Sejarah adalah hal yang mutlak diperlukan untuk menjaga stabilitas moral penduduk suatu negara. Sejarah juga mengungkap asal-usul dari negara tersebut. Akan tetapi pada saat ini, sejarah dijadikan sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan dan penjajahan di muka bumi. Sejarah dimanipulasi sehingga rakyat tidak tahu lagi identitas nasionalnya.

Setiap suku bangsa pastinya memiliki asal usul yang pasti tertarik untuk diteliti. Manusia sebagai pemilik kebudayaan tidak pernah lepas dari sejarah. Sejarah selalu dikaitkan dengan waktu sehingga sejarah selalu mengandung kronologisasi dan periodesasi. Di Indonesia secara garis besar memiliki beberapa tahap periodesasi sejarah. Akan tetapi, periode sejarah indonesia, berbeda dengan periodesasi negeri lainnya.

Periode sejarah Indonesia berpatok pada penulisan berdasarkan Rezim yang berkuasa, sementara negara lain seperti Amerika dan Eropa pada umumnya berpatok pada pendekatan zaman. Kedua pendekatan ini tentu saja berbeda. Pendekatan zaman berarti melihat periode sejarah berdasarkan ciri budaya secara keseluruhan sementara pendekatan rezim hanya melihat sejarah berdasarkan tipe penguasa negeri pada era itu. Tipe tersebut bisa berdasarkan agama, ideologi, etnis atau yang lainnya.

Banyak anggapan tentang penulisan sejarah Indonesia pada saat ini  yang dinilai oleh para sejarawan tidak jelas secara prinsip alur ceritanya. model penulisan sejarah indonesia saat ini dinilai merupakan lanjutan dari model penulisan sebelumnya yang hanya menggantikan peran saja.

Dalam historiografi saat ini, terjadi petarungan antara Eropasentris yang merupakan ciri khas historiografi kolonial melawan Indonesiasentris yang merupakan ciri khas historiografi pasca kemerdekaan. Dalam tulisan Heater Sutherland, dalam segi hal dan struktur, kedua sejarah tersebut identik satu sama lain. Saling menyalahkan adalah kata yang tepat untuk menjelaskan kedua historiografi tersebut.

Setiap rezim yang berkuasa pasti memiliki keberpihakan terhadap sejarah yang dianggapnya “baik” dan belum tentu yang dianggap “baik” tersebut adalah benar. Dalam proses penulisan sejarah, rezim yang berkuasa melihat penulisan sejarah yang baru sebagai acuan penulisan sejarah versinya. Bukan untuk dituliskan dalam sejarahnya tapi untuk dipelajari kelemahannya agar tidak terdapat/terjadi dalam era kekuasaannya.

Sejarawan rezim pada saat itu tentunya menyadari bahwa untuk langgengnya kekuasaan, sejarah yang dianggap racun haruslah diberangus dan tidak diberi peluang untuk tersebar ke khalayak.

Saya mengutip ucapan pemimpin Rusia Nikita Kruscev, “musuh negara yang totaliter tiranis bukanlah ekonom atau militer melainkan sejarawan.” Penguasa rezim dengan sejarawan yang “pro” terhadapnya berusaha menanamkan sejarah versinya agar bisa mendarah daging dalam jiwa rakyatnya. Bila hal itu sudah terjadi maka rakyat akan lebih mudah untuk dikendalikan.

Sejarah yang “mengerikan” tersebut sudah pernah dialami dalam sejarah negara Indonesia. Sewaktu orde baru berkuasa, sejarah menjadi alat yang efektif untuk memberangus musuh politik rezim tersebut. Akan tetapi proses pendarah dagingan sejarah (embodied) dinilai gagal dalam proses propoganda pada zaman orde baru.

Propoganda yang dilakukan hanya sebatas menempel dalam benak rakyat Indonesia. Segera setelah kekuasaan orde baru runtuh, rezim tersebut terus dipersalahkan sampai saat ini. Seandainya saja proses propoganda tersebut berhasil, maka rezim orde baru akan dipertahankan atau malah dipuja sampai saat ini.

Historiografi Indonesiasentris dianggap gagal menjelaskan sejarah dikarenakan nilai keberpihakan dan objektivitas yang tidak berimbang. Kekacauan ini tentunya tidak dapat dibiarkan. Semakin lama “luka” sejarah yang melenceng akan kian dipercaya dan ditakutkan menjadi pemahaman yang mendarah daging. Kalau sudah seperti ini, maka akan lebih sulit untuk “mengembalikan ke jalan yang benar”. Solusi untuk masalah ini menurut sejarawan Bambang Purwanto adalah Dekonstruksi Sejarah.

