Mahasiswa
4 bulan lalu · 93 view · 3 menit baca · Politik 78227_93353.jpg

Mendongkrak Elektabilitas Jokowi lewat Turnamen Mobile Legends

Kantor Staf Kepresidenan, bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga, baru-baru ini merilis berita tentang akan diadakannya turnamen Mobile Legend bertajuk “Piala Presiden Esports 2019” memperebutkan piala presiden RI.

Ini merupakan event perdana kompetisi game online memperebutkan piala orang nomor satu di Indonesia, sejak negara ini didirikan. Maklum saja, selama era kepemimpinan enam presiden sebelumnya, yang namanya game Mobile Legend belum ada.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan, ide menggelar perhelatan ini datang dari Presiden RI Joko Widodo. Menurutnya, presiden melihat putra-putri Indonesia memiliki minat. Untuk itu, lompatan teknologi perlu dimanfaatkan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

Menambahi pendapat pimpinannya, Moeldoko menilai perhelatan ini akan menanamkan nilai-nilai sportivitas, disiplin, kerja sama dan kolaborasi. Selain itu, menurutnya, event ini juga akan mendukung perkembangan esports di Indonesia.

Dari aspek kepedulian terhadap perkembangan teknologi, serta perubahan minat masyarakat khususnya generasi muda di zaman yang kerap dinamakan milenial ini, apa yang disampaikan presiden itu adalah hal yang tepat. Pemimpin harus bersifat fleksibel dan mampu menerima perubahan-perubahan. Namun tidak mengesampingkan budaya-budaya yang sudah ada sebelumnya.


Di sisi lain, terlepas dari apa yang menjadi motif presiden menggelar ajang ini, baik diterima atau tidak, dalam perspektif penulis, perhelatan ini akan memberikan sumbangsih terhadap elektabilitas Joko Widodo, dalam posisinya sebagai calon presiden periode 2019 berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin.

Elektabilitas dimaksud akan terdongkrak disebabkan oleh sejumlah hal, yang secara kebetulan atau disengaja, dalam rencana pelaksanaan kompetisi ini. Faktor tersebut antara lain: masalah waktu, jenis permainan yang dipilih, dan sasaran peserta.

Sesuai data yang tertera di jadwal, turnamen dimulai pada 09 Februari 2019 dan berakhir pada 31 Maret 2019. Jadwal ini bersentuhan dengan masa-masa kampanye pemilihan umum 2019. 

Tentunya ada angin segar buat calon petahana selaku pihak yang menyelenggarakan pertandingan. Euforia dari perhelatan ini nantinya juga belum lekang di saat pelaksanaan pemilu pada 17 April 2019 mendatang.

Jokowi bersama punggawanya juga cermat dalam memilih permainan yang dipertandingkan: Mobile Legend. Ya, sebuah game online yang tengah digandrungi saat ini, khususnya di kalangan generasi muda. 

Dimaz Wiratama, Manager Operasional Moonton Indonesia mengatakan, hingga September 2018, pemain aktif Mobile Legend di Indonesia mencapai 50 juta per bulan. 

Angka tersebut tergolong fantastis. Secara perhitungan kasar nan acak-acakan, dari jumlah itu bisa kita perkirakan yang sudah punya hak pilih untuk pemilu berkisar 25 juta.

Dalam perspektif penulis, kompetisi diadakan untuk menghasilkan pesan moral bahwa Presiden Joko Widodo adalah orang yang mampu mengikuti semua perubahan zaman serta peduli terhadap apa yang disukai generasi muda.


Sejenak melepaskan diri dari kepedulian Joko Widodo terhadap generasi muda dan motif di balik semua itu, penulis ingin mencoba menuangkan pengamatan tentang game online yang satu ini, khususnya di daerah tempat saya menuliskan ini, Kota Pematangsiantar, sebuah kota berpenduduk multi-etnis di Provinsi Sumatra Utara.

Game online ini telah menyita banyak waktu para penggunanya. Orang akan tahan duduk berlama-lama saat memainkannya. Seakan terbius, sampai-sampai sahabat yang datang pun kadang tidak disapa lagi. Waktu yang terbuang sia-sia dan interaksi yang semakin terkikis menjadi buah dari permainan ini.

Kondisi-kondisi seperti itu bisa terjadi di sejumlah tempat: warung, kampus, rumah, bus, kereta api, dan tempat lainnya. 

Di warung, misalnya, orang yang duduk satu meja bisa tidak saling menegur walau sudah duduk berjam-jam. Kampus juga demikian, waktu untuk membaca literasi terkesan jadi berkurang setelah kehadiran game buatan asing ini.

Keparahan yang sama juga terjadi di rumah. Kalau sudah asyik dengan permainan yang satu ini, si anak terkadang asal sahut saja menjawab pertanyaan orangtuanya. Pekerjaan di rumah bisa saja terabaikan akibat keasyikan memainkannya.

Permainan yang tidak boleh asal main tinggal saja itu sepertinya mampu menghipnotis jutaan orang lintas-kalangan. Tidak peduli apa profesinya. Mulai dari tenaga pendidik sampai kepada orang yang kurang terdidik; dari pengusaha dan juga bahkan sampai penguasa. Ya, penguasa. Buktinya penguasa menjadikannya kompetisi sekarang.

Pastinya publik mengapresiasi kepedulian Presiden Joko Widodo terhadap candu generasi milenial ini. Namun di balik itu, hal-hal yang menjadi efek dari permainan ini haruslah tidak luput juga dari perhatian pemerintah, yang saat ini di bawah pimpinannya.

Perhelatan ini pastinya akan berimplikasi, khususnya untuk menyanggah orang yang mencoba melontarkan kritik terhadap permainan ini. 


Orang yang sudah ‘kecanduan’ game ini terkesan akan mendapat semacam pembelaan baru. Kritik terhadapnya akan dianggap pepesan kosong. Sebab dalam persepsinya, pemerintah sangat mendukung permainan ini.

Tentunya kita tidak menginginkan generasi bangsa ini menjadi orang yang kurang berinteraksi, tidak menggunakan waktu sebaik mungkin, dan hal-hal negatif lainnya akibat dari kemajuan peradaban.

Terlepas dari naik atau tidaknya elektabilitas Joko Widodo akibat dari kompetisi ini, yang pasti hal-hal negatif sebagai efek dari permainan Mobile Legend hendaknya tak luput juga dari perhatiannya.

Artikel Terkait