Student
1 tahun lalu · 429 view · 5 min baca menit baca · Budaya 91736_84677.jpg
http://infornicle.com/types-of-listening/

Mendengar Cerita Diskriminasi dari Kawan

Seorang kawan berlinang air mata kala bercerita tentang masa kecilnya belasan tahun lalu di salah satu daerah di timur Indonesia. Ia bercerita dengan sangat runut. Mengingat ingatan demi ingatan, ketika perkara bahasa menjadi sangat serius di masa kecilnya, dan ketika kemampuan otaknya justru harus dingkari oleh lingkungan terdekatnya.

“Saya tau persis, waktu itu nilai saya yang tertinggi. Tapi setelah pengumuman keluar, nama saya ditempatkan di urutan kedua,” katanya.

Kawan saya ini, tentu tidak bicara tentang betapa penting nilai pada saat itu.  Hanya saja, ia ingin membuktikan kepada kawan-kawannya bahwa dengan keterbatasan bahasa, dengan budaya barunya yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan budaya di daerah asalnya di salah satu daerah di Nusa Tenggara, ia pun tetap bisa hadir ke permukaan.

Seiring waktu, ia terus dijatuhkan. Namun karena kebulatan tekadnya, ia menjadi orang pertama yang bisa keluar dari kampungnya dan berkuliah di salah satu universitas di Yogyakarta. Ia terus bercerita, berkirim pesan bahwa diskriminasi itu nyata namun tidak cukup mampu untuk membuat dirinya patah.

Seorang kawan yang lain juga bercerita tentang bagaimana menyesakkannya wacana “kafir mengkafirkan” ketika ia dibawa di ruang yang paling intim dalam satu keluarga, meja makan.

Kala itu, ayahnya terlampau emosi karena sesuatu dan lain hal. Ayahnya kemudian meminta ibunya untuk berhenti bekerja. “Yayasan itu milik kafir,” kata kawan saya dengan raut wajah yang tidak biasa. Ibu kawan saya ini, bekerja di salah satu yayasan pendidikan katolik di salah satu daerah di Pulau Jawa.

Kawan saya mencoba dalam waktu yang cukup lama berdamai dengan wacana meja makan yang tidak lagi hangat. Singkat cerita, ayahnya meminta maaf atas sikapnya.

Tentu tidak ada penghakiman dalam hal ini, namun bahwa berdamai dengan situasi emosional semacam ini tentu tidaklah mudah. Terlebih ketika ia justru masuk ke dalam ruang intim di keluarga kita. Kita akhirnya dekat secara fisik, namun menjadi jauh secara mental.

“Ini kali pertama saya menceritakan ini ke orang lain. Saya menyimpannya selama ini, jujur saya malu. Namun ini saatnya saya ceritakan,” ucapnya.  

Ada banyak sekali cerita-cerita tentang bagaimana diskriminasi terus ada dan berlipat ganda di satu sisi, dan usaha untuk berdamai di sisi yang lain. Meskipun, (meminjam kata-kata Ahmad Wahib) sikap seorang demokrat adalah tidak melakukan teror mental terhadap orang yang mau bersikap lain.

Inilah makna toleransi yang sebenarnya, membiarkan orang lain yang “berbeda” (paling tidak menurut asumsi kita) untuk hidup berdampingan sekalipun kita tidak menyenanginya. Lantas, apakah kita sudah cukup toleran? Ataukah hanya sekedar permisif?

Tentang berdamai, seorang kawan saya yang kristiani misalnya, ia harus mencoba berkutat lebih keras dengan hati nuraninya ketika usahanya untuk menyuarakan perdamaian diuji oleh adiknya yang ingin menikah secara Islam. Atau, seorang kawan yang lain yang dengan berani melawan perlakuan tidak mengenakkan dari sekumpulan orang di rumah makan kepada dirinya, ia balik mempermalukan mereka.

Cerita-cerita di atas hanya sedikit dari banyak cerita di luar sana. Hal mendasar yang bisa kita tanyakan kepada diri kita adalah kapan terakhir kali kita jadi pendengar yang baik?

Dunia akademik bisa saja menyajikan metode-metode yang memberikan ruang bagi orang bercerita dan orang yang lain mendengarkan, kemudian melakukan pencatatan. Namun dalam keseharian? Sejauh mana kita tidak menggunakan ilmu untuk ilmu, melainkan ilmu untuk kemanusiaan? Pertanyaan ini adalah serupa dengan pernyataan James P. Spradley, seorang antropolog.

