Kasus Novel lagi-lagi bikin penulis sebagai mahasiswa hukum yang jarang banget ngomongin hukum di luar kelas pembelajaran kembali menyesal. Bukan karena salah jurusan; jujur saja, alasan penulis kuliah hukum karena kisah Raja Salomo di dalam Kitab Suci.

Ketika masih kecil, kala penulis masih rajin sekolah minggu dan belum terdoktrin dengan berbagai macam pemikiran yang pada akhirnya bikin mbalelo, penulis sangat terkesima sekali ketika kakak sekolah minggu menceritakan kisah Raja Salomo tentang hikmat kebijaksanaannya.

Salah satu ceritanya jelas kita ingat semua, soal bagaimana cara dia menemukan seorang ibu kandung dari 2 ibu yang sama-sama memperebutkan bayi yang sama. Singkatnya, si ibu A maupun B tinggal se-rumah dan sebenarnya sama-sama memiliki bayi. Tapi bayi salah satu dari mereka meninggal karena kecerobohannya sendiri.

Akhirnya, karena melihat sebuah peluang, ia mencuri bayi dari ibu yang lain lalu menukarnya dengan bayinya yang sudah mati itu. Kasus ini pun terdengar sampai ke Raja Salomo, Raja yang terkenal karena kebijaksanaannya kala itu. Bahkan Ratu negeri Syeba saat itu pun sangat-sangat mengagumi hikmat yang Salomo miliki.

Dengan hikmat yang dia punya, jelas ini bukan perkara sulit untuk menemukan siapa ibu kandung yang sebenarnya. Dengan sebuah pernyataan, perdebatan soal siapa ibu kandung bayi itu dengan mudahnya terselesaikan. Apa pernyataan tersebut?

“Gini aja deh, tuh anak bagi 2 aja,” ujar Raja Salomo.

Ada seorang ibu berkata, “Oke, gapapa, kita bagi 2 aja.”

Lalu ibu yang lain meminta ampun ke Raja Salomo sambil berkata, “Jangan, tolong jangan. Biarkan saja anak itu menjadi milik dia.”

Dari kisah ini, kisah perebutan bayi tersebut, kalau dari sudut pandang hukum masa kini, jelas tak ada 2 alat bukti atau lebih yang dapat membuktikan terjadi kasus pencurian bayi. Kalau mau lihat dari situasi sekarang, hanya ahli forensiklah yang bisa membuktikan terjadinya pencurian bayi untuk menemukan ibu kandungnya dan itu pun harus lewat tes DNA.

Zaman Raja Salomo boro-boro ada tes DNA, Daud aja masih pakai batu buat mengalahkan kedigdayaan Goliat. Nah ini yang sangat-sangat bikin gue tertarik kuliah hukum daripada kuliah politik, meskipun benar-benar jatuh cinta sama politik tapi gue tidak punya dalil untuk membuktikan kenapa harus kuliah politik.

Raja Salomo kala itu tak perlu berdalil, ia pun tak perlu membuktikan pula. Dia hanya perlu menimbang untuk menemukan siapa ibu sebenarnya lewat sebuah pernyataan. Sebagai hakim yang baik, dia hanya perlu mendengarkan argumen dari kedua belah pihak.

Seorang ibu palsu, dia akan biasa saja ketika yang bukan anaknya dibunuh begitu saja. Beda lagi si ibu kandung, dia tidak akan tega anaknya terbagi dua. Pilihan si ibu kandung jelas memiliki dalil yang tak terbantahkan. Ia sengaja membiarkan anak kandungnya untuk tetap hidup meskipun bukan dia lagi yang memilikinya.

Dalam konteks hari ini, penyiraman Novel Baswedan pun memiliki fakta yang terbantahkan. Ia dengan sengaja dianiaya lewat penyiraman air keras yang pada akhirnya perbuatan si pelaku harus ditanggung Novel seumur hidupnya. Analoginya gini deh, kalo memang itu ga sengaja, kenapa mesti air keras yang akhirnya bikin Novel buta seumur hidup?

Bobroknya sistem hukum di Indonesia lagi-lagi dipertontonkan dengan jelasnya. Selama pandemi Covid-19, banyak kebijakan dan narasi menteri yang bikin kita tertawa sampai sakit perut. Tetapi lawakan Jaksa Penuntut Umum dalam kasus penyiraman air keras ke Novel Baswedan jelas bikin kita sakit perut, sakit hati, sekaligus menangis miris melihatnya.

Di satu sisi, melihat tuntutannya, kita tertawa sampai sakit karena kok bisa-bisanya si pelaku cuma dituntut 1 tahun; padahal kalau mau ditarik lebih dalam, si pelaku sebenarnya bisa saja dituntut hukuman maksimal. Memangnya tindakan pelaku (anggota Polri aktif) yang seharusnya melindungi malah mencederai bisa dibenarkan secara hukum?

Kenapa sakit hati, karena pada akhirnya kita menyadari bahwa hukum itu baik secara teori tapi jahat secara praktik. Niat awal ingin berbaik sangka, saat belajar hukum malah ditemukan dengan realitas hancur dan bobroknya sistem hukum negara kita.

Lalu kenapa kita menangis miris, karena kasus Novel adalah kasus kesekian yang akhirnya tak menemukan keadilan. Keadilan seharusnya ditegakkan, bukan malah jadi bahan tertawaan seisi bangsa. Marwah Kejaksaan Agung jelas sudah terlecehkan lewat kelakuan oknum jaksanya.

Singkatnya, penulis memang menyesal kuliah hukum. Menyesal untuk berhenti memang sesuatu pilihan yang realistis dan pasti. Tetapi, memilih opsi itu sama saja membiarkan negara kita ini makin jatuh ke dalam lubang hitam yang kelam. Lubang hitam yang “sengaja” dibuat untuk beberapa hal.

Salah satunya ya untuk mempermainkan hukum, memilih melawan arus yang ujung-ujungnya mati jua atau mengikuti arus demi bertahan hidup yang ujung-ujung-ujungnya mati jua? Jelas, opsi pertama harus diambil: melawan arus. Kalau bukan kita yang memperbaiki, siapa lagi?

Memilih Raja Salomo menjadi panutan di tengah bobroknya sistem hukum kita jelas sebuah keniscayaan yang fana. Hikmat yang ia punya pun tak sembarangan orang punya. Tetapi niat baik Salomo, semua orang bisa memiliki. Niat untuk mengadili, melihat mana perkara baik dan buruk, jelas harus diteladani setiap mahasiswa hukum.

Meski begitu, Raja Salomo bukan tanpa dosa. Hawa nafsu jelas jadi musuh bersama. Sebaik apa pun niat kita ketika nafsu menguasai, Hikmat dari Tuhan sekalipun akan sia-sia di tangan manusia.