Baru-baru ini, menteri agama, Gus Yaqut mengumumkan pembatalan haji warga Indonesia tahun 2021 ini. Ini tahun kedua setelah tahun sebelumnya pemerintah juga membatalkan keberangkatan haji warganya.

Gus Menteri menyampaikan, pembatalan ini dilakukan setelah melalui kajian yang mendalam, lagi-lagi karena masih musim pandemi Covid-19.

Masyrakat berharap apa yang mereka cita-citakan terwujud, yakni, berangkat ke tanah suci Makkkatul Mukarromah wa  Madinatul Munawwarah, dari hasil kerja keras ataupun hasil menjual tanah sawah, inilah impian yang selalu dirindukan oleh setiap umat Islam. Apalagi waiting list sekarang ada yang sudah mencapai 2065.

Syarat istito’ah dalam ibadah haji menjadi hal yang sangat penting, calon jamaah tidak hanya mampu secara fisik dalam arti sehat, akan tetapi calon jamaah juga mempunyai bekal dalam perjalanan, bekal keluarga yang ditinggalkan serta yang paling penting keselamatan dalam perjalanan dan keselamatan ketika sedang beribadah di sana.

Maka, tak heran pembatalan haji tidak terjadi hanya pada dua tahun terakhir ini saja, setidaknya pernah 3 periode ibadah haji dibatalkan dalam sejarahnya, yakni pada tahun 930 M. Kala itu ada sekte Ismailiyah, sebuah komunitas minoritas Syiah, yang dikenal sebagai Qarmatia menggerebek kota Makkah karena mereka percaya haji sebagai ritual kaum pagan.

Pada tahun 1798 dan 1801 hal serupa juga terjadi saat adanya serbuan militer tentara Napoleon dari Prancis yang bertujuan untuk memeriksa pengaruh kolonial Inggris di wilayah tersebut. Akibatnya, adanya ekpansi ini kemudian mencegah banyak peziarah naik haji.

Sama seperti saat ini yakni terjadinya pandemi Corona, penyakit dan malapetaka alam lainnya juga menghalangi berkali-kali menghalai jalan para peziarah haji ke Makkah. Ini terjadi pada tahun 967 M. Selain itu adanya bencana kekeringan dan kelaparan menyebabkan penguasa Dinasti Fatimiyah membatalkan rute haji darat di tahun 1048.

Sementara itu, Pemerintah Arab Saudi pun masih belum membuka akses secara bebas dan membatasi negara-negara yang berhak masuk ke tanah suci, sebagai konsekuensi akibat dampak pandemi saat ini. Termasuk Indonesia Salah satu yang dilarang memasuki negara ini, karena alasan penanganan covid-19 di negara kita masih belum maksimal.

Diceritakan kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi. Bahwasannya Abdullah bin Mubarok (118-181 H/726-797 M), seorang ulama asal Marwaz, Khurasan. melaksanakan perjalanan ke Tanah Suci terhenti kala ia sampai di kota Kufah. Dia melihat seorang perempuan sedang mencabuti bulu itik dan Abdullah seperti tahu, itik itu adalah bangkai.

"Ini bangkai atau hasil sembelihan yang halal?" tanya Abdullah memastikan.

"Bangkai, dan aku akan memakannya bersama keluargaku."

Ulama hadits yang zuhud ini heran, di negeri Kufah bangkai ternyata menjadi santapan keluarga. Ia pun mengingatkan perempuan tersebut bahwa tindakannya adalah haram. Si perempuan menjawab dengan pengusiran.

Abdullah pun pergi tapi selalu datang lagi dengan nasihat serupa. Berkali-kali. Hingga suatu hari perempuan itu menjelaskan perihal keadaannya.

"Aku memiliki beberapa anak. Selama tiga hari ini aku tak mendapatkan makanan untuk menghidupi mereka."

Hati Abdullah bergetar. Segera ia pergi dan kembali lagi bersama keledainya dengan membawa makanan, pakaian, dan sejumlah bekal.

"Ambilah keledai ini berikut barang-barang bawaannya. Semua untukmu."

Tak terasa, musim haji berlalu dan Abdullah bin Mubarak masih berada di Kufah. Artinya, ia gagal menunaikan ibadah haji tahun itu. Dia pun memutuskan bermukim sementara di sana sampai para jamaah haji pulang ke negeri asal dan ikut bersama rombongan.

Begitu tiba di kampung halaman, Abdullah disambut antusias masyarakat. Mereka beramai-ramai memberi ucapan selamat atas ibadah hajinya. Abdullah malu. Keadaan tak seperti yang disangkakan orang-orang.

 "Sungguh aku tidak menunaikan haji tahun ini," katanya meyakinkan para penyambutnya. Sementara itu, kawan-kawannya yang berhaji menyuguhkan cerita lain. "Subhanallah, bukankah kami menitipkan bekal kepadamu saat kami pergi kemudian mengambilnya lagi saat kau di Arafah?"

Yang lain ikut menanggapi, "Bukankah kau yang memberi minum kami di suatu tempat sana?"

"Bukankah kau yang membelikan sejumlah barang untukku," kata satunya lagi.

Abdullah bin Mubarak semakin bingung.

"Aku tak paham dengan apa yang kalian katakan. Aku tak melaksanakan haji tahun ini."

Hingga malam harinya, dalam mimpi Abdullah mendengar suara, "Hai Abdullah, Allah telah menerima amal sedekahmu dan mengutus malaikat menyerupai sosokmu, menggantikanmu menunaikan ibadah haji."

Kisah ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa sesungguhnya haji adalah amal yang utama. Namun, menyantuni anak yatim, orang miskin, dan telantar merupakan amal yang lebih utama. Apalagi di masa pandemi ini yang mana banyak aktifitas dibatasi agar kondisi ini segera normal kembali.

Sehingga batalnya ibadah haji tahun ini, tidak menyurutkan semangat calon jamaah untuk senantiasa ber-husnuddzhon kepad Allah Swt bahwasanya, ada hikmah dibalik semua ini. Meski tidak dapat pergi haji secara langsung pahala haji dapat kita raih dengan menebusnya dengan berbagai macam amal yang bersifat sosial seperti di atas.

Karena, beribadah haji hanya untuk kepentingan pribadi, sedangkan menyantuni anak yatim dan memberi makan fakir miskin menjadi ibadah sosial yang manfaatnya lebih besar. Wallahu a'lam.