sesi diskusi antara tim workshop dengan tim pemadam kebakaran, pendiri Qureta Luthfi Assyaukanie menanyakan proses penindakan apabila kebakaran terjadi di tengah hutan belantara. Pak Purba, begitu panggilannya, mengatakan tim pemadam menggunakan helikopter dan selang khusus untuk menggapai titik api. Mereka pun memiliki tim khusus (jika dibutuhkan) guna mengatasai titik api di medan sulit.

“Kalian luar biasa. Tetap semangat ya, pak,” begitu peserta menyemangati mereka untuk menjaga hutan dari kebakaran. Sesi diskusi pun kembali diakhiri dengan foto bersama.

Cerita Pak Suryono

Di akhir fieldwork, APP Sinar Mas membawa kami ke tempat pertanian Pak Suryono, seorang petani visioner yang sudah lama bekerja sama dengan APP Sinar Mas.

Saat bertemu, Pak Suryono menceritakan perjuangan beratnya menjadi petani. Dulu, mulainya, ia sempat punya niat ingin menculik salah seorang petinggi APP Sinar Mas. Tapi pada akhirnya ia sadar, berkonfrontasi dengan korporat tidak akan menyelesaikan masalah. Ia pun kemudian memilih untuk berdamai dan bekerja sama saja dengan Sinar Mas guna membuka lahan pertanian.

Ya, Pak Suryono merupakan petani visioner. Berbekal public speaking yang cukup baik, ia banyak bercerita mengenai aktivitas ia berkeliling Indonesia dan dunia untuk menghadiri undangan selaku pembicara, seperti undangan dari United Nation, kampus-kampus universitas, hingga acara talkshow Kick Andy.

Kisah sukses Pak Suryono membawa ia pada ekonomi yang mapan. Ia bisa membiayai pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi. Bahkan, salah seorang peserta workshop lulusan IPB merasa tertampar dengan kisah Pak Suryono yang sangat berpegang teguh sebagai petani ini, sedangkan ia masih ragu untuk menjadi petani walaupun latar belakang pendidikannya bidang Agribisnis.

Kami pun berdiskusi dengan Pak Suryono sambil mencicipi singkong dan jagung yang ia tanam sendiri bersama rekan-rekannya. Sisa jagung yang tersisa pun dibawa pulang oleh peserta.

Dari hasil diskusi itu, Qureta dan Sinar Mas akan terus ikut berkontribusi membantu petani mendayagunakan keahliannya demi kesejahteraan secara ekonomi. Dari fieldwork ini, kami tetap optimis, masih ada cahaya di tengah kegelapan.