Kuda laut (Hippocampus sp.) termasuk kelompok ikan (Kelas Osteichthyes, Ordo Syngnathiformes, Famili Syngnathidae) meskipun bentuk tubuhnya tidak seperti ikan pada umumnya. Bentuk kepalanya lebih mirip kepala kuda dan ekornya mirip ekor monyet karena dapat melilit pada  benda-benda di sekitarnya (bersifat prehensil). Cara bergeraknya pun jauh berbeda dari kebanyakan ikan. 

Kuda laut jarang berpindah tempat, mereka lebih suka berdiam diri dengan posisi vertikal sambil membelitkan ekornya. Kalaupun harus bergerak, misalnya karena menghindari predator, kuda laut akan mendorong tubuhnya ke depan dengan bantuan tenaga dari getaran sirip mungil di punggungnya yang mampu bergetar hingga 35 kali per detik.

Kuda laut terdistribusi hampir di seluruh perairan dunia, mulai dari kawasan tropis hingga yang beriklim sedang (temperate). Habitat kuda laut mulai dari pesisir, muara, teluk, hingga ke laut, mendiami relung-relung yang terdapat terumbu karang, bakau, atau lamun. Dari sekitar 45 species kuda laut yang telah teridentifikasi, Hippocampus kuda adalah jenis yang memiliki distribusi paling luas, di sepanjang perairan tropis Indo-Pasifik. Wilayah persebarannya ke barat hingga Selat Inggris, ke timur hingga Kepulauan Hawaii, ke utara hingga Laut Jepang, dan ke selatan hingga Pantai Australia.

Kuda laut memiliki kemampuan kamuflase yang hebat, yaitu dengan cara mengubah corak tubuhnya sesuai dengan lingkungan sekitarnya atau menumbuhkan lembaran-lembaran (filamen) di permukaan tubuhnya sehingga tampak menyerupai tumbuhan laut. Kamuflase ini dilakukan dalam rangka menghindari predator, mengelabui mangsa, dan selama perkawinan. Kuda laut termasuk hewan sosial, mereka saling menyapa ketika bertemu dengan cara mengubah warna tubuhnya sesaat ketika berpapasan atau dengan mengeluarkan suara khas yang dihasilkan oleh rahangnya.

Keunikan lain kuda laut adalah karena pemeliharaan telur dan anakan diserahkan kepada individu jantan (paternal care). Proses pemijahan dimulai dengan percumbuan yang tak kalah unik karena dapat berlangsung berhari-hari dengan tari-tarian dan perubahan warna yang mengesankan, diakhiri dengan perubahan warna individu betina yang menjadi cerah, menandakan siap memijah. 

Telur-telur yang dihasilkannya kemudian disalurkan ke kantung eram (brood pouch) yang dimiliki oleh individu jantan, dibuahi di dalam kantung tersebut, dan dipelihara hingga menetas. Selama lebih kurang 10 hari kuda laut jantan akan tampak seperti sedang ‘bunting’ dan selanjutnya ‘melahirkan’ sejumlah kuda laut mungil. 

Dari 1000 butir telur yang dihasilkan, jumlah anakan yang mampu bertahan hidup hanya sekitar 250-600 ekor saja. Masa pemijahan kuda laut dapat berlangsung sepanjang tahun, tergantung pada kondisi air, terutama temperatur. Dalam kondisi optimal, pemijahan dapat terjadi hingga 4 kali dalam setahun.

Kuda laut termasuk hewan monogami, yaitu hanya memiliki satu pasangan saja seumur hidupnya. Apabila pasangannya mati,. tertangkap, atau hilang, maka pasangan yang tertinggal akan lebih memilih hidup sendiri. 

Apabila individu tersebut memutuskan untuk memiliki pasangan baru, maka akan menunggu setelah jangka waktu yang sangat lama. Hal ini menjadi salah satu penyebab lambatnya pertumbuhan populasi kuda laut di alam, selain faktor predasi, mortalitas yang tinggi akibat infeksi ektoparasit, dan perubahan lingkungan. Penangkapan besar-besaran oleh manusia juga memperburuk kondisi ini.

Keunikan bentuk dan perilaku membuat kuda laut menjadi incaran pada peminat satwa peliharaan eksotik. Di samping itu, kuda laut juga telah berabad-abad lamanya dikenal sebagai salah satu bahan obat tradisional Tiongkok atau TCM (Traditional Chinese Medicine) yang mujarab. Kuda laut atau haima dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, mulai dari penyakit luar hingga penyakit dalam, dari berbagai penyakit ringan hingga yang sulit disembuhkan. Tak hanya sebagai obat, kuda laut ternyata juga dikonsumsi oleh masyarakat sebagai bahan makanan maupun minuman sehari-hari.

