Dunia begitu padat.

Di antara keriuhan dari pelosok-pelosok semesta, aku bisa merasakan seluruh harapanku memelesat, tumpah ruah menyesaki dua gerbang takdir, mencari tempatnya untuk singgah.

• • •

Hari ini, Tuan Harapan terlihat lelah.

“Ada apa, Tuan?” tanyaku penasaran. Tuan Harapan terduduk, mengipasi dirinya dengan topi emas berpendar-pendar.

“Aku tidak tahu. Aku hanya menunggu giliran untuk masuk ke gerbang yang benar,” jawabnya singkat.

“Sampai berapa lama? Bukankah dua gerbang itu bisa kaupilih sendiri?” tanyaku lagi. Sungguh membingungkan melihat betapa diriku berusaha menginterpretasikan cara kerja sebuah harapan.

“Aku sudah lama di sini, Nona. Mengantre. Tolong jangan tanyakan lagi mengapa aku tak kunjung berangkat.” Gawat. Ia mulai gusar. Aku mundur perlahan.

“Entah harapan apa yang kubawa, tetapi penjaga gerbang berkeras bahwa giliranku masih panjang, dan aku harus terus menunggu.” Nada resah terselip dalam suaranya.

“Maaf, Tuan, aku tidak mengerti. Mengapa kau harus menunggu, sementara gerbang itu terbuka lebar dan yang lainnya bisa keluar masuk dengan bebas?” Aku butuh penjelasan, dan semua ini belum masuk akal.

Tuan Harapan terdiam. Ia tercenung menatap lantai.

“Seharusnya kautanyakan hal itu pada penjaga gerbang, bukan padaku,” ia bergumam, berpikir sejenak.

“Begini saja, Nona. Bisakah kau berhenti bertanya dan membiarkanku menjelaskan?” pintanya. Kentara sekali ia sudah jengkel dengan pertanyaanku.

Aku mempertimbangkan usulan itu, lalu menolaknya dengan halus.

“Tidak bisa, Tuan. Segala hal yang ada di sini asing dan di luar kendaliku. Aku berhak untuk bertanya. Kau juga tidak mau aku salah saat menafsirkan semua ini, bukan?”

Argumenku lancar. Tuan Harapan mengangguk-angguk. “Kau memang keras kepala. Setidaknya tahanlah pertanyaanmu itu sampai yang benar-benar penting, Nona, atau aku tidak akan menjelaskan apa-apa.”

Baiklah, itu wajar. Aku mengiyakan.

“Begini, Nona. Ada Doa, Harapan, dan Takdir. Kami bekerja sama. Atas instruksi dari-Nya, kami menentukan segala pinta para manusia, apakah akan berakhir baik atau buruk.

“Doa-doa dilayangkan, mereka terbang pada kami, para Harapan, untuk kemudian mengantre menjemput Takdir. Para Harapan yang akan berakhir buruk, mengenakan topi kelabu. Sementara aku? Aku adalah Harapan yang akan berakhir baik. Apa pun itu.” Sebuah senyum kecil terulas, ia melambaikan topi emasnya.

“Kami tak pernah tahu takdir macam apa yang akan menanti manusia. Kami hanya diberi intuisi kuat untuk memilih, apakah nantinya harapan mereka akan berakhir baik, buruk, atau tidak pernah memiliki akhir karena terlalu mustahil.”

Aku tertawa pelan. Terlalu mustahil, ya.

“Apa yang kaulihat keluar-masuk dengan bebas itu sebenarnya tidak, Nona. Kami sudah memiliki jadwal, dan setiap harapan yang sudah mengantarkan takdirnya akan keluar — mengulangi hal yang sama, setiap harinya.” Tuan Harapan menghela napas, panjang dan berat.

“Ah, dapat kubayangkan betapa berserinya wajah anak manusia yang harapan baiknya terkabulkan nanti.” Tatapannya menerawang, ada sorot kerinduan yang terpancar jelas.

Lalu apa yang membuatmu bertahan untuk menunggu, Tuan? Kau bisa saja menukar harapan yang kaubawa dengan waktu yang lebih singkat, melupakan yang sekarang, dan mencari harapan baik lainnya,” tanyaku, terlalu penasaran untuk menahan diri.

Tuan Harapan belum mengantisipasi pertanyaanku. Ia terdiam cukup lama, memilah kata demi kata. Aku sudah tak sabar menanti jawabannya. Bagaimana sebuah harapan bisa begitu sabar?

“…Entahlah, Nona. Aku seperti terikat. Firasatku mengatakan harapan ini begitu besar, dan akulah yang harus menanggungnya. Aku tak ingin ada Harapan lain mengambilnya dariku,” katanya. Tegas.

“Aku akan terus bertahan. Aku sudah membayangkan binar wajah anak manusia yang harapannya sedang kubawa. Tawa dan tangis bahagianya, sinar matanya, rasa haru dan bangga atas pencapaiannya, atas putaran nasibnya. Aku ingin ia tahu dirinya berhak atas semua ini. Doa-doanya akan menjadi nyata.” 

Kali ini Tuan Harapan tersenyum lebar.

“Siapa pun dirinya, aku harap ia masih bersabar. Seperti aku yang tak pernah menyerah demi takdir baiknya, untuk masa depannya.”

Aku benar-benar terpana. Jawaban yang indah, jawaban yang menyadarkanku bahwa hidup tak melulu soal ratapan nasib penuh keluh kesah.

Aku masih bisa berdoa, dan artinya harapanku akan terus ada, bagaimanapun hasilnya.

“Tunggulah aku di sana, Nak. Tunggu sampai aku berjalan melewati gerbang takdir itu. Aku harap kauingat bahwa semua ini tak lepas dari segala usaha dan doamu. Aku hanya perantara,” tutupnya sendu.

Aku kehabisan kata-kata, memutuskan untuk menyudahi percakapan ini.

“Tuan Harapan, sungguh terima kasih banyak. Izinkan aku pamit dan merenungi setiap kata dari jawaban Anda. Semoga penantian Anda berbuah manis,” pamitku, berusaha seformal mungkin.

Tuan Harapan mengangguk kecil, melambaikan tangan dengan ramah. “Sampai jumpa, Nona,” bisiknya lembut.

Aku mengerjap. Segalanya kembali normal.