Panitia Workshop
1 tahun lalu · 261 view · 2 menit baca · Info 96385.jpg
Ade Armando

Menebar Gagasan, Membangun Peradaban

Peradaban dimulai dari persebaran ide/gagasan. Ide tersebar, peradaban lahir. Demikian sejarah manusia membuktikannya.

Workshop dan Kelas Menulis “Intoleransi dan Kekerasan atas nama Agama” Qureta di hari kedua, Sabtu, 22 Juli 2017, peserta membincang satu materi yang cukup memantik. Dengan narasumber Ade Armando, diskusi mengalir seputar mengapa kita harus menulis, menebar ide melalui media massa, dan merawatnya demi peradaban manusia.

Dosen komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia ini mengawalinya dengan penjelasan tentang hegemoni. Bagi Ade, hegemoni merupakan ide yang dominan, yang tidak dilandasi dengan paksaan untuk menerimanya.

“Dalam ilmu-ilmu sosial, kita mengenal istilah ‘hegemoni’. Ini merupakan ideologi dominan yang diterima sebagai kebenaran, tidak dilandasi keterpaksaan dan tidak di bawah ancaman,” ujarnya.

Tersadari atau tidak, konsep ideal yang kita cerap hari ini memang merupakan hasil konstruksi sosial. Cara pandang kita dikonstruk, dibentuk oleh masyarakat. Dan itu tak hanya datang dari orang yang kita kenal, melainkan juga—bahkan sering—bersumber dari medium yang sebenarnya masih asing.

“Intinya, kepercayaan kita hari ini didasarkan pada kesepatakan,” jelas Ade.

Dalam sejarahnya, persebaran ide ini terpicu dari ditemukannya mesin cetak. Tahun 1460, Joseph Guttenberg merilisnya tanpa kesadaran bahwa penemuannya tersebut akan melahirkan berbagai revolusi: agama, ilmu pengetahuan dan sains, juga politik.

“Maka tak dipungkiri, peradaban itu dimulai dari penyebaran ide. Peradaban berubah karena gagasan menyebar luas. Saya pun yakin, Guttenberg pasti masuk surga karena kontribusinya yang luar biasa bagi kemajuan,” tambahnya.

Ya, dengan mesin cetak temuan Guttenberg, abad kegelapan akhirnya berevolusi menjadi abad pencerahan. Yang menentukan kebenaran bukan lagi lembaga atau pemuka agama, melainkan kebenaran adalah hasil dari pencarian ilmu pengetahuan.

“Karenanya, kalau ide itu dikekang, yang terjadi adalah keterbelakangan.” jelas Ade kembali.

Mesin cetak menyebabkan:

  • Alkitab bisa dibaca oleh kelompok berpendidikan, tak hanya kelompok agamawan.
  • Pemikiran yang sebelumnya bertentangan pada apa yang disebut sebagai kebenaran absolut tersebar.
  • Orang pintar menulis.
  • Masyarakat membaca.
  • Pengetahuan dipertukarkan.

Masalahnya sekarang, apa yang harus kita lakukan agar yang ada di kepala masyarakat adalah sejalan dengan apa yang kita kehendaki ada di kepala mereka?

“Bisa saja kita dengan sengaja membuat orang percaya pada apa yang sebenarnya tidak pernah ada," lanjutnya.

If you tell a big enough lie and tell it frequently enough, it will be believed. ~ Adolf Hitler

A lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes the truth. ~ Joseph Goebbels

Seperti disebutkan di awal, konsep kebenaran ideal (yang disepakati, dikonstruk) datang dari berbagai sumber. Di masa lalu, konstruksi pengetahuan itu dibangun dengan cara yang elitis, baik oleh pemegang otoritas: pemerintah, guru, sekolah, ulama, pendeta; juga oleh media massa—yang terakhir ini yang kini mendominasi.

Tahu bahwa media massa hari ini menjadi sumber pengetahuan paling dominan ketimbang pemegang otoritas, di titik inilah Qureta hadir. Qureta sadar, masih terlalu banyak orang di luar sana yang tidak menggunakan media massa sebagai medium pencerahan. Belum lagi, demokrasi kini melahirkan ruang bagi pikiran-pikiran sumbu pendek untuk berkembang.

“Karenanya, Qureta mesti menjadi sarana demokrasi di tengah banyaknya media massa yang hanya berkonsentrasi pada pengumpulan kekayaan, bukan sebagai medium pembebasan,” harap Ade.

Lihat saja bagaimana ruang publik bisa diisi oleh hal-hal yang hanya menghibur misalnya, menyenangkan, atau bahkan menyesatkan. Yang komersial cenderung akan menyajikan muatan yang tidak kritis, tidak berisiko, karena muatannya yang ringan, lebih bersahabat, dengan orientasi keuntungan. Bisa juga didominasi oleh hal-hal yang lucu karena orientasi yang sama.

Terlebih saat ini, warga negara apa pun bisa menjadi produsen sekaligus konsumen. Mereka tidak lagi harus bergantung pada pengelola media massa untuk bisa menyebarkan gagasannya ke khalayak luas.

“Tapi ingat, peluang ini harus dengan sendirinya kita manfaatkan untuk proyek pencerahan (pembebasan). Bahwa nasib peradaban kita ditentukan saat ini, (dari dan untuk) kita sendiri,” ingatnya.