Islam di turunkan di muka bumi oleh Allah SWT  melalui  Nabi Muhammad Saw semata-mata untuk menata umat manusia agar berkehidupan sesuai dengan fitrahnya. Secara sederhana islam  yang di wahyukan atas dasar dari manusia untuk manusia. Mulai dari masa turunnya Islam di Makkah sampai tersebarnya Islam secara luas seperti saat ini, Islam memiliki beberapa periode. Harun Nasution membagi membagi periode itu menjadi tiga, yaitu periode klasik (650-1250 Masehi), pertengahan (1250-1800 M), dan modern (1800-sekarang).

Tiga periodesasi di atas, yang menarik kita kaji dan teliti secara mendalam adalah periode Islam Klasik. Pada periode ini Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan dalam masa kepemimpinan Nabi Muhammad sendiri sampai di lanjutkan kepada Khalifah yang empat dan samapai pada puncak kejayaan nya di Bagdad (Dinasti Abbasiyah).  

Pertama Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad secara langsung mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan itu nampak terlihat dengan terbentuknya prantana sosial, mendirikan Masjid Nabawi, mempersaudarakan Anshar dan Muhajirin, membuat Piagam atau Konstitusi Madinah, peletakan asas-asas politik, ekonomi, dan sosial. Terakhir adalah pembentukan negara Madinah. Dengan adanya capaian itu di Kota Madinah maka Islam menjadi percontohan sebagai kota perdamaian.

Pasca nabi wafat tabu kepemimpinan dipimpin oleh Abu Bakar Ra. Pada masa ini Abu Bakar yang di baiat oleh para sahabat (yang paling nampak pada baiat itu adalah Ali Bin Abi Thalib) langsung melakukan tabu kepemimpinannya. Dijelaskan oleh Qasim A Ibrahim sejarawan muslim dunia bahwa yang paling menonjol kontribusi masa kepemimpinan Abu Bakar yaitu memerangi orang murtad, melakukan penaklukan Irak dan Persia, serta membentuk panitia pembukuan Al-Qur'an atas ide dari Umar Ibn Khattab. Abu Bakar memimpin selama 2 tahun, 11 hijrah sampai 13 Hijriyah.

Berakhirnya masa kepemimpinan Abu Bakar, yang kemudian dilanjutkan oleh Umar Ibn Khattab. Masa Umar ini disamping melajutkan misi kekhalifahan Abu Bakar yaitu melanjutkan pembukuan Al-Qur'an yang dipimpin oleh Zaid ibn Tsabit Umar juga melakukan penaklukan-penaklukan, diantaranya melakukan penaklukan wilayah kekaisaran Bizantium (Syam), penaklukan Mesir pada awal tahun 20 Hijriyah, dan juga penaklukan wilayah kekaisaran Persia.

Kekhalifahan yang ketiga, yaitu dipimpin oleh Utsman bin Affan. Pada masa kepemimpinannya Utsaman memiliki kelebihan tersendiri diantaranya membuat armada agkatan laut Islam pertama, penaklukan Siprus, dan juga melakukan penghimpunan Al-Qur'an jilid II. Meskipun demikian masa Utsman ini merupakan masa-masa dimana munculnya bibit-bibit fitnah, karena Utsman dinilai berbuat nepotisme, mengangkat pejabat pemerintah dari keluarganya sendiri, hingga pada akhirnya berujung pada pembunuhan Utsman.

Dengan terbunuhnya Utsman bin Affan kekhalifahan di Madinah dilanjutkan oleh Ali bin Abi Thalib yang dibaiat langsung oleh kaum Muhajirin, Anshar dan semua yang hadir disitu. Tetapi atas pembaiatan ini Mu'awiyah Ibn Abi Sufyan, gubernur Syam tidak terima jika Ali dijadikan pengganti Usman dan Mu'awiyah mengajukan kepada Ali untuk mengusut tuntas dan menghukum pembunuh Utsman. Karena tidak menuntaskan persyaratan yang diajukan oleh Mu'awiyah maka terjadilah perang saudara sesama Islam, yakni perang Jamal, perang shiffin yang berujung kepada peristiwa tahkim. Akibat dari tahkim tersebut legitimasi politik Ali beralih kepada Mu'awiyah dan sebagian orang Ali mengeluarkan diri dari barisannya, kelompok itu biasa disebut dengan Kelompok Khawarij.

Terambil alihnya legitimasi politik  dari Ali kepada Mu'awiyah Ibn Abi Sufyan maka tabu kepemimpinan beralih dan dipindahkan dari Madinah ke Damaskus. Dengan peralihan tersebut, selanjutnya kepemimpinan yang bernuansa Kekhalifahan dimulai. 

Meskipun tabu kepemimpinan sudah tergengam oleh dinasti Umayyah bukan berarti pertentangan demi pertentangan sudah selesai, namun kelompok-kelompok baru terbentuk melalui gerakan sosial ataupun keilmuan. Kalo kelompok Khawarij terbentuk atas kejadian kejadian tahkim, maka di masa Umayah terbentuk kelompok baru seperti, Qodariyah (paham kemampuan), Jabariyah (paham keterpaksaan), Murji'ah, dan juga  Mu'tazilah (kaum rasionalis).

Cak Nur dalam Khazanah intelektual Islam menjelaskan bahwa kekuasaan Umayah pernah memanfaatkan paham kelompok Jabariyah untuk melanggengkan kekuasaan nya. Yang mana dinasti Umayyah mengambil peran disini dengan mengunakan dalil-dalil yang dipakai oleh kaum Jabariyah dalam paham keagamaan nya.

Selain itu, tidak kalah menariknya untuk kita kaji disini adalah kaum Mu'tazilah yang mana menurut Cak Nur kelompok ini merupakan kelompok yang paling berperan dalam perkembangan intelektual dimasa dinasti Umayyah. Tidak lain Washil Ibn Atho' seorang pendiri kaum Mu'tazilah. Dimana dari Washil ini perkembangan keilmuan Islam maju pesat pada masa Umayah.

Yang kemudian hari kaum Mu'tazilah ini melahirkan tokoh intelektual diantaranya, Al-Kindi, Abu Hasan As'ary, Ibnu Sina, dan masih banyak lagi yang penulis sendiri belum menghafal para tokoh tersebut. Al-Kindi sendiri terkenal dengan tokoh ahli Falsafah, Abu Hasan As'ary terkenal dengan dialektika Yunani-nya, sedangkan Ibnu Sina termashur sebagai seorang yang ahli kedokteran.