Salah satu fenomena yang menarik setidaknya dalam dua dekade terakhir adalah terlihatnya kecendrungan untuk menjalani gaya hidup yang berbasis syariah, produk halal, atau dalam istilah sederhananya telah terjadi islamisasi dalam segala lini kehidupan di Indonesia.

Mulai dari bertambahnya masjid dan tempat-tempat ibadah, pertumbuhan jumlah orang yang berangkat haji dan umrah, berdirinya organisasi-organisasi Islam, bank-bank syariah tumbuh subur, gaya pakaian, hingga model dan sistem pendidikannya.

Menurut para pakar Indonesianis, setidaknya dua faktor yang menyebabkan terjadi Islamisasi di negeri ini; Pertama, tumbuhnya kecintaan terhadap Islam sebagai hasil dari kegiatan-kegiatan dakwah; Kedua, kondisi ekonomi yang semakin baik, banyak orang kaya baru.

Semakin tumbuh dan berkembangnya wawasan keislaman seseorang, keperluan terhadap produk-produk yang berbasis Islam pun menjadi sebuah peluang yang sangat menjanjikan. Salah satunya adalah keperluan terhadap lembaga pendidikan Islam yang modern, memadukan antara konsep Islam dan sains.

Keperluan yang mendesak terhadap sekolah semacam ini disebabkan menurunnya kepercayaan beberapa orang tua untuk menitipkan anaknya di sekolah-sekolah negeri. Lebih jauh lagi, mereka percaya bahwa lingkungan di sekolah Islam lebih aman dibandingkan dengan sekolah umum.

Kemunculan sekolah Islam yang berlabel unggulan menjadi harapan orang tua. Hingga kini, setiap Provinsi di Indonesia mempunyai sekolah Islam unggulan, baik yang berbasis asrama seperti pondok pesantren atau tidak.

Mengapa dikatakan unggulan ? Pertama; siswa-siswi yang masuk ke sekolah  jenis ini terseleksi secara ketat, sehingga input siswanya memiliki kualitas akademis yang cukup, bahkan unggul; Kedua, tenaga kependidikan (kepala sekolah, tenaga administrasi, guru-guru, dan terkadang disertai psikolog] diseleksi secara ketat dan kompetitif, sehingga tenaga kependidikan yang memenuhi persyaratan yang ditetapkanlah yang ada di sekolah jenis ini; 

Ketiga, Sistem pendidikan, terutama desain kurikulum dan proses implementasi kurikulum, yang diorientasikan untuk menciptakan [alumni] siswa yang memiliki multi-kecerdasan (multiply intelgences) dan berakhlakul karimah; keempat, mereka memiliki sarana dan prasarana yang sangat lengkap, dan tak jarang terkesan mewah, seperti laboratorium [bahasa, komputer], bengkel kerja, mesjid, dan sarana olah raga.

Keempat alasan ini, hampir tidak dimiliki oleh sekolah negeri pada umumnya. Dari segi kualitas guru misalnya, sekolah negeri cendrung memiliki guru yang apa adanya, meski kurikulum sudah berganti, gaya mengajar guru cendrung menoton. Belum lagi persoalan fasilitas yang sangat jauh dari kata lengkap. Kelas aja kadang bocor ketika musim hujan tiba.

Kendati mereka dapat predikat unggulan dan favorit di kalangan masyarakat, sekolah Islam juga mengekor dengan sistem sekolah negeri, hal ini merupakan amanat undang-undang pendidikan nasional tahun 1989. Oleh sebabnya, yang membedakan dengan sekolah negeri adalah adanya penekanan khusus pada pelajaran agama dan karakter, dan juga adanya bimbingan yang khusus untuk mengembangkan minat dan bakat. 

Satu lagi, yang  pembedanya adalah sekolah Islam lebih mahal berkali-kali lipat. Konon, uang pendidikannya lebih mahal dibandingkan uang pendidikan kuliah kedokteran.

Sekolah Elit Muslim Masuk Sistem Zonasi ? 

Dalam beberapa hari terakhir, isu yang sedang hangat didiskusikan adalah ada sistem zonasi masuk sekolah negeri. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam berbagai kesempatan menegaskan, penerapan sistem zonasi akan memeratakan kualitas sekolah. 

Sistem ini diikhtiarkan agar tak ada lagi status favorit bagi sekolah tertentu dan sekolah buangan bagi yang lain. Setiap sekolah mempunyai standar minimum sama, baik segi pengajaran maupun fasilitas. Sistem kasta favorit dan buangan harus dihilangkan karena bertentangan dengan keadilan.

Sekolah elit muslim tidak perlu khawatir dengan adanya sistem ini. Tanpa adanya sistem ini pun, mereka sudah mampu mendapatkan siswa-siswi. Daerah mereka pun beragam, dari luar kecamatan, luar kabupaten, hingga luar provinsi. Namun yang penting dicatat adalah, sekolah elit muslim itu mahal, banget. 

Sedangkan salah satu tujuan diterapkan sistem zonasi adalah adanya pemerataan jumlah siswa-siswi di sekolah negeri, biar tidak ada sekolah yang tutup. Cukup sekolah Islam yang di film laskar pelangi saja yang tutup karena tidak mampu membangun kelas yang kokoh, atau tidak mampu memberikan gaji yang layak kepada guru. Oleh sebabnya, pemerintah harus peka terhadap isu pemerataan jumlah siswa ini persekolah. Dan sistem zonasi adalah ikhtiyarnya.

Pendidikan ialah jalan ke masa depan. Ia bisa diwujudkan bersama-sama secara berkeadilan. Politik zonasi, dengan segenap konsistensi kebijakan pemerintah, membuka jalan ke sana. Ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa secara merata dan berkeadilan, tetapi juga berprestasi baik, merupakan keniscayaan yang dapat diwujudkan. Politik zonasi termasuk jalan revolusioner bagi terwujudnya hal tersebut.

Sistem zonasi yang dikembangkan ini sejalan dengan prinsip berkeadilan dalam amanat UUD. Meski banyak resistensi, mengubah sistem zonasi akibat desakan emak-emak di berbagai daerah bukan jalan yang terbaik. 

Bahwa diperlukan perbaikan dalam sistem zonasi, penambahan dan pemerataan fasilitas dan guru, peningkatan kualitas guru, itu benar adanya. Kemendikbud harus memastikan semua perbaikan itu berjalan secara terstruktur dan bertahap di daerah, sehingga semua sekolah mempunyai standar kualitas yang sama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Yang terlebih penting lagi adalah dengan sistem ini akan menghapuskan pandangan bahwa karakter siswa di sekolah umum negeri itu tidak terurus dibandingkan dengan sekolah Islam yang lebih berkarakter. Ke depan, tidak ada anggapan saling merendahkan di antara kedua sekolah ini.