Mendukung kepemimpinan Amerika Serikat (AS) dalam solidaritas global melawan pandemi Covid-19 pada saat ini bukanlah posisi yang nyaman. Kenyataannya, AS memang tergopoh-gopoh dalam menangani Covid-19 ini. Ketimbang mengambil inisiatif global, Presiden AS Donald Trump malah mencari kambing hitam dari ketidakmampuannya mengatasi pandemi Covid-19 dan menyalahkan Cina.

Meski demikian, dunia tanpa kepemimpinan global AS juga bakal sulit terwujud. Di tengah pusaran Covid-19, AS tetap menjalankan peran sebagai pemimpin global. Berbagai bantuan kemanusiaan dalam rangka Covid-19 telah dikirimkan Presiden Trump ke berbagai negara, termasuk ke Indonesia.

Di masa pandemi ini, AS juga tetap hadir secara langsung maupun tidak langsung dalam pertikaian di antara beberapa negara. Kehadiran langsung AS di Laut Cina Selatan menjadi daya gentar bagi Cina untuk memaksakan klaimnya atas wilayah itu. AS juga ada secara tidak langsung dalam bentrokan Cina dan India di wilayah perbatasan kedua negara. Di wilayah-wilayah lain, AS masih diperlukan kepemimpinannya, seperti di Timur Tengah dan Eropa.

Sebaliknya, berbagai negara ternyata tetap membutuhkan peran global AS. Mereka bahkan mendukung kampanye AS untuk melakukan penyelidikan global kepada Cina mengenai asal-usul virus Corona dari Wuhan. Kampanye global ini untuk menegaskan tuduhan global AS tentang virus Cina bahwa virus Corona berasal dari Cina dan Cina harus bertanggung jawab secara global pula. Hingga AS mengalami kerusuhan rasial George Floyd,

Lalu, mengapa kepemimpinan global AS tetap diperlukan?

Kepemimpinan AS

Bagaimanapun juga, AS adalah salah satu dari empat negara pemenang Perang Dunia ke-2 bersama Inggris, Cina, dan Uni Soviet (US, sekarang Rusia). Dalam perkembanganya, dunia ternyata terpolarisasi ke dalam 2 kekuatan global. Bipolarisme global sebutannya, yaitu antara AS dan US. Apalagi ketika Eropa harus dipecah menjadi 2 bagian 'milik' AS dan US.

Sejak itulah juga, berbagai bagian dunia yang tidak dijamah US seolah menjadi 'ladang' pengaruh (sphere of influence) AS. Pengaruh AS tidak sekadar dalam bidang pertahanan dan keamanan, namun di berbagai bidang lain, termasuk sosial, ekonomi, dan budaya.

Orang tidak hanya mengenal AS lewat peralatan militernya, tapi juga menjadi pasar domestik bagi berbagai produk negara-negara 'sahabatnya'. AS mau menggelontorkan bantuan keuangan asal negara penerima mau berbaikan dengan AS.

Bahkan secara berseloroh pernah disebutkan bahwa salah satu tanda representasi dari kehadiran AS di sebuah negara sosialis-komunis Rusia di masa Gorbachev adalah restoran cepat saji McDonald di Moskow, 1990.

Kepemimpinan global AS paska-Perang Dingin ditopang oleh kemampuan membangun stabilitas hegemonik-nya. Dalam studi-studi Hubungan Internasional, stabilitas hegemonik adalah kemampuan negara untuk membangun stabilitas global berdasarkan perlindungan hegemonik. Kata hegemonik artinya kemampuan melindungi negara lain secara militer dan non-militer.

Walau ada perubahan dalam stabilitas hegemonik AS, kehadiran dan kepemimpinan negara Paman Sam ini terus berlanjut di berbagai belahan dunia. Sulit untuk menjelaskan berbagai inisitatif kerjasama dan, bahkan, konflik di dunia selama ini tanpa memperhitungkan kepentingan AS.

