Presiden Indonesia Joko Widodo kini masih tengah menjalani tahun pertama periode kedua kepemimpinannya. Namun kenapa sudah ada pembahasan tentang siapa Presiden berikutnya?

Bukan. Ini bukan bermakna kita sudah mulai bosan dengan kinerja presiden yang sekarang. Itu soal lain. Sebagai penganut prinsip demokrasi yang ideal, kita rakyat Indonesia mestilah konsisten dengan putusan formal Pemilu 2019 lalu. Kita menghormati hasil pilpres tersebut, siapa pun pemenangnya.

Dan kita pun patut menjaga kesinambungan pemerintahan Jokowi, mendukung kebijakan-kebijakannya yang sesuai dengan konstitusi dan mengawalnya hingga selesai masa jabatannya. Kita perlu mempertahankan prestasi kita menahan diri untuk tidak melengserkan jabatan presiden di tengah masa kerjanya yang sah. Ya, prestasi yang hanya baru didapat ketika masa SBY.

Dalam catatan sejarah, semua presiden Indonesia tidak ada yang dengan mulus menduduki masa jabatannya, kecuali SBY seorang. Sukarno terpaksa turun karena demo besar-besaran di tahun 1966. Suharto juga sama dilengserkan oleh demonstrasi rakyat di tahun 1998. Habibie hanya mencicipi masa jabatan transisi. Gus Dur juga diturunkan oleh parlemen di tengah-tengah masa jabatannya. Megawati hanya meneruskan posisi yang ditinggalkan oleh Gus Dur.

Praktis, baru SBY seorang yang mulus berperan sebagai presiden RI ditinjau dari sisi masa pemerintahan. Dipilih melalui pemilihan presiden langsung pertama sekali, kemudian memenangkan Pemilu untuk jabatan periode kedua. Dan mengakhiri masa jabatannya sesuai dengan waktu yang diamanahkan konstitusi.

Kini Presiden Jokowi menjalani masa jabatannya yang kedua. Terlepas dari kinerja yang beliau tunjukkan, kita berharap Jokowi dapat mengikut jejak prestasi SBY dalam menjaga amanah jabatannya.

Kita tahu bahwa seberapa pun hebatnya prestasi kerja Jokowi, masa jabatannya adalah maksimal 10 tahun. Dan empat tahun ke depan kita perlu bersiap-siap untuk mencari tokoh pemimpin baru yang menggantikan posisi Jokowi.

Siapa kandidat Presiden 2024? Tentu lah banyak. Nama-nama seperti Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Gatot Nurmantyo, dan banyak lagi berseliweran di perbincangan media. Tentu ini preseden yang baik bagi demokrasi kita. Rakyat diberi peluang yang seluas-luasnya untuk membincangkan para kandidat ini. Semakin banyak kandidat semakin baik buat rakyat.

Di sisi lain, tokoh-tokoh yang menjadi perbincangan ini pun bebas untuk mematut diri menilai dan mempersiapkan kepantasannya untuk maju dalam kontestasi pemilihan presiden nanti.

Apa yang menjadi kriteria mendasar bagi rakyat untuk mendambakan sosok pemimpinnya di tahun 2024 nanti? Berikut list kriteria menurut pemikiran versi saya pribadi.

Pertama, pemimpin yang merakyat. Namun bukan yang pura-pura merakyat lho. Artinya sosok pemimpin yang bersungguh-sungguh menyelami aspirasi rakyatnya. Tidak mesti sosok merakyat datang dari kalangan rakyat jelata. Sosok yang dimaksud dapat dijejaki dari sikap dan perilakunya selama ini. 

Istilah kerennya, track record. Adakah kebijakan yang diambilnya menguntungkan kepentingan rakyat banyak. Atau ternyata hanya bermuara kepada kepentingan pribadi atau kelompoknya sahaja.

Kedua, pemimpin yang amanah. Artinya bertanggung-jawab dengan amanah tugas yang diemban selama ini. Kita dapat periksa dengan seksama bagaimana sosok ini bersikap dalam jabatannya. Adakah dalam kebijakan yang diambil ternyata melenceng dari tugas pokoknya sebagai pejabat publik. Seperti berkata bohong terhadap sesuatu yang pernah dijanjikan sebelumnya.

Ketiga, pemimpin yang kreatif. Kita juga mendambakan sosok yang kaya dengan ide-ide baru yang kreatif dan segar dalam menyusun program-program kebijakannya. Tantangan ke depan tentu semakin komplek, sehingga diperlukan sosok yang berpikir secara ‘out of the box’ dan mampu memecahkan persoalan bangsa dengan cara-cara yang unik dan cerdas.

Keempat, pemimpin yang berintegritas tinggi. Sosok ini ditandai dengan komitmen yang sangat teguh dan kuat dalam mempertahankan prinsip. Jika sudah memutuskan sesuatu akan selalu menjalankan putusannya itu dengan konsekwen. Dan yakin bahwa itu adalah keputusan benar. Tidak goyah dengan intervensi yang tiba-tiba mengganggu keputusan yang diambil. Tidak melakukan perbuatan koruptif juga salahsatu indikator pemimpin yang berintegritas.

Kelima, pemimpin yang relijius. Sosok relijius tidak mesti harus sosok ulama, santri atau pun pendeta. Sikap relijius yang diinginkan dari seorang pemimpin ditunjukkan oleh perilakunya yang konsisten menjalankan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya. Ritual ibadah yang dijalankan murni dari sikapnya yang taat pada ajaran agama, bukan dibuat-buat untuk tontonan publik.

Keenam, pemimpin yang berani dan tegas mempertahankan kedaulatan NKRI. Sepertinya pemimpin seperti ini adalah dambaan harga mati dari rakyat Indonesia. Karena rakyat Indonesia sejati adalah rakyat yang cinta tanah air dan rasa kebangsaan yang sangat tinggi. Sehingga dibutuhkan sosok pemimpin yang benar-benar berkomitmen menjaga keutuhan tumpah darah Indonesia.

Ketujuh, pemimpin yang demokratis. Pemimpin yang merangkul semua kalangan. Tidak pilih kasih. Mau mendengar. Sosok yang berdiri di atas kepentingan bersama. Sebelum mengambil sebuah kebijakan penting, peminpin ini mengumpulkan semua pendapat dari banyak kalangan dan  membuat pertimbangan yang matang. Sehingga keputusan akhir yang dieksekusi benar-benar mencerminkan sesuatu yang diterima oleh akal sehat publik.

Kedelapan, pemimpin yang mandiri. Sosok pemimpin mandiri ditunjukkan oleh sikapnya yang orisinal dan tidak gentar akan tekanan luar yang merongrong. Sosok ini memiliki kapasitas pribadi mumpuni dan sadar akan kekuatan dirinya. Sehingga tidak mudah dipermainkan oleh kepentingan oligarki dan atau yang sejenisnya.

Hm, gimana? Kira-kira ada lagi kriteria tambahan untuk mendamba sosok Presiden kita di tahun 2024 nanti? Silahkan ditimang-timang lagi yah.

Akhirnya, kita berharap semua kriteria di atas dapat menjadi pedoman objektif bagi kita untuk mendapatkan sosok ideal dambaan pemimpin 2024 nanti. Waktu masih panjang untuk kita menimbang-nimbang mana sosok yang paling memenuhi sejumlah kriteria tersebut. Beruntunglah kita yang kini hidup di alam demokrasi, dapat menghirup kebebasan seutuhnya dalam menemukan sosok pemimpin sejati.