Perayaan Kamis Putih, atau dalam bahasa Inggris Holy Thursday atau Maundy Thursday, memiliki makna yang sangat dalam dan penting bagi Gereja Katolik. Pemakaian istilah Holy Thursday atau Maundy Thursday sendiri tergantung dari budaya dan kebiasaan masing-masing negara.

Kata Maundy dalam bahasa Inggris berasal dari kata bahasa Latin “Mandatum”, yang berarti perintah. Kata ini merujuk kepada perintah baru yang disampaikan oleh Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya ketika perjamuan terakhir sehari sebelum sengsara dan wafat di salib Golgota. Ketika Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, Ia menyampaikan perintah baru supaya mereka saling mengasihi seperti Yesus telah mengasihi mereka (bdk. Yohanes 13:34).

Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih

Misa Kamis Putih dirayakan oleh Gereja untuk mengawali Tri Hari Suci Paskah. Pada hari Kamis Putih, kita memperingati apa yang terjadi pada malam jumat di tahun 30 atau 33 dahulu, dimana Yesus mengadakan perjamuan malam terakhir bersama murid-murid-Nya. Pada Kamis Putih, Gereja merayakan penetapan Ekaristi dan Imamat serta perintah kasih persaudaraan yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya.

Pada prinsipnya, di hari Kamis Putih kita memperingati dua bagian dalam Perjamuan Malam yakni pembasuhan kaki dan penetapan Ekaristi. Menurut kisah injil Markus, setelah melakukan persiapan di sore hari, Yesus merayakan perjamuan malam dengan para murid-Nya.

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: "Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?". Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: "Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku? Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!". Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah. (Mrk 14:12-16).

Setelah peristiwa ini, mereka pergi ke taman Getsemani. Di sanalah Yesus ditangkap untuk dibawa ke istana imam besar dan diadili. Perayaan Kamis Putih sendiri membatasi lingkupnya pada pengenangan perjamuan Tuhan dengan tambahan anjuran untuk juga merenungkan peristiwa Yesus di taman Gersemani setelah perayaan dengan tuguran.

Menurut Injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas), Yesus bersama para murid-Nya merayakan Paskah Yahudi. Sebagai seorang Yahudi yang taat pada Taurat, Yesus dengan setia mengikuti adat kebiasaan Yahudi, yakni dengan merayakan perjamuan Paskah. Perayaan Paskah Yahudi biasanya berlangsung selama 3-4 jam dengan berbagai doa, mazmur, dan pujian lainnya. Dalam hal ini, Yesus tidak sekadar mengikuti adat kebiasaan yang sudah ada, namun memaknai secara baru dengan dirinya.

Pada peristiwa ini, Yesus mengatakan bahwa seorang murid akan menyerahkan-Nya (bdk. Mat 26:21, Mrk 14:18, Luk 22:21), penetapan Ekaristi dengan persembahan tubuh dan darah Yesus dalam rupa roti dan anggur sebagai kurban penebusan dosa (bdk. Mat 26:26-28, Mrk 14:22-25, Luk 22:19-20), tentang kebangkitan Yesus bahwa Ia akan mendahului para murid ke Galilea (bdk. Mrk 14:28), nubuat Yesus tentang penyangkalan Petrus (bdk. Mrk 14:30, Luk 22:34), dan lalu dilanjutkan dengan peristiwa di taman Gestsemani sampai Yesus ditangkap.

Dalam Injil Yohanes, perjamuan malam dikisahkan dengan lebih panjang (Yoh 13-17), meskipun beberapa ahli mengatakan bahwa semua hal berkaitan dengan perpisahan Yesus, permuliaan-Nya, dan kelanjutan para murid setelah wafat dan kebangkitan-Nya, tidak dikatakan Yesus pada saat perjamuan malam.

Injil Yohanes menuliskan mengenai peristiwa pembasuhan kaki dalam perjamuan tersebut. Pada bacaan kedua (dalam perayaan Ekaristi), kita akan mendengarkan surat rasul Paulus kepada jemaat Korintus dimana kisah sinoptis perjamuan malam dikutip secara tidak langsung oleh Paulus.

“Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!". Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!". Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” (1 Kor 11:23-26).

Pada bacaan pertama, kita akan mendengarkan teks Keluaran 12: 1-8, 11-14. Teks ini adalah kisah yang menjadi latar belakang perayaan Perjamuan Paskah Yahudi yang dirayakan oleh Yesus bersama para murid pada Perjamuan Malam. Perjamuan Paskah Yahudi adalah perayaan pengenangan terhadap karya keselamatan Allah kepada bangsa Israel yang tertindas karena perbudakan di Mesir.