Beberapa etnis meyakini bahwa kuda laut memiliki kekuatan magis. Masyarakat yang masih memegang teguh kepercayaan animisme menyimpan kuda laut sebagai jimat karena diyakini dapat menjaga kesehatan dan keselamatan, meningkatkan rasa percaya diri, melindungi harta benda, dan mendatangkan kemakmuran usaha. Memiliki dan menyimpan kuda laut adalah suatu kebanggaan (prestige). Sedemikian berharganya kuda laut sehingga beberapa kebudayaan mempergunakannya sebagai pengganti uang dalam perjudian maupun transaksi jual-beli.

Karena khasiatnya tersebut, maka terjadilah eksploitasi kuda laut hingga pada taraf yang mengkhawatirkan. Permintaan pasar akan kuda laut kering sebagai bahan baku obat tradisional semakin meningkat dari waktu ke waktu, bahkan hingga mencapai lebih dari 10 kali lipat selama satu dasawarsa. Selain kuda laut kering, permintaan akan kuda laut hidup sebagai ikan hias pun meningkat secara pesat.

Tak kurang dari 77 negara ikut terlibat dalam perdagangan kuda laut, termasuk Indonesia. Kenyataan tersebut menyebabkan kuda laut memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga mendorong terjadinya penangkapan yang intensif dan tidak terkendali. Tercatat sekitar 24 juta ekor kuda laut ditangkap di alam setiap tahunnya. Konsumsi kuda laut di wilayah Asia menempati posisi tertinggi, mencapai 45 ton atau sekitar 16 juta ekor per tahun. 

Kondisi ini mengakibatkan menurunnya populasi kuda laut secara nyata. Apabila kondisi ini terus berlanjut, diperkirakan dalam waktu dekat kuda laut akan terancam punah. Di perairan Cina, populasi kuda laut telah berkurang hingga 30 %, di Filipina 70 %, dan di Vietnam tidak jauh berbeda. Penurunan tersebut akibat penangkapan yang berlebihan dan tidak memperhatikan jenis yang tertangkap, apakah yang dewasa atau yang masih anakan. Secara umum populasi kuda laut menurun 25-50 % selama kurun waktu 2-5 tahun.

Hal ini berdasarkan penelitian survey yang dilakukan oleh TRAFFIC, lembaga yang bertugas memantau perdagangan fauna dan flora di seluruh dunia. Lembaga nirlaba ini dibentuk oleh WCU (World Convention Union) yang kini dikenal sebagai IUCN, dan juga WWF. Untuk itu, IUCN yang berpusat di Gland, Swiss, mengeluarkan Red Data Book yang berisi daftar fauna dan flora yang dilindungi (Red List). Daftar ini menyatakan bahwa kuda laut merupakan hewan yang dilindungi dari ancaman kepunahan, dan dimasukkan ke dalam kategori Vulnerable (VU)

CITES telah mendeklarasikan peraturan penangkapan kuda laut sejak November 2002 dengan toleransi 18 bulan untuk memberi waktu kepada 165 negara terkait, (termasuk Indonesia), untuk menyebarluaskan kebijakan ini. Para nelayan harus diberi arahan tentang cara menangkap kuda laut yang baik, demikian juga pedagang dan masyarakat pengguna harus diberi pengertian untuk tidak sekedar mengejar keuntungan dan kepentingan pribadi semata tanpa memperhatikan kelestarian hewan ini di masa depan.

Selain penangkapan yang berlebihan, kerusakan dan musnahnya habitat kuda laut juga merupakan faktor penyebab turunnya populasi hewan ini di alam secara global. Beberapa aktivitas yang berdampak buruk terhadap populasi kuda laut antara lain: Penggunaan jaring trawl, dinamit, dan tuba untuk menangkap ikan, pengambilan terumbu karang, perusakan hutan bakau dan padang lamun, pencemaran air laut, serta reklamasi pantai.

Beberapa negara di Asia, seperti RRC, Vietnam, dan Indonesia telah memulai usaha budidaya pembenihan kuda laut untuk mengurangi ketergantungan akan kebutuhan kuda laut dari alam. Upaya ini dapat berperan ganda karena selain menyelamatkan kuda laut dari ancaman kepunahan juga akan menambah lapangan kerja baru, dan mengembangkan pasar yang menguntungkan. Oleh karena kuda laut sangat rentan terhadap penyakit dan perubahan lingkungan, maka diperlukan cara yang tepat, cepat, dan cermat untuk mengatasinya selama proses pembudidayaan.

Dr. Amanda Vincent adalah seorang ahli biologi laut asal Canada yang menjadi tokoh kunci dalam upaya konservasi kuda laut. Ia mendirikan “Project Seahorse”, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk menyelamatkan kehidupan kuda laut dan satwa bahari lainya, serta untuk  pengelolaan ekosistem laut yang sehat dan tertata dengan baik (www.projectseahorse.org)