91095_56681.jpg
Metropolitan.id
Agama · 4 menit baca

Mendebat Ustaz Adi perihal Poligami

Ustaz Adi Hidayat, dalam suatu kesempatan, pernah diminta pendapat perihal poligami. Di YouTube, video yang tertera berjudul Bagaimana Poligami menurut Sunnah – Ust Adi Hidayat Lc MA, diunggah oleh akun Samudera Ilmu tertanggal 15 November 2017.

Pertama-tama, yang harus diluruskan adalah fakta, bahwa masih banyak orang yang salah kaprah tentang istilah poligami. Rocky Gerung (sebagai pakar terminologi) pasti akan geram sekali menyadari orang-orang sering mengartikan poligami sebagai banyak istri. Poligami adalah kata yang berasal dari bahasa Yunani. Poly yang artinya banyak, dan gamos yang berarti kawin. Jadi poligami secara istilah berarti mengawini lebih dari seorang istri/suami.

Sedangkan istilah yang digunakan untuk praktik seseorang yang menikahi lebih dari satu istri adalah poligini. Dan kalau sebaliknya (seorang perempuan menikahi lebih dari satu suami) disebut poliandri.

Kalau masyarakat yang kerap bertanya segala hal ke ustaz sudah paham konsep ini, baru kita bisa lanjut ke bagian berikutnya. Seperti kata Voltaire, If you wish to converse with me, define your terms. Bersepakat dengan suatu definisi adalah langkah awal untuk memulai perdebatan.

Kembali lagi ke Ustaz Adi Hidayat. Surat yang diterima berbunyi: Ada seorang suami yang berniat poligami, namun istrinya tidak mengizinkan suaminya nikah lagi. Bahkan jika suaminya nekat menikah lagi, maka istrinya minta cerai. Mohon sarannya, Ustaz. Yang model begini, kemungkinan sang penulis adalah suami itu sendiri, dengan harapan mendapat dukungan moral dari ustaz.

Namun, alih-alih mendukung, Ustaz Adi justru terlihat geram. Sejujurnya saya senang dengan sikapnya yang seakan tidak terlalu pro-poligami ini. Hanya saja, dalih-dalih yang ia sampaikan untuk menanggapi perihal poligami agaknya kurang tepat dan akurat. Mari kita simak argumennya soal alasan berpoligami.

Jika Anda khawatir, bahwa dalam kehidupan rumah tangga itu, Anda punya amalan-amalan lain, yang amal ini gak bisa Anda kerjakan kecuali menuntut bertambahnya istri. Ini dijelaskan setelah ia mengutip ayat ketiga surat An-Nisa (yang memang jadi dasar hukum praktek poligami).

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

Sayangnya, Ustaz Adi tampaknya kurang memahami betul tafsir dari ayat tersebut. Terjemahan ayat ini secara tekstual kira-kira begini:

Jika kalian takut tidak dapat berlaku adil kepada anak-anak yatim, maka nikahilah perempuan-perempuan lain yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.

Kita lanjutkan dulu penjelasan Ustaz Adi tentang poligami ini.

Kalau istri nambah suami, mustahil, gak bisa. Tapi kalau suami nambah istri, memungkinkan. Tapi kapan menambah istri itu? Ketika ada amalan-amalan dalam syariat yang menuntut Anda untuk bisa mendapatinya. Contoh, di masa nabi kasusnya anak yatim.

Sampai di sini, saya cukupkan dulu kutipan kata per kata Ustaz Adi, karena akan panjang. Rangkuman poin yang ingin disampaikannya kira-kira begini:

Pada zaman nabi, para sahabat senang mengadopsi anak yatim. Ketika mereka banyak mengadopsi anak yatim, mereka khawatir tidak dapat memberikan cukup perhatian kepada masing-masing anak. 

Pada kasus yang seperti ini, turunlah ayat di atas, yang memberikan solusi untuk pengadopsi anak yatim, agar mereka bisa menikahi lebih dari satu istri. Harapannya adalah, anak-anak yatim yang dirawat tidak akan kekurangan kasih sayang dan perhatian. (silakan cek kembali kontennya di YouTube)

Pendapat seperti ini wajib dikritisi. Karena Ustaz Adi telah salah kaprah terhadap ayat ketiga surat An-Nisa. Ia menafsirkan bunyi ayat jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim dengan kekhawatiran tidak dapat memberikan kasih sayang yang cukup kepada anak yatim yang diadopsi. Ini jelas keliru, sungguh keliru.

Pertama, kata “adil” yang dipakai dalam ayat tersebut adalah قسط . Dalam bahasa Arab, qisth memang berarti adil, tapi khususnya dalam hal yang bersifat timbangan (bisa ditimbang). Contoh, adil dalam penghitungan berat belanjaan, adil dalam pembagian harta warisan, dll. Maka jelas, yang dimaksud “takut tidak dapat berbuat adil kepada anak yatim” pada ayat di atas bukanlah perihal pembagian kasih sayang/perhatian.

Kedua, kata “anak-anak yatim” dalam ayat tersebut menggunakan bentuk jamak يتامى. Yatama adalah bentuk jamak yang biasa digunakan untuk anak yatim perempuan. Sedangkan anak yatim saja bentuk jamaknya biasa menggunakan kata أيتام (aytam). Jadi, maksud anak-anak yatim pada ayat di atas adalah khusus kepada anak-anak yatim perempuan. Lalu, apakah orang yang ingin mengadopsi anak yatim hanya terbatas pada anak yatim perempuan? Jelas, tidak?

Dari argumen pertama dan kedua, bisa kita simpulkan bahwa Ustaz Adi telah keliru saat menafsirkan ayat “Jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim”. Padahal, tafsiran ayat tersebut jauh dari persoalan mengadopsi anak yatim. Dalam redaksi tafsir Ath-Thabari, disebutkan bahwa Urwah bin Zubair bertanya kepada Aisyah tentang ayat ini. Lalu Aisyah menjawab:

“Wahai keponakanku, ada seorang anak perempuan yatim, dan ia ditanggung oleh walinya. Walinya ini tertarik dengan hartanya juga kecantikannya, lalu ingin menikahinya tapi dengan mahar yang rendah. Maka ini dilarang, kecuali ia adil dengan menyempurnakan pembayaran maharnya. Kalau khawatir tidak dapat berlaku adil (dalam pembagian mahar ini), maka nikahilah selain anak-anak yatim itu.

Jelas sudah ini bukan tentang kekhawatiran seseorang yang ingin mengadopsi anak yatim, tapi takut tidak dapat memberikan perhatian/kasih sayang yang sempurna kepada mereka. Lalu atas kekhawatiran ini mereka memilih untuk menikahi lebih dari satu istri. 

Malah saya rasa, dari awal Ustaz Adi telah keliru saat berkata “Jika Anda khawatir, bahwa dalam kehidupan rumah tangga itu, Anda punya amalan-amalan lain, yang amal ini gak bisa Anda kerjakan kecuali menuntut bertambahnya istri.” Lagian, amal perbuatan apa sih yang menuntut bertambahnya istri, selain perkara seksual dan keturunan belaka?