89683_74548.jpg
TheOdysseyonline.com
Agama · 4 menit baca

Mendamaikan Logika dan Agama

 Sidang pembaca, ijinkan saya bertanya. 

 Menurut Anda, mungkinkah logika dan doktrin agama bertemu? Bisakah logika dan doktrin agama beriringan? Atau maukah Anda mendamaikan logika dan agama?

 Mengapa saya bertanya demikian. Tak lain karena tak hanya sekali, saya mencoba berdiskusi dengan mereka yang mengaku mendasarkan diri pada doktrin agama, namun tidak logis dalam berargumentasi membela pendapatnya. Mungkin, Anda pun pernah mengalami serupa.

 Sebelum Anda mengkritik pernyataan saya tersebut dan menyatakan tak semua orang yang mendasarkan diri pada agama akan tidak logis  berargumentasi, iya saya sepakat. Tak semua, pun saya tidak menyebut semua. 

 Umumnya mereka yang saya temui, yang tidak logis ini, adalah kawan-kawan yang tengah 'menemukan' keberagamaannya. Sebagian besar mereka bagian dari kelas menengah perkotaan, dengan minim jejak religiusitas sebelumnya. Bergabung dalam lingkar pengajian dengan kecenderungan pemaknaan Islam secara tekstual.

 Sidang pembaca, 

 Fenomena ini saya mulai benar-benar sadari saat bekerja di sebuah perusahaan di ibukota. Di mana sekelompok rekan kerja, rajin membombardir milist karyawan dengan tulisan-tulisan sarat nukilan ayat dan hadist. Namun, tak ada dialog di sana. Tak ada ruang diskusi. Tak ada tanggapan kala ditanya. Yang ada monolog.

 Tak sedikit kolega kerja yang bergabung dengan kelompok ini. Mungkin karena suara kelompok ini keras. Mungkin karena kelompok ini militan. Mungkin karena kelompok ini menawarkan pemaknaan yang simple, tidak njlimet, hitam putih dan instant.

 Mengadopsi doktrin yang pelan namun pasti merubah mindset mereka tentang pemaknaan agama. Bergeser dari pendengar monolog, menjadi penyebar monolog.

 Saya juga menemukan simbolisme memainkan peran penting, amat penting jika tidak menyebut paling penting. Simbol berupa atribut fisik, tampilan, jargon dan yel-yel, kostum hingga preferensi frasa dalam berbahasa. 

 Sidang pembaca,

 Kembali ke soal diskusi. Mencoba berdiskusi dengan mereka yang mengadopsi doktrin monolog amatlah pelik. Umumnya, diskusi mengasumsikan ada sebuah tema dengan batasan-batasan hal yang bisa dibahas di dalamnya. Sehingga perbincangan tidak ngelantur ke mana-mana dan tetap kontekstual. 

 Juga, ada logika yang digunakan di sana untuk mengajukan pendapat, mendasarkan argumen pada hal yang disepahami, membuka pikiran akan pemahaman beda dan lain sebagainya.

 Namun, seringnya yang terjadi, semua batasan itu diterabas. Konteks sering tidak dianggap penting. Tema X bisa tiba-tiba loncat ke Y atau Z. Yang lebih menjengkelkan, 'argumen'--untuk tidak menyebut klaim--mereka sering tanpa dilandasi alur pikir yang jelas. 

 Sering pula kawan-kawan macam ini berlindung di balik ujaran 'sesama saudara seiman tak boleh berprasangka buruk'. Atau 'hukum Allah dipertanyakan, apa mau jadi kafir'. Ada pula tendensi playing victim ketika monolognya dibedah secara kritis dengan menyebut 'agama/umat tengah dilecehkan/dinistakan'. 

 Kecenderungan melabeli doktrin kelompok sendiri sebagai hukum agama, kepentingan politik sendiri sebagai kepentingan umat, agenda pribadi atau kelompok sebagai kemaslahatan umat juga makin menggejala. Dan tak sedikit dari kita--mayoritas muslim--diam, entah karena cuek, jengah atau malas untuk mendebat mereka yang keras suaranya. Plus, tak sedikit dari silent majority ini yang 'khawatir' kalau bersuara kontra akan dilabeli anti Islam, liberal, kecebong, antek yahudi dan lain sebagainya.

 Sidang pembaca,

 Kembali ke pertanyaan awal, mungkinkan mendamaikan logika dengan doktrin agama? 

 Saya yakin bisa. Tak mudah, tapi saya percaya bisa. Ada beberapa hal yang membuat saya mengambil posisi ini. Pertama karena, logika adalah esensi yang dikandung dalam firman pertama yang turun. Iqra!

 Kedua, karena mengacu sejarah peradaban Islam sendiri, kemajuan dunia Islam dilandasi ayat pertama tadi, dipicu transfer ilmu pengetahuan--utamanya filsafat Yunani--lewat pengumpulan & penerjemahan buku-buku dari segenap penjuru bumi, didorong para ilmuwan berbagai bidang, dipayungi secara poltik, finansial dan budaya para penguasa.

 Logika dalam dunia Islam pernah berjalan beriringan. Logika dan ilmu pengetahuan dalam Islam mengantarkan kemajuan politik, ekonomi, sosial, budaya, seni bagi penganutnya. Logika dan ilmu pengetahuan pula yang memegang kunci kemunduran peradaban Islam dan pergeseran pusat dunia ke Barat dengan titik balik Renaissance.

 Sidang pembaca, 

 Jika sekarang menggejala kelompok-kelompok yang mengkampanyekan doktrin agama tekstual dan menafikkan logika, saya bertanya, peradaban Islam macam apa yang ingin mereka bangun? Jika semua perkara, dikembalikan ke teks kitab secara literal, seperti apa jadinya kehidupan ini? Jika ustadz ikut-ikutan bicara dan menafsirkan perihal keuangan, bisnis, kesehatan dan lain sebagainya sementara mereka tak punya ekspertise di sana, bagaimana nasib kita?

 Alih-alih maju ke depan menyonsong tantangan global yang makin berat dan kompleks, kita diajak masuk ke kapsul waktu dan disedot kembali ke abad pertengahan.  

 Bagi saya, akal dengan kapasitas intelektual adalah karunia luar biasa dari Yang Kuasa. Anugerah inilah yang membedakan kita dengan mahluk lain, membuat kita berpotensi jauh melebihi batasan materiil kita sebagai manusia, serta memungkinkan kita memenuhi visi sebagai wakil Nya di muka bumi.

 Potensi akal ini musti diasah dengan piranti bernama logika.  Sehingga berkembang, tajam, bernas dan memberi manfaat. Ibarat cermin dia butuh dipoles supaya tetap dan semakin mengkilap. Ibarat pisau dia musti diasah supaya tetak mengiris. Ibarat lentera dia butuh dituangi minyak supaya senantiasa benderang.

 Menjejali manusia dengan doktrik tekstual tak akan membawanya ke mana-mana kecuali menjadikan satu lagi corong monolog. Mengajak manusia berlogika, khususnya dalam beragama, akan bisa membawanya mewujudkan potensi sebagai manusia paripurna.

 Sidang pembaca,

 Demikian sedikit uneg-uneg saya. Jika Anda sepaham saya sangat bersyukur. Jika tak sepaham, mari kita bicarakan. Jika Anda tak peduli, tak pula saya akan paksakan. Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini.