Sebagai salah seorang pelajar ilmu-ilmu rasional, saya suka menyimak ceramah-ceramah seorang pemikir Muslim terkemuka asal Palestina yang bernama Adnan Ibrahim. Selain ahli dalam ilmu-ilmu keislaman, pemikir yang satu ini mahir sekali dalam menguraikan gagasan-gagasan para filsuf besar, baik Muslim maupun Barat, dengan uraian yang cukup memukau.

Dari beberapa ceramahnya, saya mulai paham tentang sejumlah pemikiran para filsuf Muslim seperti al-Ghazali, Ibn Rushd, Mulla Shadra, Thaba' Thaba'i, Baqir Shadr, dan Murtadha Muthahhari. Dan dari beberapa ceramahnya pula saya mulai mengenal sekaligus menikmati pemikiran-pemikiran besar dari orang-orang seperti Immanuel Kant, Descartes, Leibniz, David Hume, John Locke, dan para filsuf besar yang lain.

Apabila Anda seorang pemula dalam pembelajaran filsafat, dan Anda berharap agar bisa menyukai bidang tersebut, saya sarankan Anda untuk menyimak silsilah ceramahnya yang berjudul Silsilah al-Ta'rîf bi al-Mabâhits al-Falsafah

Jika Anda ingin mengenal lebih dalam tentang pemikiran Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H)—salah satu raksasa intelektual terbesar dalam sejarah Islam—dengan uraian yang mengasyikkan, Anda bisa simak silsilah ceramahnya yang berjudul al-Bâhits 'an al-Haqîqah

Kalau Anda ingin tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan isu ateisme, dengan sederet nama filsuf yang bersinggungan dengan isu tersebut, dia punya silsilah ceramah yang berjudul Mithraqat al-Burhân wa Zujâj al-Ilhâd.

Jika Anda seorang penikmat sains, dan Anda tertarik dengan teori evolusi Darwin, Adnan juga punya silsilah panjang tentang isu itu. Bahkan Adnan secara terang-terangan mengamini teori yang dicetuskan oleh Darwin, tetapi dengan tetap berpijak pada teks-teks suci yang dia imani. 

Di luar sana masih banyak silsilah-silsilah ceramah lain yang mengemas berbagai macam tema, baik seputar filsafat, teologi, sains, sejarah, maupun ilmu-ilmu keislaman yang lain. Alhasil, di mata saya, Adnan adalah sosok pemikir ensiklopedis (mufakkir mausû'i) yang cukup langka untuk kita jumpai di era sekarang.   

Kecerdasannya yang luar biasa, uraiannya yang memukau, ketangkasannya dalam berdalil, bahasa Arabnya yang fasih, ditambah dengan paras wajahnya yang tampan dan rupawan, membuat saya betah ketika duduk berjam-jam untuk menyimak ceramah-ceramah yang ia sampaikan. 

Tidak jarang ceramah-ceramahnya itu saya simak ketika saya sedang masak, sebelum tidur, atau ketika saya berada dalam suatu perjalanan. Meski tak pernah berjumpa, tetapi, terus terang, dan tanpa berlebihan, saya harus katakan bahwa dia sudah menjadi salah seorang inspirator nyata dalam kehidupan intelektual saya.

Saking dalamnya kekaguman saya, berkali-kali saya mimpi bertemu beliau. Dalam mimpi terakhir, saya melihat beliau duduk di samping saya dalam sebuah mobil. Lalu, di tengah perjalanan, saya sempat berkata begini: 

"Sayyidi Adnan, al-Istima' ila muhâdharâtika shara indi wirdan yaumiyyan!" (Yang mulia, tuan Adnan, mendengarkan isi ceramah Anda sekarang sudah menjadi wiridan setiap hari saya!).

Mendengar ucapan itu, Adnan hanya tersenyum, dengan senyumannya yang khas. Saya tahu mimpi itu hanya ilusi dan khayalan. Tetapi, layaknya seorang pengagum, apa pun peristiwa yang melibatkan orang yang dikagumi itu akan selalu meninggalkan kesan. 

Harus saya akui bahwa secara tidak langsung sosok Adnan telah memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan intelektual saya. Berkali-kali saya dibuat kagum dan terpukau oleh kedalaman wawasan dan keluasan bacaannya.

Darinya saya belajar tentang kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, dan darinya pula saya sadar bahwa menjadi seorang cendekiawan itu tak hanya cukup dengan mengunyah buku-buku turats yang telah diwariskan oleh para raksasa Islam. 

Seorang cendekiawan sejati harus mampu memperluas bacaan. Kalau perlu, semua buku, dari mulai yang paling "hitam" sampai yang paling "putih", harus dikunyah sebaik mungkin. Itu kalau Anda mau menjadi intelektual sejati.   

Dan perlu Anda ketahui, Adnan sendiri termasuk orang yang gila baca. Ya, gila baca. Meski sudah berkepala sembilan, dia masih rajin membaca. 

