Dalam beberapa tahun terakhir, radikalisme menjadi tema yang seksi untuk dibicarakan. Selain karena beberapa kejadian bom bunuh diri, juga didorong oleh suasana pilihan presiden. Terma “radikalisme” seperti menjadi bola liar yang diperdagangkan kesana kemari.

Saya kemarin sempat menduga bahwa pasca pilpres, perdebatan tentang radikalisme akan menurun. Tapi ternyata dugaan saya salah. Tema radikalisme nampaknya masih dianggap terlalu sayang untuk tidak “dimanfaatkan”.

Wacana menteri agama yang baru, yang hendak melarang cadar bagi setiap aparatur sipil negara adalah salah satu indikasinya. Ide menteri agama ini seperti sedang mengkonfirmasi bahwa pemerintah, melalui menteri agamanya, masih akan menjadikan radikalisme sebagai musuh utama bagi negara. Hal ini setidaknya dalam lima tahun ke depan.

Di tingkat akar rumput, perbincangan tentang radikalisme terasa lebih keras lagi. Beberapa orang yang sensitif dengan simbol-simbol Islam tertentu, seringkali menghakimi pemakai simbol tersebut sebagai kelompok radikal. Penghakiman ini seringkali saya jumpai dilakukan dengan cara yang ngawur. Mereka asal menyebut radikal setiap orang dengan simbol keislaman tertentu.

Secara dasar, radikalisme (agama) diartikan sebagai sebuah sikap yang meskipun tidak selalu melakukan aksi-aksi kekerasan namun, pendukung radikalisme berpotensi terjebak dalam aksi-aksi kekerasan (Chaidar S. Bamuallim dkk, 2018). Makna yang tidak jauh beda juga disampaikan oleh Noorhaidi Hasan (2008) maupun Zaki Mubarak (2007). Hanya saja makna radikalisme ini seringkali kabur, atau memang justru sengaja dibuat kabur (maknanya) oleh mereka yang coba mengambil sikap atas nama perlawanan terhadap radikalisme.

Sebuah contoh sederhana adalah apa yang pernah terjadi di Yogyakarta. Awal tahun 2018, UIN Sunan Kalijaga sempat heboh dengan wacana pelarangan cadar di lingkungan kampus. Wacana ini disampaikan pihak rektorat sebagai tanggapan atas semakin maraknya kasus radikalisme. Meski kemudian wacana “pembinaan” terhadap mahasiswi yang bercadar ini dihapus.   

Cadar ditengarai sebagai simbol radikalisme-ekstremisme yang kemudian berujung pada terorisme. Dengan alasan demikian, cadar hendak dilarang di lingkungan kampus UIN. Meski kemudian, pihak kampus menggunakan alasan pengenalan identitas agar mudah dikenali sebagai argumen mereka dalam pelarangan cadar.

Dalam keterangan yang disampaikan pihak kampus, mereka menyebut bahwa dengan cadar, seorang mahasiswi akan sulit dikenali. Ini bahaya terutama saat memasuki masa ujian. Tapi di luar alasan yang telah disampaikan pihak kampus, telah menjadi rahasia umum bahwa pelarangan cadar lebih kepada sentimen pihak kampus terhadap kelompok bercadar.  

Pada beberapa kasus, simbol Islam tersebut memang identik dengan radikalisme. Kasus bom bunuh diri di Surabaya adalah gambaran sederhananya. Hanya saja yang perlu tetap diberi catatan, menjustifikasi golongan dengan simbol tersebut (cadar) sebagai kelompok radikal, rasanya terlalu naif. Pada beberapa kasus, saya seringkali menjumpai orang yang bercadar, dan mereka tidak berideologi radikal. Jauh dari tuduhan yang selama ini mereka terima.

Bahwa radikalisme ada di Indonesia mungkin bisa dibenarkan adanya. Radikalisme banyak menyasar anak muda, secara ilmiah hal itu bisa diterima. Tapi keberadaan radikalisme yang sangat menakutkan dan maknanya yang abstrak, yang selama ini tersebar luas di masyarakat, itu perlu diperdebatkan. Belum lagi radikalisme yang seringkali diterjemahkan hanya sebatas simbol-simbol tertentu dalam beragama (berpakaian).

NU, dan Perannya dalam Pemaknaan Radikalisme

Pada awalnya saya menaruh harapan pada NU. Dengan modal anggota yang lebih dari dua puluh juta jiwa, NU tentu memiliki pengaruh yang kuat untuk meluruskan kesalahpahaman masyarakat atas makna radikalisme. Tapi sayang, NU justru terasa  Ironi. NU selama ini gagal mengontrol arti radikalisme yang diciptakan pemerintah. NU seringkali hanya sekedar mengamini segala yang dikatakan oleh pemeritah tentang radikalisme. Atau, justru apa yang ada di pemerintah adalah arti radikalisme yang diciptakan orang NU ?.

Saya seringkali menyaksikan anak muda NU bersorak kegirangan saat tuduhan radikal dalam agama dialamatkan pada kelompok tertentu di Indonesia. Mereka tidak pernah berusaha mencari tahu siapa dan bagaimana kelompok yang dianggap radikal tersebut. Kalaupun ada sebagian anak muda NU yang berusaha mencari tahu siapa dan bagaimana kelompok radikalisme, jumlahnya masih terlalu sedikit. Kebanyakan hanyalah menghakimi berdasarkan apa yang mereka yakini.

Hanya dengan berargumen nderek kyai, mereka kemudian mengecam habis setiap kelompok atau perorangan yang dianggap radikal. Seringkali, didasarkan atas pergaulan atau gaya berpakaian mereka. Dasarannya, nderek kyai. Padahal, tidak semua kyai NU menunjukkan sikapnya yang menentang kelompok semacam itu.

KH Abdul Qoyyum Manshur, misalnya, pernah mengingatkan tentang bahaya pelabelan makna radikal. Dengan pendekatan teologis, Gus Qoyyum, demikian beliau sering disapa, mengingatkan akan bahaya menuduh radikal pada saudara seiman. Kegelisahan Gus Qoyyum bukan tanpa alasan. Fenomena warga NU yang seringkali secara gegabah menuduh kelompok tertentu sebagai radikal memang seringkali kita jumpai.

Sayangnya, kyai-kyai yang bersikap kritis terhadap pemaknaan radikalisme di kalangan NU tidaklah banyak. Kyai dengan pemikiran seperti ini juga seringkali gagal mendapatkan “panggung” yang luas di kalangan warga NU.

Mereka lebih menyukai kyai-kyai yang main langsung klaim radikal. Pada banyak kesempatan, saya bahkan sering menemui anak muda NU yang justru lebih menyukai seorang yang mengaku NU sambil melakukan penghakiman pada Islam golongan lain sebagai radikal. Daripada mengikuti kyai yang mengajak berfikir runtut serta melakukan penilaian secara adil terhadap kelompok radikal.

Ah, entahlah...