Jaman now, siapa yang tidak memiliki perangkat canggih seperti: HP Smartphone, Tablet, Ipad dan sederet perangkat canggih lainnya. Dari sekian banyak perangkat canggih yang paling banyak diminati oleh masyarakat adalah HP Smartphone dengan varian dan merek yang sudah membludak di pasaran.

Banyak kalangan masyarakat. Kalangan Tua maupun muda. Orang kota atau orang desa. Kaya ataupun miskin, hampir dipastikan memiliki HP Smartphone. Terlepas keperluannya untuk apa ?, penting atau tidak.Yang jelas penjualan HP Smartphone tiap hari mengalami kenaikan yang sangat singnifikan.

Tengok saja di pasar modern, mall besar, gerai, counter bahkan toko resmi banyak yang bermigrasi ke desa-desa untuk menjemput calon konsumen. Mengutip laman Kompas.com (25/08/2017) tak kurang dari 366,2 juta unit smartphone terjual sepanjang kuartal kedua 2017. Angka itu meningkat 7,6 persen dari tahun ke tahun. Menurut laporan teranyar dari firma penelitian Gartner, perangkat Android masih mendominasi dengan pangsa pasar 87,7 persen. Sisanya mengandalkan sistem operasi IOS, yakni 12,1 persen.

Tapi tahukah kita, setelah kita memiliki perangkat canggih tersebut berapa banyak masyarakat yang peduli terhadap konten media positif. Peduli terhadap keakuratan berita.  Peduli terhadap masa depan anak bangsa yang haus akan berita-berita yang mendidik dan mencerahkan.

Jika kita merenung sejenak, dan bertanya kepada hati kita masing-masing. Tugas dan tanggung siapakah ini?. Tentu jawabannya adalah tanggung jawab kita semua. Kenapa “kita semua” yang harus bertanggung jawab?, Karena di era lini masa sekarang ini, setiap orang yang memiliki HP Smartphone pernah menyebar dan memproduksi berita bahkan intensitasnya bisa dikatakan sering.

Belum lagi yang suka memberikan komentar-komentar kontroversial atau bahkan menghasut kepada pihak lawan agar mengetahui bahwa ia mempunyai kekuatan untuk menunjukan eksistensinya. Namun persoalannya, sudahkah masyarakat menyadari akan pentingnya pesan profetik dalam media ?.

Bagaimana  mendudukan pesan-pesan profetik tersebut, maka hal ini menjadi bahan renungan bagi pengguna media, pemilik media, dan yang tak kalah penting tentunya pewarta atau wartawan media resmi yang bertugas melakukan kegiatan jurnalistik untuk menghadirkan berita-berita yang mencerahkan dan mendidik masyarakat.

Mencari Intrumen Media Profetik 

Seorang pewarta professional, lahir dari kawah candra dimuka bernama seleksi ketatat dengan serangkain tes bakat, minat, integritas, komitmen dan kejujuran seperti yang sudah disematkan kepada  para Nabi.

Saat pewarta menceburkan diri ke dalam tugas jurnalistik yang mengirimkan berita-berita hangat, actual dan terpercaya. Maka secara langsung sudah mengemban tugas-tugas kenabian. Salahsatu tugas kenabian adalah menyampaikan berita gembira dan peringatan.

Tugas menyampaikan berita yang dipegang oleh pewarta, memang bukanlah tugas yang mudah untuk diemban. Seorang wartawan harus rela berjibaku dengan tantangan di medan yang berat. Entah itu ancaman fisik, teror psikologis, ancaman suhu ekstrim bahkan sampai rela meregang nyawa untuk mempertahankan pesan kenabian yang bernilai kebenaran.

Kita teringat kasus penyekapan wartawan Meto TV 2005 silam oleh tentara mujahidin Irak, yang menimpa Meutya Hafid bersama kameramen Budianto selama satu pekan lamanya. Jurnalis dan cameramen berintegritas tersebut hampir saja mengalami hal hal diluar kemanusian. Beruntung, Presiden SBY dengan sigap mengirimkan surat kepada pemerintah setempat dan melakukan konprensi pers di depan awak media, meminta untuk segera dibebaskan.

Lain lagi kasus yang menimpa wartawan lokal di Jogyakarta, Fuad Muhammad Syafruddin akrab disapa Udin harus meregang nyawa karena dianiaya oleh pihak yang tidak dikenal. Pria tersebut tewas selasa malam pukul 16.50 WIB 16 Agustus 1996. Sebelumnya sempat di rawat selama tiga hari di RS Betehesta, Yogjakarta karena dipukul oleh batang besi dibagian kepalanya. Sebelum kejadian, Udin kerap menulis artikel kritis tentang kebijakan pemerintah dan militer sebagaimana dikutip oleh laman okezone.com (11/10/2017).

Menjadi pewarta yang menyampaikan pesan profetik bernilai kebenaran agung, memang bukan tanpa resiko yang ringan. Terlebih rezim pemerintah pada waktu itu, kebal dan anti kritik terhadap suara rakyat yang menyuarakan kebenaran.

