Dua bulan terakhir ini tercatat sebagai periode waktu dengan angka penularan positif dan meninggal akibat virus corona paling tinggi. Menurut data dari satgas Covid-19 rentang usia >60 adalah kelompok usia dengan kasus terpapar dan kemudian meninggal paling tinggi sekitar 49% atau bisa dikatakan separuh kematian akibat Covid-19 dialami kaum lansia.

Tanpa ampun, virus corona bagaikan mengejar-ngejar kaum lansia untuk dijadikan korbannya. Dengan terpaksa kaum lansia harus berlari agar terhindar dari kejaran monster ganas ini. Kaum lansia secara alami kondisi fisiknya menurun seiring pertambahan usia akibat proses penuaan. Hampir semua fungsi organ dan gerak menurun, diikuti dengan menurunnya imunitas sebagai pelindung tubuh, pelindung ini tidak lagi bekerja sekuat ketika masih muda.

Memang, kalau kita lihat kaum lansia tidak punya pilihan lain selain minta kaum muda untuk membantunya melewati badai bencana. Jangankan ada badai, dalam situasi normalpun mereka seharusnya tidak diperbolehkan melakukan semuanya sendiri. Dalam situasi darurat seperti sekarang, Covid-19 menjadi berbahaya baik bagi kaum lansia ataupun kaum muda. Seringkali terjadi perdebatan, mengenai dukungan untuk kaum lansia. Kaum lansia melihat dukungan yang diterima belum cukup, sedangkan kaum muda merasa sebaliknya ditambah harus mendukung kaum muda itu sendiri.

Beberapa waktu yang lalu saya kehilangan salah satu anggota keluarga lansia, beliau tidak tinggal serumah, kami di Jakarta dan beliau tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Sewaktu kampanye vaksinasi untuk lansia dimulai, keluarga Jakarta aktif memberikan pengertian dan mendorong agar beliau ikut vaksinasi lansia.

Namun rupanya faktor lingkungan atau teman bergaul beliau punya peran yang lebih dominan. Beliau mengatakan temannya sudah 1 kali disuntik vaksin tetapi menimbulkan penyakit darah beku sehingga oleh dokter tidak diperbolehkan untuk mendapatkan vaksin yang kedua. Cerita dari koleganya itu rupanya mempengaruhi keputusan beliau untuk tidak jadi divaksin.

Beberapa minggu setelahnya, beliau meninggal setelah positif Covid-19. Peristiwa itu menciptakan perdebatan sekaligus penyesalan, andaikan keluarga punya pengaruh dominan atau lebih berusaha lagi agar beliau bisa divaksin, mungkin faktor kematian bisa dihindari.

Tidak bisa dipungkiri, lansia perlu bersosialisasi dengan lansia yang lainnya, untuk saling menguatkan dan berbagi informasi untuk melawan Covid-19. Namun kekurangpahaman atau salah pengertian dalam memahami sesuatu dalam hal ini adalah perlunya vaksinasi, bisa menyebarkan informasi yang kurang tepat untuk lansia lainnya.

Lanjut ke cerita yang agak ringan, di kompleks apartemen tempat saya tinggal tersedia taman yang waktu pagi hari biasa digunakan oleh penghuni apartemen untuk berjemur. Disitu sering saya lihat beberapa kaum muda yang mendorong kursi roda yang terisi lansia, mungkin bapak/ibu atau kakek/nenek mereka untuk dicarikan tempat buat berjemur, sungguh cerminan dukungan yang kuat untuk kaum lansia. Berjemur memang aktifitas yang dianjurkan  di pagi hari untuk mendapatkan vitamin D agar imunitas tubuh bisa lebih ditingkatkan.

Di sisi taman yang lain saya lihat anak-anak muda sudah menempati beberapa titik tempat berjemur, ada tempat tertentu yang memang lebih nyaman dan isolated dari lalu lalang orang yang berjalan-jalan di taman. Insting saya kalau melihat ada kaum lansia lebih membutuhkan tempat berjemur yang lebih nyaman dan aman pasti saya akan berikan tempat itu. Namun saya lihat beberapa anak muda tampak cuek tidak rela memberikan tempat berjemur favoritnya kepada lansia. Dari disini saya melihat sikap suportif kepada lansia yang bertolak belakang.

Beberapa minggu yang lalu, saya sakit dan memiliki gejala mirip gejala Covid-19, seperti demam, pusing, batuk, pilek dan sesak nafas. Yang saya lakukan pertama kali adalah membuka aplikasi kesehatan di gadget untuk mengakses telemedicine (layanan kesehatan online). Setelah dapat diagnosa awal, saya disarankan mengikuti test PCR, itupun saya lakukan appointment lewat aplikasi kesehatan di gadget juga, lebih cepat, ringkas dan dapat kepastian waktu tanpa antri.

Teknologi informasi memang memberikan kemudahan akses untuk layanan kesehatan.  Di sebuah media sosial saya melihat ada anak muda yang suka membantu tetangganya yang lansia untuk memudahkan kehidupannya lewat akses ke teknologi informasi misal dengan memesankan makanan, transportasi sampai obat-obatan lewat aplikasi online.

Saya bayangkan bagaimana dengan kaum lansia yang hidup sendirian karena suami/istri sudah meninggal duluan. Anak-anaknya sudah hidup terpisah karena sudah membangun rumah tangganya sendiri. Dan tidak punya tetangga atau teman kaum muda yang bisa membantunya mengakses layanan kesehatan secara online.

Saya melihat kaum lansia tidak selihai kaum muda yang fasih dengan gadget. Seharusnya aplikasi layanan kesehatan yang biasanya dipelopori perusahaan rintisan mengembangkan fitur yang lebih ramah lansia. Misal fitur yang menonjolkan penggunaan suara daripada menekan tombol atau mengetik. Karena kemampuan fisik lansia yang menurun lebih efektif kalau aplikasi bisa dijalankan dengan deteksi suara.

Memang, perlu riset dan biaya yang cukup besar untuk mengadakan fitur suara bisa jalan disemua fitur aplikasi. Pemerintah bisa membantu misalnya bantuan insentif penelitian dan pengembangan, atau lewat BPPT memulai riset dan hasil risetnya bisa dishare secara cuma-cuma kepada perusahaan jasa layanan kesehatan atau mendorong BUMN menjadi sponsor riset melalui program CSR dsb. Aplikasi ramah lansia akan menjadi bentuk dukungan untuk mempermudah hidup para lansia.

Sudah 1,5 tahun pandemik ini berlangsung, kaum lansia ini sudah lama letih, namun apa daya yang mengejarnya tidak punya rasa letih. Yang bisa dilakukannya adalah meminta tolong kaum muda agar Covid-19 jangan sampai berhasil mengejarnya. Cara pandang dan subjektivitaslah yang menimbulkan perspektif berbeda mengenai cukup atau tidaknya sebuah dukungan kepada kaum lansia itu sudah dilakukan.

Meskipun sudah berusaha namun tetap terpapar Covid-19, yang bisa dilakukan adalah mendukung semua kebutuhan lansia selama menjalani pengobatan. Atau bila yang terburuk terjadi, Covid-19 mengambil hidupnya, paling tidak biarkanlah mereka tahu, ada yang menemani sampai akhir, sehingga mereka tidak akan merasa ditinggal sendirian.