1 tahun lalu · 487 view · 7 menit baca · Buku 99771.jpg
www.abdaziz.info

Mendemonstrasikan Kebebasan Berpikir

Ulasan "Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib"

...orang-orang yang berpikir itu, walaupun hasilnya salah,
masih jauh lebih baik daripada orang-orang yang tidak pernah salah
karena tidak pernah berpikir.
PPI, 17 Juli 1969

Sewindu setelah meninggalnya tokoh pembaharu dari Sampang, Madura bernama Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam yang berisi catatan kegelisahannya diterbitkan oleh LP3ES. Publikasi ini menjadi satu upaya bagaimana harusnya mengenang seorang pemikir yang sepanjang hidupnya turut mendedikasikan dirinya sebagai martir bagi perubahan.

Seperti catatan-catatan kegelisahan lainnya, sebut misalnya milik Soe Hok Gie yang diberi judul Catatan Seorang Demonstran, atau dari Kartini berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, PPI juga berisi pergulatan pemikiran yang kompleks dari penulisnya.

Banyak hal yang Wahib gelisahkan dan ia respon, termasuk yang paling kuat mendapat porsi di dalamnya adalah kebebasan berpikir. Nafas geraknya inilah yang mengukuhkan Wahib berdiri bak petarung berani mati di medan perang.

Sebagai gagasan yang dulunya paling banyak disalahpahami, terutama di kalangan kaum konservatif dan fanatik (dalam tradisi keagamaan), kebebasan berpikir pada akhirnya membumi. Bisa kita lihat, secara perlahan orang sudah mau mengikuti dan menerapkannya sebagai satu keniscayaan.

Meski belum seberapa, dan karena tidak seberapa itulah maka kita harus mendemonstrasikannya terus-menurus. Berharap si cebol meraih bulan, bukan masalah. Bahwa proses tidak akan pernah menghianati hasil. Begitu kira-kira harapan yang harus senantiasa terbangun.

***

Pergolakan Pemikiran Islam (PPI) merangkum banyak topik bahasan yang jelas melampui gagasan di zaman Wahib.

Semula, catatan yang berisi kegelisahan sehari-hari Wahib ini berbentuk tulisan tangan. Pengetikan kembali catatan itu dikerjakan oleh Mufti Madjidi, salah seorang yang terbiasa dengan tulisan tangan Wahib sejak mereka sama-sama di IPMI Yogya.

Setelah rapi, catatan-catatan itu kemudian dibagi ke dalam empat bab, dan diberi tema-tema yang pas agar memudahkan pembaca menangkap pokok bahasan yang digelisahkan Wahib. Dan seluruh proses penyuntingannya di-handle Ismed Natsir, dibantu rekan sejati Wahib, Djohan Effendi.

Menjawab Problem Keagamaan

Di bagian pertama, catatan-catatan kegelisahan Wahib dirangkum dengan tema “Ikhtiar Menjawab Masalah Keagamaan.” Tema ini menjadi isu sentral dalam pergulatan pemikiran Wahib. Di sana ia bicara tentang pentingnya program pencapaian, seperti pembaruan pemikiran Islam, dari sekadar terpaku pada cita-cita yang akhir saja.

Mencontoh Iqbal, Wahib menegaskan kembali bahwa Islam lebih mementingkan karya dan bukan cita-cita. Sayangnya, di mata Wahib, kita tak mampu mencapai penerjemahan kebenaran ajaran Islam tersebut. Kita selalu ketinggalan dalam usaha pencapaian dan cenderung eksklusif. Sehingga yang terjadi, dalam pandangannya, perjuangan kita (umat muslim) menjadi semacam perjuangan yang emosional dan sloganistis.

Dalam konsteks itu, sebelum beralih ke soal pentingnya pembaruan pemikiran Islam sebagai penegasan akan perlunya memahami Islam yang dinamis secara rasional, Wahib meletakkan ide kebebasan berpikir sebagai syarat pertama yang harus dimiliki seorang pembaharu.

Jangankan pada ide-ide atau nilai-nilai Islam, menyoal eksistensi Tuhan sekalipun harus menggunakan kebebasan berpikir sebagai pendekatan utamanya. Wahib menulis tentang ini secara apik:

Sebagian orang meminta agar saya berpikir dalam batas-batas Tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi? Apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan sendiri?

Saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan “adanya”. Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. Sesungguhnya orang yang mengakui ber-Tuhan, tapi menolak untuk berpikir bebas, berarti menolak rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekadar kepura-puraan yang tersembunyi.

Meski demikian, Wahib pun mengakui adanya batas dalam berpikir dan tidak terlalu mendewa-dewakan kekuatan berpikir manusia sehingga seolah-seolah absolut.

Berpikir bebas memang bisa salah hasilnya, begitupun dengan tidak berpikir bebas. Lalu mana yang lebih potensial untuk tidak salah? Dan mana yang lebih potensial untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru?

Kekuatan berpikir manusia itu memang ada batasnya, sekali lagi ada batasnya! Tapi siapa yang tahu batasnya itu? Otak atau pikiran sendiri tidak bisa menentukan sebelumnya. Batas kekuatan itu akan diketahui manakala otak kita sudah sampai di sana dan percobaan-percobaan untuk menembusnya selalu gagal...

Kalau sudah terang begitu, apa gunanya kita mempersoalkan batas, kalau di luar batas itu sudah di luar kemampuannya?...

Berikanlah otak itu kebebasan untuk bekerja dalam keterbatasannya, yaitu keterbatasan yang hanya otak itu sendiri yang tahu. Selama otak itu masih bisa bekerja atau berpikir, itulah tanda bahwa ia masih dalam batas kemampuannya. Dalam batas-batas kemampuannya dia bebas. Jadi, dalam tiap-tiap bekerja dan berpikir, otak itu bebas.

Untuk soal pembaruan pemikiran sebagai satu program pencapaian (karya), pertama-tama Wahib menyeru untuk menginsyafi bahwa pembaruan merupakan suatu urgensi yang harus berjalan terus-menerus. Pada prosesnya, tidak boleh ada masa istirahat, tidak boleh ada masa tenang.

Bagi Wahib, gerakan pembaruan adalah suatu gerakan yang selalu dalam keadaan gelisah, tidak puas, senantiasa mencari dan bertanya tentang yang benar dari yang sudah benar, yang lebih baik dari yang sudah baik. Proses ini merupakan proses yang tidak pernah selesai tapi selalu dikesankan menjadi selesai.

Ketika suatu organisasi pembaruan relatif sudah berhenti mencari dan bertanya, sudah puas dengan ide-ide yang ada, tidak mengadakan kritik-kritik terhadap ide-ide yang hidup di dalamnya, sudah berhenti gelisah dan gundah, sudah tidak ada lagi gejolak dan pergolakan ide di dalamnya, tak ada benturan-benturan ide yang insentif di tubuhnya, menurut Wahib, pada saat itulah organisasi pembaruan bisa dikatakan sudah berhenti menjadi organisasi pembaruan.

Dan karenanya, peninjauan kembali demi pembaruan itu sendiri adalah suatu keharusan yang tak boleh ditawar-tawar lagi. Hematnya, pembaruan adalah proses yang tak pernah selesai!

Posisi dan Peran Kaum Intelektual

Selain soal isu keagamaan (kebebasan berpikir dan pembaruan pemikiran), Wahib juga banyak mencatat kegelisahannya di wilayah politik dan keindonesiaan. Dalam PPI, catatan-catatan kegelisahan itu dirangkum dengan tema “Meneropong Politik dan Budaya Tanah Air.”

Seperti tema yang disuguhkan oleh penyunting, di bagian kedua ini Wahib banyak menulis tentang kekuasaan (pemerintah dan militer), demokrasi, juga tentang dasar negara, yakni Pancasila.

Ia juga tak luput memperhatikan bagaimana peran dan posisi kaum intelektual yang sesungguhnya sebagai agen-agen perubahan bagi bangsa dan negara, dan bukan sebagai “pelacur”.

Dalam menjawab problem tersebut, Wahib mula-mula membedakan kelompok intelektual dengan kelompok teknorat atau para scientist (ilmuwan). Dalam membedakannya, Wahib menegaskan pengertian intelektual dari dua aspek.

Pertama, pengertian yang sederhana atau yang minimal. Pada pengertian ini, kelompok intelektual adalah mereka yang terpelajar atau educated.

