Buku adalah jendela dunia. Kalimat klasik yang sering kita dengar bukan? Namun kita kerap tidak memahami secara jelas arti “jendela dunia” dalam kalimat tersebut. 

Kegiatan membaca buku merupakan suatu cara untuk membuka jendela yang tertutup dimana kita bisa mengetahui lebih tentang dunia yang belum kita tahu sebelumnya. Kegiatan membaca tentunya dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja.

Seperti yang kita tahu di jaman yang serba canggih seperti sekarang ini, sudah jarang kita temui penggemar buku yang kesehariannya meluangkan waktu untuk membaca beberapa halaman atau bahkan menghabiskan satu buku dalam sekali duduk. 

Canggihnya teknologi menjadi salah satu pemicu menurunnya literasi membaca buku, serta hadirnya media yang lebih praktis untuk mendapatkan informasi seperti televisi, radio, maupun media internet. 

Bahkan beberapa aplikasi di ponsel pintar telah menggantikan buku fisik menjadi buku dalam bentuk digital, atau yang biasa disebut e-book.

Saya pernah ditanya seberapa berpengaruh sih buku yang kamu baca? Bingung. Itu hal yang pertama saya lakukan. Bingung karena terlalu banyak pengaruhnya hingga sulit untuk saya utarakan secara langsung. 

Salah satu hal yang membuat saya menyukai membaca buku adalah bagaimana buku membawa perubahan dalam pandangan saya terhadap suatu hal. Merubah pandangan tidak cukup dengan membaca satu buku saja.

Pandangan kita berubah pelan-pelan seiring dengan bertambahnya jumlah buku yang kita baca. Ada satu, dua, atau bahkan lebih buku yang mungkin dapat menggoncang diri  begitu kerasnya, sampai cara hidup dan gaya berpikir dapat berubah drastis karenanya.

Ada satu ilustrasi yang saya susun sendiri di kepala saya untuk menjawab efek samping dan pengaruh buku yang kita baca.

Mari kita bertanya pada Tyrion Lannister.

“Mengapa kamu sangat rajin membaca?” Jon Snow bertanya kepada Tyrion. Tyrion menoleh keatas. Menutup bukunya dan berkata “Pikiranku adalah senjataku. Saudaraku memiliki pedangnya, Raja Robert memiliki Warhammer-nya, dan saya memiliki pikiranku. Dan sebuah pikiran memerlukan buku seperti halnya sebuah pedang memerlukan batu asahan, untuk menjaga ketajamannya.”

Apakah Tyrion benar? Tidak juga. Lantas?

Biar ku beritahu kalian alasannya..

Tyrion merasa pikirannya semakin tajam seiring banyaknya buku yang ia baca. Tyrion mungkin menjadi orang yang tidak terkalahkan dalam berbagai perdebatan, mendapatkan reputasi sebagai orang brengsek (jelas bukan reputasi yang baik).

Singkatnya membaca rasanya sangat enak. Meskipun begitu, seperti hal lainnya yang terasa nikmat, selalu ada yang namanya ‘efek samping’. Begitu pula dengan membaca.

Begini, ketika kita membaca, kita sedang ‘mengunduh’ informasi. Namun belum memasangnya. Jadi bagaimana kita memasangnya? Dengan berlatih melakukannya. Tapi disitulah permasalahannya..

Semakin banyak kita membaca, semakin sedikit kita ingin mempraktikannya. Tahu nggak mengapa? Karena kita akan selalu merasa kita tidak ‘cukup’ tahu.

Dan itulah efek samping dari membaca. Sebelum membaca, kita berpikir bahwa kita tahu segalanya. Namun, ketika kita mulai membaca, kita mulai menyadari betapa banyaknya yang kita tidak tahu. 

Dan itu membawanya kemana? Membaca lebih banyak. Menemukan lebih banyak. Itulah masalah dari membaca: kita menjadi ketagihan.

Namun, ada satu permasalahan yang sering menjadi keluh penikmat buku. Membaca banyak buku namun melupakan sebagian besar dari yang dibaca.

Setelah saya telaah secara pribadi saya membenarkan pertanyaan tersebut dan mulai meneliti sendiri mengapa hal tersebut dapat terjadi.

Ada satu artikel asing yang temukan di internet yang dapat menjawab pertanyaan mengganjal ini.

Kita membaca sebuah buku. Kita sudah menyelesaikannya, menyukainya, dan mungkin sampai merekomendasikannya kepada teman-teman di sekeliling kita. Dan kita merasa hidup kita berubah karena buku tersebut.

Kemudian kita melanjutkan hidup dan melupakan buku tersebut. Dan pada akhirnya buku tersebut akan terkubur di bawah tumpukan batu-batu yang kita sebut stress, beban pekerjaan, kecemasan, dan batu-batu lainnya. 

Dan akhirnya kita berpikir, lalu apa gunanya? Hidup kalian tidak benar-benar berubah kok. Buku-buku yang pernah kit abaca kemudian terlupakan, apakah itu semua sia-sia?

Jelas tidak.

Setiap buku meninggalkan kesan dan perubahan. Bahkan ketika kita tidak bisa mengingatnya sekalipun. Sama seperti segala hal-hal kecil yang pernah terjadi dan setiap orang yang pernah kita temui dalam hidup. Saya punya satu foto dari artikel asing yang saya baca di mana buku berpengaruh dalam ‘batu-batu’ dalam hidup kita.

Jorge Méndez Blake – Watch the tremendous impact one book can have


Ada quotes yang paling saya suka mengenai 'buku' yang saya temukan di internet minggu ini, kira-kira bunyinya begini :

I believe that every book you read changes you; changes how you think, what you say, how you act, or how you look at the world. If a book doesn't change something about you then it has failed at being a book. 

Akhir kata saya ucapkan terima kasih berjuta-juta bagi yang sudah berkenan membaca tulisan perdana saya. 

Salam kenal dengan tulisan saya selanjutnya!