Dari balik layar kaca, saya menonton Antonia Salzano Acutis dan suaminya, Andrea Acutis, sepasang suami dan istri asal Brazil yang maju ke depan altar Basilika St. Fransiskus Asisi. Keduanya menerima berkat dan ungkapan selamat karena putra mereka, Carlo Acutis dalam peristirahatan selama 14 tahun, dia akhirnya menerima berkat beatifikasi.

Tepat di masa pandemi 10 Oktober 2020, Carlo Acutis yang lebih tua setahun dari saya menerima doa dan berkat dari Gereja Katolik untuk proses beatifikasi. Bersama Mama, Papa, dan Bella, kami menonton proses pemberkatan Carlo. Maklum saja kami sekelurga cukup penasaran, karena Carlo Acutis sedang viral di kalangan umat Katolik dalam satu pekan terakhir.

Saya amat-amati kembali wajah sang ibu, Antonia, yang ditutupi masker. Haru dan syukur tersirat dalam matanya yang meneteskan air mata. Putra yang dia lahirkan 29 tahun lalu, yang meninggal pada usia 15 tahun telah melakoni hidup yang ditujukan bagi Tuhan.

Antonia mungkin tidak pernah menyangka akan menerima berkat, dukungan, doa, dan apresiasi dari umat seluruh dunia. Berkat hari ini mungkin tidak akan dia alami jika 29 tahun lalu, Antonia memutuskan untuk menggugurkan Carlo.

Antonia mengaku sempat galau saat mengandung Carlo. Kala itu, dia menikah muda dan pindah ke London bersama suami. Dia sangat ingin membangun karier ketimbang mengurus anak. Namun Carlo telah tumbuh sebagai janin dalam rahimnya.

Menarik memang melihat kisah hidup Carlo Acutis. Sempat menjadi anak yang tidak diinginkan oleh ibunya, dia malah menjadi titik balik yang mengubah hidup ibunya. Awalnya sang Ibu seperti halnya orang Katolik umum yaitu Katolik NAPAS, kalau gereja hanya saat Natal dan Paskah.

Hal itu justru sangat bertolak belakang dengan sang putra, Carlo. Lelaki jenius dan jenaka. Sejak SMP sudah ahli IT dan menciptakan website. Dia juga pribadi yang seperti saya generasi 90-an. Generasi yang hobi pakai hoodie, NIKE, dan pasang earphone sambil memantau dunia maya. 

Uniknya, Carlo ini tak pernah melupakan ekaristi harian. Di tengah kesibukan dunia, dimana kita seringkali begitu sulit meluangkan waktu berdoa dengan khusyuk, Carlo selalu menyempatkan waktu ikut ekaristi dan berdoa rosario.

Pria yang lahir pada 3 Mei 1991 ini memiliki motto hidup dan keyakinan, bahwa ekaristi adalah jalan tol untuk dia menuju surga. Tak heran jika dia membuat website yang berisikan konten keajaiban ekaristi. Hari gini, daripada bikin website rohani lebih baik bikin konten yang provokatif, yang seru, yang followernya banyak.

Sang programmer dan gamer ini didiagnosis menderita leukemia. Dia lalu mempersembahkan penderitaan atas sakit itu untuk Paus Benediktus XVI dan Gereja. Dia mengatakan “Aku mempersembahkan semua penderitaan yang harus aku derita untuk Tuhan, untuk Paus, dan Gereja. “

Dia meninggal pada 12 Oktober 2006 dan dimakamkan di Assisi atas permintaannya, karena cintanya kepada Santo Fransiskus Assisi. Baru-baru ini makam Carlo dibuka kembali, keadaannya masih utuh setelah 14 tahun. Inilah sebuah mukjizat yang dalam tradisi Katolik sebagai tanda beatifikasi, istilah gampangnya, proses pengesahan menjadi kandidat orang kudus. Masih ada sejumlah tingkatan lain untuk menyematkan Carlo sebagai Santo.