"Bahkan sering kali saya mengasuh dan mengajak anak bermain sambil membaca. Saya membaca dan menulis, sementara mereka asyik bermain di hadapan saya. Dan saya tidak merasa terganggu dengan hal itu," kata dia dalam suatu wawancara. 

Kalau Anda mengintip isi rumahnya di kota Vienna, jangan kaget kalau rumah tempat ia tinggal penuh sesak dengan buku-buku. Sebagian besar waktunya tersita untuk membaca. Bahkan kadang, kata dia, dalam sehari dia tidak sempat untuk makan. Untuk apa? Untuk baca buku. Ya, baca buku.

Dan Anda tidak perlu kaget dengan hal itu. Buktinya kalau ada orang main game berjam-jam sampai lupa makan kita biasa-biasa saja. Orang yang gila baca juga begitu. Begitulah orang kalau sudah mencintai ilmu.  

Sayangnya, dengan keluasan wawasan yang dimilikinya, Adnan tak banyak mewariskan karangan. Mengapa orang sepintar itu tak banyak menulis karya? Lagi-lagi jawabannya, kata dia, "karena waktu saya habis untuk membaca!" Dan saya tidak begitu tertarik untuk menulis buku."

Yang lebih membuat saya kagum lagi ialah: Adnan ini, kalau saya amati, hampir mirip dengan Abbas Mahmud al-'Aqqad, yang dikenal sebagai autodidaktor sejati. Dia meraih itu semua tanpa bergantung pada banyak orang alias belajar secara mandiri. Sudah terbayang, seperti apa kecerdasan orang itu.

Terlepas dari beberapa kontroversi yang pernah dibuatnya, saya kira, semangat dan kecintaan Adnan terhadap ilmu pengetahuan, dengan berbagai macam bidangnya, perlu kita teladani. Ada beberapa pandangan-pandangan keagamaan Adnan yang saya sendiri tidak setuju, bahkan mungkin saya tolak keras. 

Tetapi, bukan pelajar sejati namanya kalau tidak mampu melihat madu di atas tumpukan racun. Banyak sekali hal positif yang bisa kita simak dan kita pelajari dari Adnan, salah satunya ialah kegilaannya dalam membaca.

Memangnya kenapa orang seperti itu harus kita tiru? Kalau suatu waktu Anda bertanya-tanya: kenapa sih suka ada ustaz-ustaz di Indonesia yang cara berpikirnya dangkal, suka membuat kontroversi nggak jelas, mudah menyalahkan orang, dan mudah terhasut dengan fitnah, padahal mereka itu pintar berdalil dan mahir mengutip ayat? 

Maka jawaban pastinya hanya ada satu, yaitu karena mereka jarang membaca. Kadang mereka pintar berdalil, tetapi tidak tahu cara yang benar dalam berpikir. Kalau saja mereka rajin membaca dan mendalami ilmu-ilmu rasional secara matang, seperti Adnan, niscaya petuah dan ceramah-ceramah mereka akan lebih sehat dan lebih nikmat untuk disimak.

Coba saja Anda bandingkan ustaz-ustaz yang banyak menulis karya dengan ustaz-ustaz yang rajin berdemo di jalan raya. Seperti apa isi ceramahnya? Anda sudah tahu sendiri jawabannya. Begitulah kalau orang jarang membaca. Alih-alih memberikan ketenteraman, yang ada hanya membuat kerusuhan.  

Sebetulnya, kalau kita berharap negeri kita maju, tenteram, dan damai, caranya sangat mudah: gelorakanlah semangat membaca buku setinggi-tingginya. Kalau rakyat sudah rajin baca, sekian banyak persoalan yang memusingkan kepala itu akan tuntas dengan sendirinya. Lihat saja negara yang sudah terbilang maju, lalu lihatlah sejauh mana ketergantungan masyarakatnya terhadap buku.

Saya merindukan orang-orang seperti Adnan Ibrahim di Indonesia. Orang yang tidak hanya mahir berdalil, tetapi juga cakap berpikir. Tidak hanya ahli dalam ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga pandai dalam menguraikan ilmu-ilmu kemodernan. 

Bukan saja mahir dalam beretorika, tetapi juga ahli dalam menggunakan kaidah-kaidah logika. Tak hanya berpijak pada tradisi keilmuan Islam klasik, tetapi juga mampu membaca tradisi keilmuan Barat dengan baik.

Dalam memajukan suatu negara, kita tidak terlalu butuh pada orang-orang pintar yang tidak memiliki akhlak. Tetapi kita akan selalu butuh pada orang-orang berakhlak yang memiliki kepintaran. Karena di samping mampu menularkan kecerdasan, orang-orang seperti ini bisa kita jadikan sebagai teladan. 

Dan saya melihat keteladanan itu pada diri seorang Adnan. Karena itu, jika kita berharap negeri kita berada dalam kemajuan, salah satu solusinya ialah: perbanyaklah orang-orang seperti Adnan, yang memiliki kegilaan dalam melahap ilmu pengetahuan!