3 bulan lalu · 207 view · 4 menit baca · Media 62816_60120.jpg

Mendukung Media yang Tidak Netral

Ketika saya menjadi pengasuh sebuah lembaga pers mahasiswa, saya seringkali diminta untuk menjadi pembicara di pelatihan jurnalistik di berbagai organisasi mahasiswa. Dan jika saya hitung secara kasar, pertanyaan yang sering muncul adalah, “Kenapa di tahun politik media banyak yang tidak netral?” 

Apakah Anda juga bertanya seperti itu? Bisa jadi Anda terjebak dalam argumentum ad populum. Karena pada sesat pikir itu, pendapat umum dianggap selalu tepat.

Ada kekeliruan yang fatal jika menganggap media harus netral. Saking populernya anggapan keliru itu, hingga media kita dibebani sesuatu yang tidak perlu. Integritas mereka dianggap runtuh jika tidak netral. Jika Anda kaget dengan judul tulisan ini, saya hendak menerangkan sebuah argumen dasar mengapa saya menolak pendapat bahwa media harus netral.

Soal sikap media yang memilih netral, saya cukup kecewa dengan Net TV, misalnya. Wishnutama, pendirinya, mengatakan dengan sangat tegas bahwa medianya memberitakan kabar dengan netral, entah maksudnya benar-benar netral atau karena dia lupa bahwa seharusnya independen. 

Namun, saya menghargai itu dan saya bisa menerima itu karena televisi itu lebih memilih ranah hiburan, yang notebene tidak begitu perlu untuk berpandangan kritis akan pemerintahan dan kekuasaan lain. Toh, netral adalah hak setiap media selama dia tetap menjalankan prinsip-prinsip jurnalistik.

Pembaca yang cerdas harus memahami bahwa dalam kondisi tertentu, media berhak untuk tidak netral.

Contoh lain ada di koran yang tidak netral. Terlepas saya sepakat atau tidak dengan keputusan The Jakarta Post menerbitkan editorial berjudul “Endorsing Jokowi” pada 2014, saya yakin betul bahwa sikap redaksi itu adalah hasil perdebatan yang padat. 

Mereka bisa menjelaskan secara logis keberpihakan mereka. Toh, mereka tetap memberikan kemerdekaan kepada wartawannya untuk menulis sesuai hati nurani mereka. Dan, Prabowo Subianto waktu itu, diberi ruang hak jawab yang cukup lebar akan tulisan-tulisan yang dianggap merugikan dirinya.

Kekeliruan media yang harus dicermati bukan pada netral atau tidaknya sebuah media. Namun pada integritasnya. Pada 2014, kita bisa melihat mana media yang kredibel dan tidak kredibel dari pemberitaan soal hasil Pilpres. 

Tapi masyarakat kita tidak kritis dan mudah lupa. Media-media itu masih ditonton sampai kini. Toh jika media salah memberitakan namun mendukung pihaknya, maka media akan dibela habis-habisan.

Kenapa Orang Takut pada Media Tak Netral?

Pada dasarnya masyarakat kita pasifis (dalam urusan gagasan, untuk urusan lain mereka bisa saja agresif) dalam urusan politik karena 32 tahun dilarang untuk mempelajari ideologi. Selama Orde Baru, masyarakat kecil pedesaan memang dilarang untuk mempelajari politik secara komprehensif. 


Rakyat dikenalkan pada politik hanya untuk mencoblos (sering disebut sebagai politik massa mengambang), bukan untuk memikirkan mana ideologi yang tepat dan bagaimana politik tercapai. Semua hal dikerucutkan menjadi beberapa golongan saja. 

Orangnya juga itu-itu saja. Rakyat kecil dilarang untuk berdebat, sehingga sopan santun lebih penting ketimbang urusan baik buruk dan benar salah. Apapun hasil dari para tetua, akan disepakati menjadi aturan.

Pers progresif dibungkam. Mereka dilarang menyebarkan apa itu kebenaran. Mereka dilarang menakali pemerintah, seburuk apapun pelayanan publik dan sekotor apapun permainan kekuasaan. Mengkritik Soeharto sama dengan mengkritik semesta ideologi bernama negara.

Rakyat dilarang untuk belajar menerjemahkan dan menafsirkan apa itu Pancasila. Bahkan, mendiskusikannya saja tidak boleh. Sampai sekarang pun ternyata masih ada ketakutan-ketakutan seperti itu. 

Masyarakat lebih suka memenjarakan orang dengan kriminalisasi ketimbang mematahkan suatu ide dengan cara-cara yang demokratis. SARA jadi jualan yang laris karena masyarakat tidak sempat belajar berpikir kritis apalagi mempraktikannya.


Tafsir dasar dan falsafah nasional waktu itu dimonopoli oleh pemerintah. Kita bersyukur bahwa operasi reformasi 1998 mampu menumbangkan rezim itu. Namun, kita masih punya tugas berat yaitu untuk melakukan edukasi politik secara serius kepada masyarakat kita yang sudah terlanjur diajarkan pasifisme gagasan selama tiga dekade lebih.

Beda Netral dengan Independen

Netral artinya alami, alias nol. Tidak bermuatan, tidak ada tone. Independen artinya dia tidak terikat oleh kekuatan apapun. Media memiliki apa yang disebut dengan self cencorship mengingat media memiliki keharusan untuk cerdas. Lembaga lain (misalnya negara) tidak boleh untuk ikut campur dalam dapur redaksi.

Independen bukan berarti semaunya sendiri. Media memiliki kewajiban untuk memenuhi prinsip-prinsip jurnalistik yang ketat.  Prinsip yang paling penting adalah untuk mengabarkan yang benar dan berimbang dalam memberi kesempatan ruang dan waktu untuk setiap pihak yang dianggap berkepentingan dalam suatu pemberitaan.

Ini yang kadang tidak dilakukan oleh wartawan di zaman tsunami informasi seperti sekarang ini. Media tak boleh memiliki iktikad buruk untuk menjatuhkan seseorang atau siapapun. Toh jika di dalam hati dan pikiran wartawan terjadi situasi kebencian terhadap sesuatu, dia tidak berhak mengekspresikan itu melalui jurnalistik. 

Jadi, harus dipastikan segala produk jurnalistik didasari niat baik untuk kebaikan. Pun misalnya akan ada orang atau pihak yang dirugikan akibat pemberitaan, itu karena memang itu yang harus dikabarkan.


Bukan suatu kejahatan jika seorang wartawan membuka kedok seorang koruptor besar lalu koruptor itu dihukum mati atas kesalahannya, bukan? Atau, jika seorang sebuah lembaga keagamaan diketahui berbuat biadab kepada anak-anak tak berdosa, wartawan tetap melakukan hal baik, bukan?

Bagi Bill Kovack dan kawannya, Tom Rosenstiel, wajib hukumnya bahwa seorang wartawan harus berpihak. Berpihak pada kebenaran, sepahit apapun itu. Saya yakin, buku The Element of Journalism yang diciptakan berdua itu masih banyak digunakan oleh sebagian media waras di negara ini. Dan media yang berpihak pada kebenaran, akan tetap dibaca oleh pembaca yang waras pula.

Sepakat?

Artikel Terkait