1 bulan lalu · 64 view · 8 min baca menit baca · Budaya 84291_72084.jpg

Menelisik dengan Bijaksana sebuah Hubungan Bilateral

Hubungan bilateral antara negara-negara di dunia ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terlihat harmonis dan adem ayem di luar, padahal di dalamnya pasti sangatlah rumit. Bahkan berbagai konflik dan intrik yang penuh dengan 'tricky' sering kali mewarnai hubungan kerja sama ini.

Krusialitas hubungan antara dua negara bisa disebabkan oleh perbedaan budaya dan etos kerja. Hal yang semula dianggap remeh atau bahkan sering kali diabaikan, namun sebenarnya hal ini memiliki peranan cukup esensial untuk keberhasilan kerja sama tersebut.

Kemitraan dengan wujud kerja sama bilateral antara kedua negara hendaknya bisa sejajar posisinya. Namun pada realitasnya, mitra kerap kali berada di atas sehingga memiliki tendensi power untuk mengatur permainan kerja sama yang seyogianya dilakukan secara seimbang.

Kita terlalu mengiyakan dengan etos kerja yang disebutkan lebih rendah ketimbang etos kerja mitra sehingga produktivitas pasti rendah. 

Bahkan celakanya, sering kali hal itu digunakan sebagai argumentasi yang dibuat-buat oleh pihak mitra untuk menyebutkan bahwa kita tidak mampu melakukan ini dan itu dikarenakan etos kerja yang rendah dan kita pasti tidak bisa memenuhi sasaran atau target yang hendak dicapai.

Padahal klaim semacam itu belum tentu benar. Kita mungkin mempunyai etos kerja yang lebih rendah dibandingkan dengan mitra, tapi belum tentu etos kerja mencerminkan produktivitas kita dalam bekerja.

Karena sebuah produktivitas juga akan dinilai dari pengetahuan, keahlian, dan pengalaman kita dalam bekerja.

Jika kita komparasikan seseorang yang bekerja keras dan bersemangat tinggi sampai mengambil lembur jam 12 malam setiap harinya untuk menyelesaikan pekerjaan, padahal tanpa memiliki bekal pengetahuan dan keahlian serta pengalaman adalah hal yang sia-sia saja. 


Mungkin dengan kerja kerasnya nanti akan diperoleh output, tapi tidak akan bisa maksimal. Mungkin saja output itu dapat maksimal, namun membutuhkan waktu yang sangat panjang. 

Jadi, bekerja keras bukanlah sesuatu yang hebat karena yang semestinya dilakukan adalah bekerja cerdas. Bekerja cerdas adalah bekerja sesuai proporsi dengan menggunakan segenap pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman untuk menghasilkan produktivitas berupa output yang maksimal.

Tapi sayangnya, mitra memanfaatkan kelemahan kita atas etos kerja yang rendah yang pada akhirnya terjadilah delay-delay atau keterlambatan yang merugikan pihak kita, namun ternyata justru dapat menguntungkan pihak mitra dengan mengambilalih pekerjaan porsi kita dengan dalih membantu, padahal jelas-jelas mitra memperoleh keuntungan ekonomis dari delay yang terjadi itu.

Padahal kita juga terkadang mempunyai sistematika proses yang berbeda untuk menghasilkan output yang sama, namun posisi mitra yang nampak menjadi superior itu membuat aturan sistematika proses yang harus diikuti oleh kita yang tak terbiasa dengan caranya yang belum lazim dilakukan, kemudian kita dianggap tak mampu.

Hal ini menjadi sangat aneh karena esensi kerjasama adalah output. Bukan mengenai proses lagi, namun seolah diada-adakan untuk keuntungan mitra sendiri.

Sebagai contoh: orang yang menghasilkan batik tulis dengan menggunakan canting dan melukis batiknya dengan keahlian tangannya akan merasa aneh bila menggunakan teknologi batik cap. Dia sudah tahu caranya membuat batik cap, namun dia tidak bisa dipaksakan harus mengikuti proses membatik dengan mesin cap.

Toh, dengan batik tulis, hasil batiknya itu jadi lebih bagus dan bermutu tinggi ketimbang menggunakan batik cap. Konyolnya lagi, untuk hal sepele seperti ini, hasil yang bagus, namun sistematika proses yang dinilai gagal, dinyatakan gagal seluruhnya. Kemudian, porsi pekerjaan diambil alih oleh mitra.