Dalam berbagai kepentingan yang ramai dan gaduh hari ini, kita butuh kemampuan mendengarkan berbagai narasi dalam kehidupan kemasyarakatan kita, dan tidak terkungkung dengan cara berpikir bahwa narasi yang satu lebih baik dari narasi yang lain. Cukuplah sudah warisan kolonial yang pada masanya terus menerus mencekoki bangsa ini dengan perasaan rendah diri, melakukan generalisasi, menebar stereotip dimana-mana agar supaya kita mudah dikontrol.

Menjadi besar dengan cara mengkerdilkan orang orang lain itu tentu kejam. Meski, bukan pekerjaan mudah juga untuk merawat keragaman di satu sisi, dan tetap menghadirkan kesatuan di sisi yang lain. Namun inilah bhineka yang tunggal ika.

Dalam salah satu forum anak muda di Yogyakarta, tepat di hingar bingar perayaan Hari Sumpah Pemuda, saya tidak melihat anak-anak muda yang membawa kepentingan-kepentingan kelompok atau komunitasnya. “Dalam dialog, ada kata. Dan dalam kata, ada refleksi dan tindakan,” begitu kata Paulo Freire, orang yang mencurahkan banyak pemikirannya di bidang pendidikan. Dan sebagian dari mereka, telah hidup dengan itu.  

Namun, selain sebagai bagian dari kelompok tertentu, mereka adalah individu. Mereka bercerita banyak hal tentang diskriminasi, perlakuan tidak menyenangkan, perjuangan, hingga usaha untuk berdamai dengan banyak hal. Mereka bercerita tidak tentang orang lain, melainkan tentang diri mereka sendiri dan untuk mereka sendiri.

Ini tentu bukan upaya untuk merawat egoisme, namun benar kata Pramoedya Ananta Toer bahwa kita sudah harus adil sejak dalam pikiran. Usaha ini justru adalah upaya untuk berdamai dengan memori-memori tidak menyenangkan, mengeluarkannya dengan bercerita kepada orang lain, dan memahami bahwa upaya untuk merangkul orang lain sebaiknya dimulai dengan memahamkan diri bahwa “apapun yang terjadi, kita tidak sendiri”.

Communication Apprehension (ketakutan untuk melakukan komunikasi dengan yang lain) sebisa mungkin diruntuhkan. Psikologi Humanistik menyebut ini sebagai sesuatu yang berkaitan dengan “Konsep Diri”, pandangan kita tentang diri kita.

Jika kita berpikir kita akan gagal, maka kita akan benar-benar gagal. Sebaliknya, jika kita berpikir bahwa kita akan berhasil, maka keberhasilan juga jadi hal yang mungkin. Mengapa? Karena cara kita hidup, cara kita mengusahakan sesuatu akan dipengaruhi dari cara kita memandang diri kita terhadap sesuatu.

Konsep diri dibentuk melalui banyak hal, namun tentunya ia berperan sangat penting dalam membangun kualitas komunikasi interpersonal. Cerita yang mana yang ingin kita sampaikan, pesan apa yang kita ingin orang lain dengar, bagaimana kita me-recall memori, dll adalah hal-hal yang dipengaruhi oleh konsep diri ini.

Kita mengenal konsep diri positif juga konsep diri negative. Meski tidak ada manusia yang benar-benar hadir utuh dengan konsep diri positif maupun negatifnya. Namun, membangun dan merawat konsep diri positif membuat orang lebih mudah membuka diri.

Akhirnya, kita tidak pernah tahu cerita mana yang kita bagi yang justru mungkin akan membuat orang lain bisa belajar banyak hal dari kita. Sebaliknya, kita tidak pernah tahu pada cerita mana yang kita dengar, justru akan membangkitkan semangat yang nyaris hilang dari orang lain.

Dengan bercerita, kita belajar untuk berdamai dengan diri sendiri. Dan, dengan mendengar kita belajar lebih rendah hati dan menghargai keragaman pengalaman serta cara berpikir.

Sumpah Pemuda, 89 tahun yang lalu, tentu bukan hanya tentang verbalisme. Ia adalah aktivisme revolusioner yang menekankan bahwa kesatuan kita adalah keragaman yang dirawat di saat yang bersamaan. Selamat hari sumpah pemuda, mari mendengarkan, mari bercerita.

Artikel Terkait