Di awal abad 21, terjadi perang sejarah yang melibatkan akademisi versus akademisi. Perang tersebut menggunakan kritik, diskusi dan debat sebagai senjatanya. Mereka beranggapan bahwa pengajaran sejarah selama ini adalah penyebab melencengnya sejarah.

Para pengajar tidak menanamkan norma di dalam pengajaran sejarah. Tapi menurut saya, pengajar tidaklah patut untuk disalahkan sepenuhnya. Karena pada dasarnya bahan ajar ditentukan oleh pemerintah pusat. Bukan dari pengajar itu sendiri.

Isu yang sering diangkat oleh para akademisi dalam kritik sejarah adalah masalah rasial dan gender. Kedua isu tersebut tidak pernah selesai sepanjang waktu. Setiap saat ada saja kekerasan rasial yang terjadi. Setiap saat ada saja diskriminasi gender yang terjadi di dunia. Saya fikir, kedua masalah tersebut tidak akan pernah selesai dalam sepanjang masa.

Tetapi masalah yang dihadapi dalam abad 21 ini adalah Globalisasi, migrasi penduduk dan multikultur. Sekarang ini jarak tidak lagi di permasalahkan karena sudah diciptakannya alat telekomunikasi dan transportasi yang cukup canggih untuk membuat hubungan antar manusia menjadi lebih mudah. Globalisasi dianggap para orientalis sebagai cara untuk menyatukan dunia.

Tetapi tidak semua orang setuju dengan globalisasi. Globalisasi berarti menggabungkan seluruh norma yang telah ada menjadi satu kemudian dibuat suatu norma baru berdasarkan norma tersebut. Masalahnya, belum tentu norma disuatu wilayah disetujui oleh wilayah lain.

Setiap kebudayaan memiliki norma tersendiri. Soal migrasi penduduk, telah terjadi ledakan penduduk di setiap ibukota negara di seluruh dunia. Ada imege bahwa ibukota adalah kota terbaik di suatu wilayah untuk memperbaiki hidup agar lebih baik. Tetapi bila dikaji lebih jauh, pada dasarnya setiap kota itu sama hanya saja potensi di kota lain belum terekspos. Pindah ke ibukota berarti membuang potensi kota asal dan menimbulkan masalah baru di ibukota seperti kepadatan penduduk, kesenjangan sosial dan pengangguran.

Untuk mengatasi masalah tersebut, para ahli menganggap perlunya pendidikan yang khusus membahas tentang sejarah lokal. Pendidikan sejarah bisa menjelaskan lebih baik masalah saat ini seperti globalisasi, migrasi dan multikultur dengan lebih baik.

Anak didik bisa mendapatkan dan mengetahui norma-norma yang ada dalam kebudayaan lokalnya. Potensi daerah juga bisa di ketahui dari pendidikan sejarah. Sehingga masalah migrasi dan globalisasi dapat diatasi. Anak didik juga mendapatkan bahwa mereka tidak sendiri di dunia ini. Ada kebudayaan-kebudayaan lain disekitar yang berbeda tetapi harus dihormati sebagai layaknya tetangga di sebelah rumah.

Untuk membuat hal tersebut mungkin dilakukan, yang pertama diubah adalah metode pengajarannya. Metode pengajaran berbeda pada setiap zaman. Pikiran seorang pengajar haruslah flexible, tidak kaku. Sebab saat ini perubahan dunia terjadi sangat cepat atau bahkan instan.

Para ahli juga harus meneliti ulang sejarah nasionalnya. Singkirkan segala kepentingan politis penguasa di dalamnya sehingga identidas nasional dapat kembali diketahui oleh rakyat pada umumnya dan anak didik pada khususnya.

Dampak dari hal perubahan itu adalah Negara (pemerintah) akan kehilangan posisi dalam penulisan sejarah. Sejarah yang baik adalah sejarah yang paling mendekati objektifitas. Sekalipun untuk sepenuhnya objektif adalah tidak mungkin, paling tidak mendekati ke fakta.

Dengan tidak ikut campurnya Negara dalam penulisan sejarah, maka akan dihasilkan sejarah yang bebas dari kepentingan penguasa sehingga bila suatu saat di masa depan diadakan kritik dan revisi kritis terhadap historiografi suatu negara, maka jawaban-jawaban akan dapat ditemukan di dalam historiografi yang mendekati “murni”, tanpa kesulitan. #LombaEsaiKemanusiaan