Ketidakmampuan kita juga selalu dikaitkan dengan fasilitas yang jauh dibanding mitra, padahal terkadang mitra sudah mengetahui kelemahan kita sehingga kekurangan akan fasilitas ini dan itu menjadi alasan untuk menyatakan delay atau tidak mampu. 

Kemudian, kita terlena dengan posisi mitra yang seolah lebih maju, lebih canggih dan tahu mengenai hal-hal apa yang harus dilengkapi dan dibenahi oleh kita, padahal lagi-lagi akan menguntungkan mitra yang 'menjual' fasilitas itu kepada kita atas nama pemenuhan kebutuhan kerjasama. Kemudian makin mengada-ada dengan perihal yang diada-adakan lainnya.

Menjadi makin rumit lagi ketika mitra bilateral kita mempunyai budaya dengan tingkat rasisme yang tinggi sehingga merasa paling unggul dan merendahkan kita karena homogenitas mereka yang membudaya itu.

Ditambah lagi dengan filosofi untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya dari negara lain untuk kemakmuran mitra, padahal tindakan itu sangat jahat, namun budaya negara mitra sudah mengamininya dan membebaskan para pelaku dari dosa tipu-menipu negara lain itu sepanjang untuk kepentingan negaranya.

Padahal jelas-jelas itu sudah merugikan dan kita seolah membiarkan saja atau bahkan memakluminya bahwa 'tricky way' yang dilakukan oleh mitra adalah bagian dari toleransi kita akan budayanya.

Apalagi kebudayaan dari mitra, banyak sekali yang kita gandrungi dengan image yang begitu baik di media-media dan bahkan kita anut, padahal yang indah-indah itu belum tentu baik karena bisa saja merupakan hallo effect yang ternyata keliru atau pahit pada kenyataannya.


Dengan berbagai 'cara' yang dilakukan mitra secara sadar ataupun tidak, kita telah dirugikan baik secara materi ataupun mental, karena hal ini bukan saja mengenai uang, tapi juga mental kita yang cenderung menjadi tunduk terhadap mitra.

Padahal posisi kerjasama hendaknya sejajar dan saling menghormati, bukan menjadikan relasi itu adalah hubungan antara majikan dan buruh atau atasan dan bawahan. 

Mentalitas kita yang juga menilai bahwa orang asing sebagai mitra kita itu berada diatas dengan kemampuan mumpuni dan hebat saja jika kita bisa memenuhi seluruh kemauan mereka tanpa pertimbangan yang matang. 

Justru inilah yang akan membahayakan eksistensi negara kita di masa mendatang dimana pandangan bahwa semua orang asing itu niatnya baik terhadap kita sehingga kita terlalu baik dalam memperlakukan mitra, bahkan cenderung secara berlebihan, padahal itu sesungguhnya akan menciptakan bentuk imprealisme baru.

Apalagi dengan budaya kapitalisme dan materialisme yang dianut oleh mitra sehingga kita bisa saja menjadi ikut-ikutan terbawa dan hanyut akan jebakan budaya materialisme tersebut.

Untuk itu, pengambil keputusan hendaknya melihat secara jernih dalam menjalani hubungan bilateral antara negara ini karena ketidaksiapan kita mengenali budaya mitra yang justru akan menjerumuskan kita pada kerugian yang masif, bukan pada simbiosis mutualisme yang diharapkan.

Sebaiknya pengambil keputusan dapat menelaah kembali, melihat dengan 'bird eye's view' sehingga bisa membuat keputusan yang paling bijak karena hubungan kerjasama bukan hanya melulu tentang ekonomi dan perdagangan serta nilai investasi yang sangat tinggi, tapi juga hubungan budaya yang juga harus diperhatikan sebagai faktor keberhasilan atau kegagalan kerjasama.

Jangan hanya menilai negara itu baik karena tidak meninggalkan kita saat krisis dan nilai investasinya sangat tinggi, padahal kita tidak tahu pertimbangan apa yang diambil untuk bertahan saat krisis, apakah karena kita yang begitu gampang atau mau dibodohi sehingga bisa menguntungkan pihak mitra atau memang niatnya adalah membantu kita? Namun ada istilah 'Tidak ada makan siang yang gratis' sehingga hal ini perlu kita telaah bersama.

Bias lainnya adalah mengenai keunggulan mitra mengenai keberhasilan terhadap sesuatu hal menjadikan itu sebuah keberhasilan untuk semua bidang.

