Kita sering merasa bosan dengan kata “Matematika”. Pasalnya, kini matematika hanya berisikan rumus-rumus dengan keruwetannya sehingga menjadikan banyak yang malas untuk mempelajarinya. Apalagi sistem pengajaran yang diterapkan jarang memberi bukti konkret pada kehidupan sehari-hari. 

Sejatinya, matematika memiliki andil besar dalam kehidupan alam semesta ini. Karena setiap gerak gerik manusia tak lepas dari bilangan angka.

Matematika sudah dicetuskan oleh salah satu bapak filsafat, yaitu Pythagoras. Menurut Pythagoras, angka adalah perwujudan kesempurnaan yang menjaga alam semesta. Alam semesta diatur dan diciptakan (created) dengan perbandingan-perbandingan (ratio). 

Harmoni angka terwujud dalam perbandingan-perbandingan yang membentuk alam semesta, sehingga angka hakikatnya adalah inti tertinggi atas realitas dan sebagai perwujudan dari Yang Sakral (Tuhan).

Kaum Pythagorean atau segerombol manusia yang kala itu sering berdiskusi dengan Pythagoras memercayai bahwasanya angka itu sakral. Mereka memiliki kredo bahwasanya number rules the universe

Setiap angka mewakili realitas tertentu. Misal angka satu melambangkan asal mula segala hal, sedangkan nomor dua mewakili materi. Angka tiga adalah "bilangan ideal" karena memiliki awal, tengah, dan akhir, dan juga merupakan angka terkecil yang jika dijadikan titik dapat membentuk sebuah segitiga, yang dihormati oleh penganut pythagoreanisme sebagai simbol dewa Apollo. 

Angka empat adalah lambang empat musim dan empat unsur. Angka tujuh juga dianggap suci karena merupakan jumlah planet. 

Selain itu, ada beberapa angka yang memiliki sifat tersendiri, seperti angka “2” bersifat maskulin, angka “3” bersifat feminin, dan angka “5” bersifat pernikahan. Karena angka lima adalah hasil penjumlahan dari “2+3”.

Terlepas dari kredo para penganut pythagoreanisme, masyarakat Jawa kuno juga memiliki kepercayaan tersendiri terhadap angka. Setiap hendak melaksanakan perhelatan seperti pernikahan atau hajatan selalu memperhitungkan tanggal dan hari. Hal tersebut sering disebut dengan kata Sengkala. 

Sengkala atau sengkalan adalah angka tahun yang disimbolkan dengan kata-kata, gambar, atau benda. Sengkala dapat terwujud, karena dalam budaya Jawa masing-masing benda, sifat, atau kondisi alam memiliki angka.

Kalender Jawa yang dibuat pertama kali oleh Mpu Hubayun pada tahun 911 sebelum masehi merupakan satu bukti konkrit bahwasanya orang Jawa kuno sudah mempelajari matematika dan memberikan filosofis terhadap setiap bilangan angka. 

Kalender Jawa yang dibuat Mpu Hubayun pada masa itu berdasar pada “Sangkan Dumadhining Buwana” (Asal-usul / isi semesta). Setelah itu, kalender Jawa diperbarui oleh Sultan Agung dengan berdasarkan pada kalender Islam guna memudahkan masyarakat jawa dalam memahami agama Islam melalui penanggalan kalender.

Selain dari kebudayaan Yunani kuno dan masyarakat Jawa kuno, Islam juga memiliki daya tarik khusus terhadap bilangan angka matematika. Alquran mengaitkan operasi angka-angka pada QS. Al-A’raaf ayat 142:

“Dan kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam.”

Angka yang disebutkannya itu angka 30 dan 10, sedangkan operasi matematika yang dilakukan adalah penjumlahan yang menghasilkan angka 40 sehingga 30 + 10 = 40. Allah SWT juga tak dapat lepas dari bilangan tunggal yang artinya Allah itu satu. 

Jika dikaitkan dengan sakralitas angka menurut Pythagoras, angka satu merupakan titik dalam pentagram. Titik merupakan permulaan dari apa pun. Bahkan setiap kalimat dalam paragraf juga harus diakhiri dengan titik. 

Melihat realitas tersebut, titik bisa dikatakan permulaan dan akhiran yang bisa diqiyaskan bahwasanya titik adalah perlambangan dari angka satu dan merupakan sangkan paraning dumadhi dari segala keadaan.

Terdapat kesamaan konsep terhadap pemaknaan angka. Baik secara filsafat, budaya, maupun agama. Tetapi di era sekarang, hal semacam ini makin tenggelam dari peradaban. 

Angka-angka selalu identik dengan pelajaran matematika yang membingungkan. Padahal jika seorang ahli matematika kemudian dikorelasikan dengan ketiga hal di atas, bisa menjadikan hubungan vertikal manusia dengan tuhan makin kuat dan juga hubungan horizontal terhadap sesama manusia juga makin erat.

Banyak lagi rahasia-rahasia angka yang masih belum bisa penulis kupas karena kurangnya sumber relevan untuk menggali hal-hal menarik tersebut.