Pengganti AS

Pilihan kedua adalah negara pengganti AS dalam memimpin perlawanan terhadap pandemi Covid-19. Salah satu kandidatnya adalah Cina. Mengapa Cina? Dibandingkan negara-negara lain, Cina dianggap telah mempersiapkan diri menjadi negara besar dalam hubungan internasional. Cina ingin menjadi negara besar yang bertanggung jawab (responsible great power).

Cina mulai meningkatkan kerjasama ekonomi dengan berbagai negara sejak awal 2000an melalui One Belt One Road (OBOR) atau yang sekarang dikenal dengan Belt and Road Inisiative (BRI). Melalui inisiatif ini, pemerintah Cina memiliki peta jalan pembangunan infrastruktur (darat dan laut) dari Cina ke berbagai negara mengikuti jalur sutra pada masa lalu.

Selain itu, Cina juga menyediakan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) sebagai lembaga keuangan untukmembiayai pembangunan infrastruktur itu.

Namun demikian, inisiatif itu tampaknya harus berhenti sementara akibat pandemi Covid-19. Fokus Cina ini tampaknya hanya terbatas pada diplomasi melawan Covid-19. Diplomasi Cina dalam Covid-19 termasuk bantuan alat-alat kesehatan Cina ke berbagai negara Eropa dan negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Yang menarik sebenarnya adalah respon negara-negara itu atas diplomasi Covid-19 Cina. Dukungan kemanusiaan dan finansial Cina diterima berbagai negara itu dengan tangan terbuka. Mereka bahkan menempatkan CIna lebih berperan dalam penanganan Covid-19 ketimbang AS.

Namun peneriman itu tidak berlaku di bidang pertahanan dan keamanan. Negara-negara di Eropa masih terikat perjanjian NATO, walau kepemimpinan AS menurun. Negara-negara di Asia tampak mendua dalam menghadapi Cina, yaitu menerima bantuan ekonomi, tapi menolak tegas kebijakan agresif Cina di Laut Cina Selatan. Begitu pula beberapa negara di Afrika dan Asia Selatan mulai merasakan akibat negatif dari investasi besar-besaran Cina.

Tanpa AS

Pilihan ketiga adalah hubungan internasional tanpa kehadiran AS sebagai pemimpin global, khususnya dalam penanganan Covid-19 ini. Memang tiga bulan ini tidak terlalu kelihatan peran global AS dalam memimpin berbagai negara melawan Covid-19.

Dunia belum pernah mengalami situasi seperti ini. Walaupun kehadiran AS berkurang, berbagai negara tetap merasakan kepemimpinan AS dalam mengelola berbagai persoalan global. AS hadir melalui Presiden Trump dengan gaya kepemimpinan khas dan kebijakan luar negeri yang berorientasi ke dalam.

Dinamika AS dalam penanganan pandemi Covid-19 di dalam negeri juga diwarnai dengan kontroversi-nya bersitegang dengan Cina. Kehadiran AS lebih ke dalam bentuk meningkatkan status domestik Trump. Sementara itu, inisiatif global Trump dalam melawan Covid-19 cenderung minimal.

Ketika AS dilanda kerusuhan rasial, AS pun semakin tenggelam ke dalam urusan domestiknya. Kehadiran, apalagi kepemimpinan, global bukan lagi prioritas dalam kebijakan AS. Berbagai negara tidak perlu berharap banyak dengan AS untuk beberapa pekan ke depan.

Tantangan

Akhirnya, hubungan internasional adalah masalah kemaslahatan manusia di dunia. Dari ketiga pilihan yang ada, tatanan global yang mana yang membuat hubungan internasional bisa berjalan nyaman dengan potensi stabilitas keamanan yang lebih besar ketimbang ketidakamanannya.

Keberadaan bahkan kepemimpinan global AS tetap lebih diperlukan. Ada lebih banyak manfaatnya dengan kepemimpinan AS mengingat Cina belum bisa dipercaya dalam bidang pertahanan dan keamanan. Agresivitas Cina di LCS, misalnya, menunjukkan wajah konfliktual Cina.

Jauh lebih banyak manfaatnya pula AS tetap hadir dan menjadi pemimpin global ketimbang dunia dibiarkan tanpa ada negara pengganti AS yang dikhawatirkan rentan instabilitas dan berpotensi ke arah anarki global.