Sebagian kaum berkata, jika seseorang sudah membahas wanita yang dicintai, maka segala model isi perasaan dan persepsi akan dicurahkan. Cinta, Anda tahu, betapa sering disebut, dibaca, dikaji, dicoba dan dielaborasi sedemikian rupa, dan sampai hari ini persepsi orang-orang tidak tunggal. Seorang anak muda yang sedang kasmaran tak akan henti membuai dengan kata-kata puitis nan romantis yang begitu berbuih-buih, bicara soal cinta.

Tapi itu agaknya tak bisa demikian. Ilmu, seperti halnya cinta, adalah sesuatu yang tak benar-benar selesai untuk dibahas. Terlebih dua hal ini: sejarah dan iman.

Mungkin agak berat kiranya disampaikan bahwa iman itu terlalu luas. Sebagian kita yang belajar ilmu ketauhidan bicara bahwa Tuhan adalah konsepsi – kita tak bicara soal ada tiadanya Dia – yang tak kunjung selesai. Baiklah, seseorang yang merasa bahwa dia sudah sampai menjalani proses memahami Tuhan secara sempurna sesungguhnya telah berada dalam hakikat ketidaktahuan.

Berhenti belajar dan merasa sudah tahu adalah hakikat kebodohan, dalam kitab Ta’lim al Muta’allim karya Az Zarnuji kurang lebih begitu. Maka iman sebagai laku dan ilmu adalah sesuatu yang beda sama sekali. Iman sebagai laku mensyaratkan kontinuitas, dan sebagai ilmu ia harus selalu dikritisi.

Maka, jika kita bicara soal iman kita hari ini: kita mungkin tak bisa abaikan sejarah iman orang-orang terdahulu.               

Mungkin Anda bisa merujuk ke buku seperti Sejarah Tuhan dan The Great Transformation: Awal Sejarah Tuhan karya tokoh agama kenamaan, Karen Amstrong. Wanita ini menyuguhkan bagaimana agama-agama adalah sesuatu yang berubah, berinteraksi, dan berproses sedemikian rupa dari satu kepercayaan ke model kepercayaan yang lain. Maka konsepsi “persatuan agama-agama” menemukan satu pintu masuknya.

Seseorang boleh tak sepakat, tentu saja. Selanjutnya sebuah buku yang kiranya cukup menggetarkan keyakinan adalah buku karangan Mun’im Sirry, seorang sarjana yang dahulu menjadi santri di daerah Madura dan saat ini menjadi seorang pengkaji agama-agama di Amerika. Judul bukunya adalah Kontroversi Islam Awal, yang sama seperti judul tulisan ini. Saya terkesan dengan komentar-komentar yang ada.

Orientalis mungkin definisi yang tak sepenuhnya bisa disepakati, tapi bagi kebanyakan umat Muslim: konotasinya agak buruk. Sarjana-sarjana Eropa dan Amerika ini ternyata memberi corak yang demikian tajam, bahkan atas iman yang sudah demikian disepakati.

Maka jangan heran jika ada yang berkata bahwa isi Al Quran itu dipengaruhi budaya agama Yahudi dan Nasrani, lalu Hadis Nabi itu ganjil adanya, dan ini yang terpenting: sejarah Islam masa awal itu telah dikaburkan sedemikian rupa atas alasan politik.

Orang-orang seperti itu dikiranya adalah orang-orang yang berusaha meruntuhkan “Islam sebagai agama paling sahih dari Tuhan”. Tapi kita tak bisa pungkiri, bahwa dalam kajian ilmu ternyata ada sebagian orang yang memang berangkat dari polemik dan sekedar bikin konflik, dan ternyata lebih banyak pula yang terus bersikap kritis dan kukuh atas sikap akademisnya.

Iman yang baik mungkin adalah yang selalu dipertanyakan lagi dan tidak sepenuhnya benar-benar dipercaya. Ia dibangun atas kajian dan bukan atas pembelaan.

Anda mungkin bisa cari buku ini. Secara cukup mengesankan Mun’im Sirry menyodorkan bahwa pada kenyataannya sejarah Nabi itu baru ditulis dan dihimpun jauh setelah beliau wafat. Maka banyak sekali hal-hal yang tidak tercatat, dan ini tentu bisa diselewengkan banyak pihak.

Penulisan sejarah dalam buku ini menyajikan bagaimana banyak kontradiksi mengenai sejarah Nabi Muhammad diceritakan. Jika senggang, mungkin buku karangan Farag Fouda dari Mesir, yang diterjemahkan berjudul Kebenaran yang Hilang, turut menjelaskan bahwa sejarah agama adalah sejarah perebutan kekuasaan dan pemutlakan nilai-nilai.

Maka dengan sikap yang jernih: ternyata agama Islam, dipenuhi campur aduk politik yang kejam. Islam sudah mulai dimanfaatkan secara politis sejak Nabi wafat. Tak ada sejarah agama yang benar-benar bersih.

Kiranya lebih unik, dalam buku ini, nampaknya nama Muhammad itu adalah julukan, bukan nama asli. Berdasarkan data yang ada, masih dalam buku Mun’im, adalah tidak ada bukti konkret bahwa Muhammad adalah nama asli. Ia hanya julukan untuk seorang yang demikian mulia, dan kita tak tahu nama sebenarnya.

Merujuk pengkaji Barat seperti Juynboll, Goldziher, Schacht, atau Patricia Crone, kita akan tahu bahwa ada celah yang tak bisa dibantah mengenai agama Islam. Tapi bagaimanapun, bukti lisan tertulis yang ada, telah membantu kita mengenal dan mengamalkan agama Islam.

Sejarah adalah ilmu yang bisa selalu dikritisi, dan imbasnya mungkin kita tak bisa mengimani sejarah. Sejarah yang dibakukan akan menjadi doktrin, dan doktrin ini bisa disetir kaum politik sedemikian rupa. Pada kenyataannya, meski berisi angka tahun dan tokoh-tokoh, kisah sejarah membentuk persepsi. Inilah yang ditakutkan jika seseorang berhenti mempertanyakan dan membahasnya: ada pemutlakan, fanatisme dan pemahaman yang semakin mundur.

 Satu hal: jika sudah tak ada bantahan atas kejadian masa lalu, maka mungkin hari ini tak akan pernah ada.