Lafran Pane adalah pemrakarsa berdirinya HMI, organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia yang didirikan pada 5 Februari 1947. Menurut Prof. Dr. H. Agus Salim Sitompul, jika dirumuskan secara spesifik, fondasi pemikiran berdirinya HMI terfokus pada 8 faktor, yaitu:

1) Penjajahan Belanda atas Indonesia dan tuntutan perang kemerdekaan; 2) Kesenjangan dan kejumudan umat Islam dalam pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan serta pengalaman agama Islam; 3) Kebutuhan akan pemahaman dan penghayatan keagamaan 4) Munculnya polarisasi politik; 5) Berkembangnya paham dan ajaran komunis; 6) Kedudukan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis; 7) Kemajemukan bangsa Indonesia; 8) Tuntutan modernisasi dan tantangan masa depan.

Jika kita terjemahkan secara singkat, sejak awal berdirinya, HMI adalah organisasi yang tidak mempertentangkan antara kebangsaan dan keislaman. Bagi Lafran Pane, mendapatkan alam kemerdekaan itu begitu penting, mengingat pembelajaran Islam tidak akan berkembang sepenuhnya jika tidak ada kebebasan di dalamnya. 

Pandangannya itu, tentu saja, dipengaruhi oleh situasi historis-politis di mana saat itu Belanda kembali mencoba untuk menguasai Indonesia.

Dengan demikian, memilih menjadi kader HMI artinya menjadi kader umat dan kader bangsa, suatu hal yang secara konsisten diperjuangkan oleh Lafran Pane. Kata "konsisten" ini adalah kata pertama yang bisa kita teladani dari sosok Lafran Pane ini, di mana beliau adalah orang yang teguh dalam pendirian untuk memperjuangkan nilai-nilai kebenaran.

Tak hanya itu, Lafran Pane adalah sosok intelektual sejati. Oleh sebab itu, HMI, organisasi yang diprakarsainya mendeklarasikan diri sebagai organisasi yang independen. Sebagai derivasi dari itu, kebenaran menjadi ruh moral yang menjadi penggerak HMI, bukan berdasarkan suatu kepentingan politik praktis.

Secara personal, hal tersebut sudah ditunjukan oleh Lafran Pane dalam wujud yang konkret. Sikap-sikapnya, baik yang berimplikasi menguntungkan otoritas pemerintah maupun tidak menguntungkan pemerintah, didasarkan oleh nurani dan kebenaran, bukan karena iming-iming jabatan.

Hal itu bisa dilihat bagaimana ketika Lafran Pane berpidato dalam pengukuhannya sebagai guru besar IKIP Yogyakarta tahun 1970. Beliau mengemukakan dengan yakin bahwa UUD 1945 dapat diubah, pidato yang tergolong melawan mainstream pada zaman Orde Baru. Tetapi pada 1980-an, di mana wacana asas tunggal muncul, beliau mengatakan tak menolak Pancasila dan sudah barang tentu hal tersebut berimplikasi "menguntungkan" otoritas pemerintah.

Lafran Pane pun mengajarkan kepada kita bahwa inti dari organisasi kemahasiswaan adalah perkaderan. Oleh sebab itu, kualitas menjadi nilai fundamen utama. Kualitas dari perkaderan tercermin dengan kritisisme yang seharusnya terpatri dalam diri setiap kader HMI, kritis menyikapi fenomena yang berkembang, baik soal keumatan, kebangsaan, maupun kemanusiaan.

Dengan demikian, HMI akan mampu melahirkan apa yang disebut oleh Ali Syariati sebagai rausyan fikr, yakni intelektual-intelektual, pemimpin-pemimpin yang memang memahami historisitas maupun fenomena sosial kultural dan juga politis yang berkembang.

Menjadi catatan penting juga untuk kita semua bagaimana seorang Lafran Pane yang mempunyai sifat zuhud, beliau adalah sosok yang teramat sederhana. Sekalipun HMI yang diprakarsainya menjelma menjadi organisasi besar, bahkan pada tahun 60-an, 70-an, dan 80-an, banyak alumni HMI menduduki posisi-posisi strategis, tapi beliau tidak memanfaatkan statusnya sebagai pendiri HMI untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Bahkan beliau terkesan menghindari disebut sebagai pendiri HMI, karena dikhawatirkan dapat menimbulkan riya.

Beliau teramat rendah hati. Dengan luasnya keilmuan beliau, terlebih lagi statusnya sebagai guru besar tata negara, tetapi beliau tetap dikenal sebagai orang yang senantiasa mencintai ilmu dan selalu mau terus belajar, beliau teramat giat membaca.

Bayangkan, orang dengan status pendiri HMI, di mana banyak junior-juniornya yang mendapatkan posisi strategis, terlebih lagi statusnya sebagai guru besar, tetapi setiap kali datang ke kampus untuk mengajar, beliau selalu mengenakan sepeda onthel. Hingga akhir hayatnya, beliau tinggal di rumah dinas. Padahal kalau beliau mau, tentu hal yang mudah jika beliau ingin mengejar uang ataupun kekuasaan.

Menjadi catatan kritis untuk kita semua, terutama untuk kader HMI. Jika sosok Lafran Pane yang jasanya begitu luar biasa saja baik bagi HMI, pemikiran keislaman maupun bangsa, tapi beliau tidak menjadikan HMI sebagai kendaraan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, tentu memuakan ketika kita melihat realitas bagaimana kader HMI saling sikut untuk mendapatkan jabatan tertentu.

Semakin memuakkan lagi, ketika keinginan atau hasrat mendapatkan jabatan itu, tak dibarengi dengan kompetensi yang mumpuni. Kita harusnya malu pada Lafran Pane, mengingat sosok seluar biasa beliau, tapi beliau tak silau dengan jabatan, apalagi sampai menyalahi etika untuk mendapat kekuasaaan.

Tulisan atau refleksi ini saya tujukan bukan hanya untuk kader HMI, tetapi juga generasi muda pada umumnya, karena kita memang perlu menggalih nilai-nilai keteladanan, salah satunya dari sosok Lafran Pane ini, seorang yang juga telah dianugerahi pahlawan nasional.

Tapi tentunya, secara khusus, tulisan ini semestinya bisa menjadi refleksi kritis bagi kader HMI secara khusus. Pertanyaan saya, "akankah Lafran Pane menangis ketika menyaksikan bagaimana dinamika HMI hari ini? terlebih lagi ketika terjadi panasnya persaingan perebutan kekuasaan dari tingkat cabang hingga PB?"

Daftar Pustaka

Satria, H. Wibawa. Lafran Pane, Jejak Hayat dan Pemikirannya. Jakarta: Penerbit Lingkar. 2010