penulis
3 tahun lalu · 270 view · 2 menit baca · Gaya Hidup 4859911689_6b9cd9dc33_b.jpg

Mendekap Kebahagiaan

Jika saja saat-saat pertama datang ke dunia bisa diingat, alangkah bahagianya kita. Kala udara pertama kali dihirup, sejuknya mengalir masuk ke hidung lalu memenuhi paru-paru. Betapa melegakan. Mungkin diri terasa mengembang.

Ketika kecupan, pelukan dan belaian pertama dirasakan pada tubuh mungil kita. Hati juga mungkin terasa penuh. Inilah dia cinta, ucap kita yakin pada diri sendiri. Kasih sayang, perhatian dan kepedulian yang membuat sungguh betapa berharganya diri.

Saat pertama kali melihat cahaya, mungkin kita terkesima. Lalu ketika satu per satu benda mulai terlihat, kita tak kuasa untuk tak takjub. Senyuman di wajah ibu, tatapan ayah, warna selimut, dinding, lampu kamar, daun-daunan hijau di luar jendela, semuanya tampak berkilau. Betapa indahnya. Lalu kita merasa diri alangkah beruntung.

Namun, manusia selalu ditakdirkan lupa. Memori berharga itu lenyap entah sejak kapan. Hilang begitu saja. Bahkan menjadi sesuatu yang kadang tak kita sadari telah hilang. Kehilangan memang selalu dikaitkan dengan kepemilikan. Saat kita lupa pernah memiliknya, kita luput pula untuk menyadarinya telah hilang. Lalu alpa untuk berusaha mendapatnya kembali, mengingatnya kembali.

Padahal, sungguh ingatan itu alangkah berguna. Membuat kita mudah untuk menjadi sepenuh-penuhnya diri: hati yang menghangat, kepercayaan diri yang menguat, cinta kasih yang tertanam, rasa beruntung dan berterima kasih yang tak berujung. Semua rasa yang menjadi bagian tentang kebahagiaan. Sesuatu yang sering kita cari-cari dengan bersusah payah.

Sering bergiat-giat kita jemput bagian kebahagian itu pada kelas yoga, pada konsultasi psikologi atau malah pada tempat liburan yang jauh dari jangkauan. Ada juga yang menjemputnya pada dunia hingar bingar malam atau pada zat-zat adiktif yang menawarkannya sesaat dengan menggerogoti raga kita.  Tak sekali dua kali kita tersesat, pada pemberi kebahagiaan palsu. Kita telah lupa, bahkan hal sederhana bisa membuatnya ada. Terlupa, sama seperti kita melupakan memori pertama.

Detik ini, rasakanlah nikmatnya bernapas. Udara perlahan memenuhi paru-paru, lalu perlahan lepas bebas lagi ke udara lepas. Begitu berulang kali. Alangkah lega, diri terasa mengembang.

Detik ini, tataplah sekitar dengan kacamata keindahan. Bahkan rambu-rambu lalu lintas terlihat punya pesona. Warna hitam putih trotoar, segi-segi bangunan, bayang-bayang penyapu jalan. Apalagi bentuk abstrak dedaunan yang terhimpun pada pepohonan, langit, bunga, air. Tak lain adalah indah.

Detik ini, cecaplah sedapnya tiap gigitan makanan. Ada kekayaan rasa yang menimbulkan  bahagia. Bahkan juga pada air yang menyejukkan raga kita.

Detik ini, hitunglah berapa banyak kasih sayang bermuara. Melalui pesan singkat ibu yang mengingatkan untuk tak terlambat makan, melalui candaan sahabat, melalui semua senyuman yang diperuntukkan. Tak lain adalah cinta.

Kita lalu menyadari, seringkali kita melupakan sesuatu berharga hanya karena terbisa memilikinya, melihatnya, merasakannya. Namun saat kita meresapinya kembali, seoptimal diri, kita mendapatnya kembali, keberhargaan itu.

Resapi, rasakanlah, hayatilah. Seoptimal kita bisa merasa, melihat, mendengar, menikmati. Seolah baru pertama kali kita melakukannya, baru pertama kali merasakannya, baru pertama kali melihatnya. Lalu, entah bagaimana semua terasa alangkah lebih bermakna, lebih bernilai.

Akhirnya kita menyadari bahagia itu ada di sekitar. Melingkupi. Hanya saja kita lupa mendekapnya.