Pada peristiwa ini, Allah menyelamatkan bangsa Israel yang pintu rumahnya telah ditandai dengan darah anak domba jantan dan menghukum bangsa Mesir. Bacaan ini sungguh penting untuk direnungkan oleh orang beriman karena berhubungan dengan pengurbanan Yesus sebagai “Anak Domba Paskah” dalam peristiwa wafat-Nya di salib keesokan harinya. Hal ini menegaskan bahwa Perjamuan Malam bukanlah sekedar perjamuan perpisahan Yesus tetapi sebagai perlambang perjamuan surgawi dimana Allah menyelamatkan umat-Nya.

Pembasuhan kaki

Pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Yesus kepada para murid-Nya mengajarkan suatu ajaran moral bagi setiap orang tentang bagaimana harus hidup dan sekaligus menjadi perlambang wafat Yesus. Yesus tahu bahwa saat dimana Ia harus kembali kepada Allah (bdk. Yoh 13:3) sudah semakin dekat dan bahwa ia harus mati untuk kemudian dimuliakan.

Para rasul tidak memahami dan merasa heran bahwa Yesus menjalankan tugas yang harusnya dilakukan seorang budak. Hal tersebut terlihat dari penolakan Petrus yang dibalas dengan tuntutan Yesus, “Jikalau Aku tidak membasuh engau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku” (bdk. Yoh 13:8).

Dengan membasuh kaki para murid, Yesus merendahkan diri-Nya yang juga akan terpancar secara lebih ketika wafat-Nya di salib demi menyelamatkan manusia. Yesus memberikan teladan dengan membasuh kaki para murid supaya kita berbuat sama seperti Dia, yakni saling membasuh kaki (bdk. Yoh 13:14). Ia juga memberikan perintah baru kepada para murid dan kita supaya kita saling mengasihi, sama seperti Dia telah mengasihi kita (bdk. Yoh 13:34).

Menurut romo Bert Van der Heijden, pembasuhan kaki seharusnya tidak dirayakan di kapel atau gedung gereja, tetapi di ruang lain. Hal ini disebabkan karena Yesus sendiri tidak memilih sebuah sinagoga melainkan sebuah ruang rumah biasa. Karena keadaan di paroki atau kapel tidak memungkinkan, maka dipakailah panti imam sebagai tempat pembasuhan.

Menurut ketentuan Congregatio Pro Cultu Divino, tradisi pencucian kaki dilakukan pada pria-pria terpilih yang menunjukkan semangat pelayanan dan kasih Kristus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan meberikan nyawa-Nya bagi penebusan dosa manusia (bdk. Mat 20:28).

Tuguran 

Tuguran dilaksanakan sesudah perayaan pengenangan akan Perjamuan Malam. Setelah doa penutup, diadakan prosesi Sakramen Mahakudus yang dibawa dari gereja ke tempat penyimpanan. Urutan prosesi ini dari yang paling depan, yakni pembawa salib, pembawa lilin dan dupa, kemudian imam yang membawa Sakramen Mahakudus dengan sibori. Bersamaan dengan itu, kita menyanyikan madah “Pange lingua” atau nyanyian ekaristis lain.

Sakramen Mahakudus kemudian ditakhtakan dalam tabernakel di suatu ruangan, dengan catatan bukan ditahtakan dengan monstrans. Tempat penyimpanan harus dihias dengan sederhana dan pantas, tidak boleh berbentuk “makam suci” dengan memperhatikan suasana Yesus yang berdoa di taman Getsemani.

Pada saat inilah, kita menemani dan merenungkan Yesus yang berdoa di taman Getsemani. Sakramen Mahakudus dipindahkan dari tabernakel gereja ke Sakristi atau di tempat lain yang layak supaya perhatian umat diarahkan kepada Yesus yang berdoa sebelum bersengsara. Dengan tuguran, kita diajak untuk merenungkan pergumulan batin-Nya dan keluhuran hati-Nya. Kita berjaga-jaga bersama Yesus agar kita juga tidak jatuh dalam pencobaan (bdk. Mrk 14:38).

Perayaan Kamis Putih adalah perayaan yang membawa orang-orang beriman untuk lebih merenungkan serta menghayati pengorbanan Kristus yang dikenangkan setiap merayakan Ekaristi. Semoga di tengah perayaan yang kita lakukan secara daring oleh karena pandemi tidak menjadikan kita kehilangan pesan yang penting ini.