Kedua¸ pengertian yang ideal, yaitu kelompok intelektual adalah mereka yang educated (secara akademis), kreatif, memiliki gairah pengabdian dan bertanggung jawab (jujur, berani, cinta kebenaran, dan semacamnya).

Agaknya Wahib lebih memilih pengertian yang kedua. Bahwa kelompok intelektual adalah mereka yang educated, berkarakter, serta memiliki gagasan-gagasan sosial-politik. Kelompok intelektual ideal inilah yang melihat masalah kemasyarakatan dari segala aspeknya, dalam interrelasinya dengan aspek-aspek lain.

Adapun kelompok teknorat, di mata Wahib, mereka sama sekali tidak pernah mempersoalkan siapa yang berkuasa. Yang mereka tahu hanyalah bekerja, yakni membantu yang berkuasa (pemerintah).

Mereka tidak ada nyali untuk melawan, sebagaimana kelompok intelektual, melainkan sekadar mengikuti perintah dari atas. Inilah yang oleh Wahib sebut sebagai “pelacur intelektual”.

Sedang kelompok ilmuwan, guna membedakannya dari kelompok intelektual, kelompok yang terakhir ini hanya memusatkan diri di satu bidang saja (ahli atom, ahli ekonomi, ahli hukum, ahli linguistik, dan lain sebagainya).

Mereka kurang melihat relasi keilmuan yang mereka miliki dengan bidang-bidang lainnya dalam rangka kemajuan masyarakat. Jelas, ini berbeda dengan kelompok intelektual di mana pegangan mereka secara umum adalah kemanusiaan (humanity).

Guna mempertegas posisi dan peran kaum intelektual ini, Wahib merangkumnya secara singkat. Bahwa dalam proses kemajuan masyarakat, bangsa dan negara, kaum intelektual harus dan senantiasa berperan:

1. Menjadi pelopor atau inovator.

2. Memiliki pola pikir yang tidak sama dengan pola pikir secara umum (masyarakat).

3. Mereka responsif, ekspresif, dan formulatif.

4. Mereka kreatif, bukan reaktif.

5. Independent-aktif.

6. Jujur dan berani (intellectual courage).

7. Mereka tidak mencari simpati.

Dunia Kemahasiswaan dan Pribadi yang Selalu Gelisah

Dalam dunia kemahasiswaan, secara umum Wahib memporsir kegelisahannya untuk merenungkan posisi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai salah satu organisasi pembaruan di Indonesia.

Meski akhirnya ia keluar secara resmi sebagai anggota HMI, jejak dan gagasannya bagi HMI, dan bagi gerakan mahasiswa secara umum, tetap tumbuh dan subur. Seolah gajah yang mati tetap meninggalkan gading yang tak retak.

Selain itu, problem lainnya di dunia kemahasiswaan terjadi di tubuh perguruan tinggi sendiri. Wahib mencatat bagaimana perguruan tinggi di Indonesia belum sepenuhnya memasuki taraf yang fungsional.

Hal ini yang kemudian menjadi sebab lahirnya dua tipe mahasiswa, yakni student in the campus—mahasiswa yang terlibat semata dalam persoalan intra kampus, seperti kuliah, praktikum atau riset, dan apatis terhadap persoalan masyarakatnya (current problem); dan student in the political forum—mahasiswa yang melibatkan diri ke dalam masalah-masalah strategi politik, baik strategi permainan power atau strategi modernisasi (kultural).

Harus diakui bahwa sejak Wahib menggelisahkan itu sampai sekarang, perguruan tinggi di Indonesia, pada kenyataannya, belum sepenuhnya otonom. Dari segi teknis dan perencanan saja misalnya, tiap perguruan tinggi masih harus berkonsultasi banyak dengan pemerintah.

Dari segi administratif, agaknya peran pemerintah sangat menentukan. Sebagai contoh, dalam hal ini di perguruan tinggi negeri, seorang rektor masih ditentukan oleh pemerintah melalui kementerian pendidikan, atau kementerian agama seperti di UIN.

Dan tentang pribadi Wahib yang selalu gelisah, bagi penulis, ini hal yang sangat manusiawi. Bahwa tiap manusia, dalam perjalanan atau proses hidupnya, keragu-raguan, cemas dan gelisah adalah sesuatu yang niscaya. Begitulah Wahib dengan segala dinamika pemikiran dan kegelisahannya.