Padahal tidak bisa disamaratakan begitu. Jika si A pintar Pelajaran Matematika, ia belum tentu pintar Pelajaran Kimia. Karena hal itu harus dibuktikan dulu dengan nilai-nilai Kimia hariannya yang bagus. 

Begitu juga dengan keberhasilan mitra tidak bisa disamaratakan sehingga perlu dibuktikan. Sayangnya, ukuran keberhasilan untuk kerjasama riset atau penelitian kurang dapat diukur secara tangible dan intangible, namun membutuhkan biaya yang sangat besar karena sifatnya yang coba-coba tersebut.

Hendaknya pengambil keputusan berhati-hati dengan bentuk kerjasama seperti ini karena ukuran keberhasilannya yang sangat abstrak sehingga yang ada hanyalah claim atau asumsi yang dibenarkan.

Apalagi jika ukuran intangible pada output yang dikonversikan dengan nilai biaya tertentu, lantas biaya tersebut dapat dinaikkan atau dikurangi, kemudian ditambahkan atau dikurangkan pula outputnya. Padahal idealnya output dapat diukur secara realistis dan tangible karena biaya yang dikonversikan dari output intangible itu bisa saja hanya setengah nilainya, bukan penuh, sehingga ini adalah bentuk kecurangan yang kita tidak sadari.

Selain persoalan krusial itu, kita juga memang tidak siap dengan budaya mereka yang jauh berbeda. Sementara itu, mitra kita sudah siap dengan ribuan jeratan trik yang dipasang, entah itu dalam bentuk aturan, legal, bahasa ataupun permainan licik lainnya sehingga kita tidak bisa mencapai optimalisasi atau bahkan bisa menjadi sia-sia di masa depan.

Niat awalnya bekerjasama adalah meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kita, yang ada nanti malah kita mengeluarkan uang dan uang saja, tanpa hasil yang signifikan.


Tentu saja banyak orang yang pintar dan dapat menilai sehat atau tidaknya suatu kerjasama, sebaiknya hal ini diteruskan atau dihentikan saja untuk menghindari kerugian yang lebih besar lagi.

Namun kerusakan yang begitu masif bisa dibiarkan oleh karena oknum-oknum tertentu yang memang sudah diuntungkan dengan adanya kerjasama tersebut dan mereka menginginkan agar kerjasama ini terus berjalan, meskipun tidak sehat dan ditutup-tutupi seolah tak ada kendala teknis didalamnya.

Apalagi tingkat suap dan korupsi menjadi kebiasaan buruk yang masih diperangi oleh kedua negara sehingga mungkin saja kejahatan-kejahatan di bawah meja dilakukan mitra untuk melanggengkan kerjasama yang memang telah dikendalikan olehnya.

Harapan kita kemudian menjadi pupus untuk menimba ilmu dan pengetahuan dari mitra yang sudah menutup diri bahwa kita tidak mampu mensejajarkan diri dengannya, begitu juga dengan akulturasi budaya karena toleransi tidak terwujud.

Padahal dengan membuka kerjasama bilateral saya saja kita membuka dapur kita masing-masing, mitra akan melihat bagaimana atau cara kerja kita, perilaku dalam bekerja serta kebiasaan kerja kita. Jika mereka menutup diri sementara kita yang selalu menerima dengan tangan terbuka adalah hal yang salah.

Karena bisa saja mitra mengetahui kelebihan dan kekurangan kita, sementara mereka menutup diri rapat-rapat dengan jurus 'kalian akan mati kalau mengikuti cara kerja kami.' Padahal hal itu belum tentu kita tak mampu.

Sekali lagi, pembuat kebijakan harus berhati-hati dalam membuat keputusan karena kerjasama bukan hanya menyangkut hubungan kedua negara. Namun juga, mengenai masyarakat kedua negara.

Optimisme terhadap suatu hubungan  itu selalu ada, tapi apabila memang hubungan kerjasama itu sudah benar-benar merugikan negara, sebaiknya kita akhiri dengan cara yang baik. 

Dalam hubungan rumah tangga saja pasangan bisa bercerai dan kedua pihak masih dapat berhubungan dengan baik. Semua tergantung bagaimana menyikapinya, sehingga apabila kerjasama merugikan, hentikan saja, namun sikap kita berdiplomasi dengan baik untuk menjaga hubungan baik kedua negara dapat terus dilakukan.

Artikel Terkait