Sejak saya lahir, saya tidak didampingi oleh bapak. Beliau sedang bekerja di luar kota. Hanya telegram dari kantor pos terdekat waktu itu yang dikirimkan mama segera setelah melahirkan: “anakmu sdh lahir koma perempuan ttk.” Meleset dari taruhan dengan teman-teman beliau, saya merasa ada sedikit kekecewaan karena saya bukan laki-laki seperti harapan beliau.

Masa kanak-kanak yang saya lalui tidak pernah melekat sedikit pun kenangan manis bersama bapak. Sampai sekarang pun, jika ada hal yang berurusan dengan beliau, rasa-rasanya merepotkan. Banyak hal tidak menyenangkan pada masa kecil yang berdampak pada sikap saya pada bapak.

Masih lekat dalam ingatan, dipukuli dengan sapu lidi sampai patahan lidinya masuk kulit, dipecut sampai berdarah-darah, dijejal lombok segenggaman tangan, digerojok air dan dikurung di kamar mandi, dan entah apalagi kejadian lain yang tidak saya ingat saking terlalu banyaknya. Umur saya masih TK waktu itu.

Mau tidak mau, psikis mama banyak terpengaruh.Tak terhitung berapa ratus kali mama mendapat cacian dan bentakan. Mama menjadi emosional dan mencari pelarian. 

Watak mama yang juga keras menjadikan saya nggak ada jiwa keibuan sama sekali. Bermasalah dalam komunikasi dan kepercayaan diri. Tetapi mama adalah single fighter yang tangguh, sanggup menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi tanpa campur tangan sedikit pun uang dari bapak.

Syukurlah mereka berdua sudah lama bercerai, sejak saya kelas 4 SD. Kenapa kok nggak dari dulu aja sih? Eh, tunggu, kalau mau mundur lagi, kok bisa-bisanya milih bapak saya untuk jadi suaminya? Padahal Mama itu bunga desa loh. Banyak pemuda, mulai dari perangkat desa, dokter, dll yang pdkt katanya. Masa nggak lolos seleksi? Bapak itu apa nggak keliatan watak dan perangainya dari dulu seperti itu?

Ah, terserahlah. Saran untuk yang belum menikah kayaknya perlu dipertimbangkan tes psikologi untuk calon suami deh.

Kealpaan sosok bapak sedikit banyak berpengaruh terhadap kepribadian saya. Pada masa kuliah, saya menampilkan karakter slengekan, tomboi, meremehkan laki-laki. Hati saya masih lebih keras daripada batu dan watak saya jauh lebih kaku daripada kayu. Saya terbiasa mandiri karena sedari kecil sudah biasa apa-apa dilakukan sendiri.

Untungnya zaman dulu nggak sekejam zaman sekarang. Waktu TK walaupun terbilang dekat, orang tua mana yang berani melepas anak berangkat sekolah sendiri? Jarang atau mungkin bahkan nggak ada. 

Kelas 4 SD, masih baru belajar sepeda federal, saya diutus untuk menukar durian karena alasan busuk. Belinya di desa sebelah, lewat kuburan, malam malam jam 9. Takut? Banget. Ini perjalanan malam saya pertama kali tanpa siapa-siapa. Saya sempat dipisuhi bakul duren, diiyain aja.

Belakangan setelah punya anak, saya sadar ada yang nggak beres dengan diri saya. Saya mudah marah karena hal sepele. Setelah marah menyesal namun kejadian tersebut berulang kali terjadi.

Beruntungnya menjadi orang tua milenial, saya ikut komunitas parenting dan pengembangan diri. Dari sana saya tahu kalau di dalam diri saya ada yang namanya Innerchild. Anak kecil yang terluka, kecewa karena salah pengasuhan orang tua.

Wah, yang dulu saya pikir baik-baik saja ternyata ada lubang hitam besar di dalam diri saya. Pola asuh yang saya benci yang dilakukan oleh bapak dan mama saya ternyata tanpa sadar saya lakukan kembali pada anak saya. Lingkaran setan yang harus segera diputus. Melalui komunitas yang baik dan suami yang mendukung, saya, walaupun masih menyimpan Innerchild, sudah sangat jauh berkurang kadarnya dibanding dulu.

Berdamai dengan luka masa lalu bukanlah suatu perkara mudah. Apalagi luka itu sudah terlalu lama ditorehkan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi yang terdekat dalam hidup kita. Kekosongan tersebut perlahan terisi aura positif. Belajar mencintai diri sendiri butuh usaha yang begitu besar untuk saya yang merasa terbuang dan tersisih.

Walaupun terlambat, saya masih punya kesempatan untuk sembuh. Karena sekarang ada orang yang membutuhkan saya, ada orang yang ingin saya perjuangkan. Ada alasan untuk keberadaan saya, suami dan anak-anak saya yang sangat berharga. Untuk mereka saya bangun dan berusaha terlahir kembali. Pisau yang menikam saya tidak boleh digunakan lagi untuk alasan apa pun, harus dibuang jauh-jauh.

Memaafkan adalah perkara mudah bagi saya asal orang tersebut taubatan nasuha. Nggak ngulangi lagi apalagi berkali-kali. 

Saya sudah mencoba berpikir positif terhadap bapak saya. Tetapi hal yang terjadi kenyataannya tidak demikian. Bapak tahu kalau saya tidak suka pada beliau, makanya kalau ada apa-apa selalu memilih menghubungi adik saya. Dan hal itu tidak membuat saya cemburu sama sekali. Monggo-monggo.

Pernah suatu hari beliau mengungkapkan bahwa beliau ngerti ketidaksukaan saya. “Kamu itu nek benci mbok ojo nemen-nemen, ngerti nggak kasus anak yang sekarat karena belum minta maaf sama bapaknya?”. What?! Yang terluka siapa, yang minta maaf siapa? Saya kadang nggak ngerti sama jalan pikiran beliau. Kok bisa semua hal itu diputar balik, playing victim dan manipulatif. Arghh. 

Asudahlah. Selama nggak mencampuri urusan dapur saya, saya akan hidup adem ayem saja. Bertanya kabar sekadarnya. Kalaupun berkunjung ke rumah beliau pasti wejangannya panjang lebar dan tinggi, menggurui, satu arah, dan bikin merah telinga.

Cara terbaik membalas bapak menurut saya adalah dengan tidak menjadi pribadi seperti beliau. Bagi saya, kata benci dan dendam sudah lebur dan kabur, tidak saya temukan lagi batasan yang jelas. Tidak ada istilah mantan bapak maupun mantan anak. Kami berdua diikat oleh pertalian nasab. Nggak bisa diubah dan dipilih ulang. 

Saya nggak tahu siapa yang sebenarnya menjadi durhaka. Saya percaya orang tua boleh menuntut bakti anak kalau mereka sudah menjadi orang tua yang benar. Menanam dulu baru bisa menuai hasil. Biarlah saya mewujudkan bakti saya lewat doa yang entah kapan terwujud. Semoga bapak sempat dibukakan hatinya sebelum berpulang.