Sikap wartawan yang berintegritas di era lini masa ini, tidaklah cukup manakala dihadapkan pada empunya atau CEO media yang banyak memihak kepentingan kelompok dari pada suara kebenaran rakyat. Sikap ini bisa kita lihat, saat musim Pilpres 2014, dimana masing-masing media yang mengusung calon yang diunggulkan saling melakukan manuver politik. Saling menyerang dengan berita-berita yang merugikan kedua belah pihak. Salahsatunya menyerang dengan berita-berita hoax.

Pada waktu itu, kekuatan politik masyarakat terbelah menjadi dua. Masyarakat yang pro terhadap kubu Jokowo-JK dan disisi lain ada masyarakat yang pro terhadap kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Dua kubu besar tersebut, saling beradu kekuatan. Baik kekuatan berita maupun strategi bawah tanah yang dimainkan  oleh masing-masing pihak calon.

Terbelahnya dua kekuatan besar masyarakat pada waktu itu, tak jarang interaksi masyarakat sering terjadi perdebatan yang tidak kunjung usai, lantaran menjagokan pasangannya masing-masing. Bahkan seringkali berujung perkelahian antar kubu yang membuat suhu politik semakin memanas dan emosi masyarakat semakin gampang tersulut.

Realitas tersebut tidak akan terjadi, manakala ada reorientasi kepemilikan media yang mengakui  bahwa kebenaran itu tidak memihak salahsatu pasangan calon meski ada keuntungan besar di dalamnya. Sekali lagi berita-berita sehat yang memihak kebenaran harus lebih diutamakan dari pada hanya merauk keuntungan moril, materil atau jaringan sosial yang mungkin saja menjadi target utamanya.

Dan yakinlah, bahwa media-media yang melawan arus kebenaran lambat laun akan mengalami kemunduran dan kerugian. Kemunduran dan kerugian bukan hanya pada tataran materil, integritas karyawanpun  akan mengalami nasib lain berupa kekeringan religiusitas.

Kekeringan religiusitas  inilah yang akan menarik motivasi dan sportifitas kerja karyawan. Dalam bekerja, mereka seperti merasa kehilangan tujuan mulia. Kehilangan ketenangan batin, setelah tiap kesempatan dijejali kepentingan sesaat yang menghilangkan nilai-nilai kebenaran berupa; kejujuran, kedisiplinan, keadilan dalam prinsip-prinsip kepewartaan.  Dan yang lebih penting lagi adalah selalu merasa diawasi oleh Tuhan dalam setiap derap langkah kehidupan.

Lain hal, jika penguasa media memiliki komitmen kuat untuk menjaga bias kepentingan parsial, maka dengan sendirinya jaringan sosial masyarakat akan terjaga dalam koridor kebeneran profetik seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Nilai-nilai kebenaran profetik itulah yang akan mendudukan hajat media dengan berpijak pada nilai-nilai berita kenabian yang tidak mengenal pembedaan, baik berdasarkan kepentingan sesaat, suku, ras, agama, budaya, sospol, maupun kepentingan-kepentingan parsial lainnya.

Merawat Pesan Profetik Media 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Qs. An-Nahl: 125).

Sebagaimana yang sudah disinggung di atas, bahwa pesan kenabian yang digiring ke media, haruslah bernilai kebeneran profetik. Yaitu kebenaran yang memandang kejujuran, kedisiplinan, komitmen, egaliter, anti diskriminasi dan misi berita hanya semata-mata untuk menjalakan titah Tuhan dalam rangka memakmurkan dunia dengan berita-berita yang sehat dan mencerdaskan.

Maka disinilah, instrument profetik tersebut harus dijaga baik-baik oleh para pelaku media. Mulai dari pemilik media, pewarta, PJ redaksi, tim editorial, dan yang lainnya. Semua lapisan media harus bersatu padu mengantarkan berita yang menjungjung akurasi, kebenaran dan tentunya menjaga kepercayaan masyarakat agar tidak terjadi chaos yang membuat kondisi public menjadi tidak kondusif.

Maka, sangatlah tepat Firman Tuhan di atas agar kita menyeru dengan hikmah dan bijakasana dalam menyeru berita yang bernilaikan kebenaran. Menurut M. Quraish Shihab (2004) bahwa yang dimaksud dengan hikmah adalah yang lebih utama dari segala sesuatu, baik dalam hal pengetahuan maupun perbuatan.

Artinya berita-berita yang diangkat ke media mempunyai akurasi yang tinggi, baik ketika meramu teks maupun dalam mencari berita yang betul-betul memegang prinsip-prinsip kepewartaan. Tidak memihak kepada yang bayar, namun memihak kepada kebenaran yang akan melahirkan kelapangan kepada segenap institusi media.

Dalam konteks sejarah, kita bisa belajar kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau membangun Kota Madinah, terlebih dahulu melakukan kontrak kerja dengan pribumi masyarakat  Madinah yang kita kenal dengan sebutan Piagam Madinah. Spirit Piagam Madinah tersebut, diantaranya menjungjung tinggi asas kejujuran, kebersamaan, keseteraan, keadilan, melindungi segenap lapisan masyarakat, anti diskriminasi, dan sportif dalam membawa kebenaran.