Sang musisi petarung, itulah setidaknya kesan yang timbul di benak saya saat mendengar nama Daway Band yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan di kalangan masyarakat, fakta bahwa musisi ini memiliki perjuangan yang cukup panjang dalam dunia musik. Fakta tersebut terlihat dari sejarah berdirinya Grup ini.

Band ini dibentuk pada 1999 silam di Medan. Ternyata, perjalanan band ini tidak semulus yang mereka bayangkan, karena beberapa personil hijrah ke ibu kota Jakarta membuat band ini sempat vakum. Namun pada 2020 lalu kembali bangkit dan langsung merilis dua lagu baru mereka. Lagu tersebut di respon baik oleh masyarakat dan tak heran jika banyak media nasional yang ikut menyorot.

Formasi grup band ini adalah Andy Sitepu sebagai vokalis, Iag Gulo sebagai gitaris sekaligus arranger, Moh. Ashraf sebagai bassis dan Sahat Nainggolan sebagai drummer.

Sejarah singkat perjalanan Daway Band yang di ceritakan salah satu personil band tersebut.

Sekitar tahun 1999, Iag Gulo bersama teman-temannya mendirikan band yang di berikan nama "Daway" Personil pada saat itu hanya bertiga saja yaitu Andi R. Sitepu abagai Vocalis, Muhammad Ashraf sebagai Bass dan lag Gulo sebagai Gitaris. Lagu-lagu ciptaan yang di rekam di studio dalam bentuk demo. Bulan September 2001 dengan keputusan yang matang meninggalkan bangku kuliah, mereka bertiga berangkat ke Jakarta berbekal demo lagu yg telah direkam di studio, untuk  berjuang di jakarta.

Perjuangan yang tidak mudah, beberapa produser rekaman saat itu tidak memberi jawaban yang memuaskan bagi band mereka dengan macam-macam alasan. Sempat ada tawaran dari sebuah label besar saat itu. Salah satu lagu mereka di minta untuk bergabung di album kompilasi yang akan mereka produksi. Cuma pembicaraan tidak berkelanjutan.

Di sela-sela itu, kami dapat telpon dari seorang produser lokal dari Medan, yang sangat serius ingin memproduseri album mereka. Mereka dipaksa untukk segera balik ke Medan, agar proses penggarapan album langsung dimulai.

Hanya saja saat itu, mereka (khususnya Iag Gulo) kurang begitu minat ditangani oleh produser lokal dengan berbagai pertimbangan teknis dan karena saat itu mereka hanya ingin fokus berjuang di Jakarta.

Akhirnya, perjuangan selama di Jakarta untuk sementara terhenti. Dua personil band  balik ke Medan terus melanjutkan kegiatan bermusik dan aktif ikut di ajang-ajang festival/pagelaran musik, sementara Iag Gulo masih tinggal di jakarta melanjutkan kegiatan bermusik dengan beberapa band.

Setalah sempat berpisah tepatnya pada tahun 2009 silam mereka kembali merekam ulang lagu-lagu Daway setelah Iag Gulo balik ke Medan.

Jika dulunya posisi drumer tidak pernah menetap di formasi 2009, mereka memasukkan seorang drumer yaitu Sahat. Mereka kembali melanjutkan peruntungan di Jakarta  dengan materi lagu-lagu yang baru mereka direkam. Sayangnya, perjuangan kali ini pun belum juga membawa hasil. Karena, tampaknya produser-produser di Jakarta, seperti tidak begitu berminat melirik band2 dari Kota Medan. Akhirnya, Daway Band ini vakum.

Namun, pada tahun 2020 lalu mereka kembali bangkit dan merilis dua lagu berjudul "Yang Kulupakan" dan "Terlalu Cinta" lagu tersebut di terima dengan baik oleh masyarakat.


Fakta di atas kemudian menggelitik benak saya, ketika kemudian membayangkan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Namun muncul pertanyaan, Bagaimana kita bisa belajar dari daway band tentang perjuangan?

Ada beberapa alasan mengapa perlu belajar banyak hal tentang  perjuangan dari sosok band yang satu ini dan saya juga menjadikan kisah mereka sebagai inspiratif.

Pertama, semangat dalam berjuang. Band asal sumatera utara ini mengajarkan bahwa setiap perjuangan tidak ada yang sia-sia.

Hal ini dapat di lihat lewat sosok Iag Gulo dengan gigih dan semangat  membangkitnya kembali grub band tersebut. Disini dapat kita artikan bahwa "setiap orang boleh mengalami pahit dalam setiap perjalanan hidup. Tetapi, dia tak boleh berhenti dan tak boleh kehilangan apa yang di impikanya."

Kedua, bersaing sehat. Ditengah ketatnya persaingan musik di indonesia Daway Band mengajarkan kita bahwa setiap penyanyi memiliki strategi tersendiri sebelum terjun ke dunia hiburan. Dalam hal ini Daway Band mampu menyiapkan karyanya sendiri, agar bisa bersaing di industri musik indonesia.

Ketiga, melahirkan karya baru. Jadi, seorang musisi dalam  melahirkan karya harus mampu menciptakan  karya seni tersendiri. Namun di era digital ini mengcover lagu populer yang kerap di lakukan  dan mengunggahnya di media sosial. Cara seperti ini kerap digunakan untuk menunjukkan kebolehan di dunia tarik suara. Sangatlah berbeda dengan Daway Band yang mampu menciptakan karyanya sendiri.

Pandangan saya, kisah perjuangan Daway Band ini sungguh inspiratif dan ini bisa kita contoh di dunia musik. Karena kita harus menyadari setiap perjuangan pasti membuahkan hasil, terlebih lagi ketika kita lakukan dengan sungguh-sungguh.