Namun sebagai tahap awal, Carlo sudah membuktikan dirinya sebagai anak muda, generasi milenial, generasi melek internet, anak modern penggemar hoodie dan games, tidak pernah lupa melibatkan Allah dalam tindakan dan aksi hidupnya. 

Dia bahkan sudah berhasil menguasai Operating System pada usia 9 tahun. Laku hidup Carlo terus menjadi inspirasi dan ragam kesaksian dari orang sekitar yang mengenal Carlo menjadi bahan-bahan yang memperkuat Carlo sebagai ikon orang muda, awam, di dunia era digital.

Seusai menonton misa beatifikasi Carlo, adik saya mengatakan, "mungkin dia di surga sekarang juga lagi ngobrol sama Tuhan kali ya. Dia dulu konsisten mengelola internet dan di tengah pandemi begini berkat internet semua orang bisa menonton Carlo." Refleksi Bella benar-benar mendalam dan itu benar.

Saya pun punya refleksi sendiri, ketika melihat Antonia, Ibu Carlo, saya bisa merasakan sebuah perasaan yang tidak layak sekaligus perasaan kekaguman. Perasaan tak pantas dan mungkin kesadaran sebagai pendosa. Biar bagaimanapun masa lalu yang pedih ketika membangun rumah tangga di usia muda, nyaris menggugurkan Carlo, tentu merupakan bagian yang aneh dalam lukisan hidup Antonia.

“Saya menyesal pernah ingin membuangnya. Dan itu dosa saya sehingga Tuhan tak memberi anak lagi bagi kami. Butuh 20 tahun untuk mendapatkan anak kedua. Saya percaya semua ini berkat doa Carlo. Pada usia 44 tahun, Tuhan mengaruniakan dua anak kembar Francesca dan Michele yang kini berusia 9 tahun,” ungkap Antonia.

Namun bisa jadi, bagian itulah yang mempercantik lukisan Antonia. Bahwa sejatinya, Tuhan tidak memilih dan mencintai mereka yang taat saja. Tuhan jauh lebih mencintai mereka yang mungkin sedang merasa tertekan, teraniaya, ditinggalkan, dan merasa begitu jauh dariNya. 

Mereka yang sedang tersesat dalam dosa sebab kita semua memang pendosa. Hingga mungkin yang terlintas dalam pikiran mereka adalah mengakhiri hidup atau hidup orang lain, persis seperti yang pernah dialami Antonia.

Demikianlah seperti ayat favorit saya, 1 Korintus 13:18. Kasih tidak berkesudahan. Tepat pada peringatan World Mental Health Day, mungkin kita perlu meluangkan waktu merefleksikan kata-kata Carlo.

"All people are born as originals, but many dies as photocopies." Kita tidak menjadi diri sendiri dan mencoba menjadi orang lain. Padahal diri kita apa adanya adalah citra Allah sendiri.

Hal paling utama dalam hidup adalah menjadi diri kita sendiri. Dengan mengenal jati diri, passion, kemauan dan hasrat, kita bisa mencapai jenjang konsolasi dalam hidup. Sehingga dalam penderitaan pun kita akan bisa tetap melihat sisi positif. Sebab, kita tak pernah tahu, apa yang dikehendaki Tuhan saat hidupmu terasa begitu berat.

Akhir kata, tetaplah ingat bahwa YOU ARE LOVED and LOVE NEVER FAILS, because GOD IS LOVE. Persis seperti kata Carlo, “Kristus hadir selalu dengan cara yang sama ketika pertama kali datang di dunia. Saat ini kita beruntung karena telah melihat-Nya di gereja lewat Ekaristi. Untuk apa kita menolak-nya? Kita perlu terbuka menerimanya."

Selamat beatifikasi, Carlo yang jauh disana! Selamat Hari Kesehatan Mental sedunia juga kawan-kawan.