Ada pertanyaan dalam sebuah grup telegram, "Apakah mungkin penularan Covid-19 bisa melalui uang? Kalau benar, apa saran desinfeksi yang tepat?"

Pertanyaan yang lain begini, "Apakah desinfeksi uang bisa dilakukan dengan menyetrika uang kertas? Bagaimana jika uangnya dalam jumlah ratusan juta?"

Kertas (termasuk uang) memang memiliki potensi sebagai media penularan Covid-19. Hal ini berdasarkan telaah literatur yang dilakukan Kampf et all (2020). Bahkan dikatakan bahwa jenis virus SARS CoV (bukan Covid-19) dapat bertahan di permukaan kertas, kayu, plastik, dan gelas selama 4-5 hari kondisi suhu ruang.

Jangan panik dulu, paling tidak sekarang kita jadi tahu memang ada potensi Covid-19 menyebar melalui permukaan benda mati. Dan ini sekaligus menjawab pertanyaan pertama di grup telegram tadi.

Mengenai saran desinfeksi yang tepat, inilah yang patut kita diskusikan. Hasil telaah literatur mengatakan bahwa etanol 62-71% dan sodium hipoklorit 0,1% efektif mengurangi infeksi virus corona pada permukaan benda mati. Itu pun dengan waktu paparan senyawa tersebut selama 1 menit.

Apakah hal tersebut tepat kita gunakan untuk melakukan desinfeksi pada uang? Menurut saya belum tepat. Proses desinfeksi tersebut berpotensi merusak uang. Bayangkan uang kertas dicelup dalam etanol 70% atau disemprot selama 1 menit.

Hal tersebut juga bertentangan dengan imbauan Bank Indonesia yang menyampaikan agar masyarakat senantiasa melakukan 5 jangan pada uang, yaitu jangan dilipat, jangan dicoret, jangan distapler, jangan diremas, dan jangan dibasahi. Begitu pula dengan uang yang disetrika untuk menghindari penyebaran Covid 19, itu bukan hal yang tepat.

Cuci tangan dengan tepat dan benar

Alasan belum tepat yang saya sampaikan di atas memang terkesan berorientasi menjaga objek uang. Akan tetapi, ada upaya lain yang dapat kita lakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 melalui uang, yaitu cuci tangan dengan tepat dan benar.

Bagi kita yang pembeli, setelah bertransaksi di luar rumah dan uang telah diletakkan pada tempatnya, maka kita bisa langsung cuci tangan menggunakan sabun. Proses cuci tangan sebisa mungkin dilakukan dengan air yang mengalir.

Proses cuci tangan dengan sabun dan air mengalir bahkan lebih efektif mengurangi kontaminasi Covid-19 dibandingkan penggunaan hand sanitizer. Yang terpenting adalah selalu biasakan cuci tangan dengan tepat dan benar seusai kita bertansaksi uang dari luar rumah.

Ada hal sepele yang kadang kita lupa yaitu tidak menyentuh bagian wajah seperti mata, hidung, dan mulut. Menyentuh wajah dapat dilakukan jika kita telah melakukan cuci tangan dengan tepat dan benar. Namun sebisa mungkin kita mengurangi aktivitas menyentuh area wajah.

Selanjutnya, sebelum mencuci tangan, kita menyalakan keran dengan menyentuh tuas keran terlebih dahulu. Setelah selesai, kita juga akan menyentuh tuas keran. Hal ini tentu akan membuat tangan kita kembali mengenai permukaan benda yang tersentuh sebelum tangan dicuci.

Guna menanggulangi hal itu, kita bisa menggunakan punggung telapak tangan untuk menyalakan keran. Baru setelah cuci tangan, kita bisa menggunakan telapak tangan untuk mematikan keran. Terkadang kita temui keran dengan sensor gerak sebagai tuas untuk menyalakan dan mematikan, itu mungkin akan lebih aman.

Lalu bagaimana kita yang penjual? Penjual akan bersentuhan dengan banyak uang dari banyak orang. Prinsip untuk tidak menyentuh bagian wajah sebelum mencuci tangan dengan tepat dan benar juga berlaku untuk penjual.

Dalam kondisi wabah seperti ini, penjual seharusnya juga tidak sembarangan. Menjaga kebersihan tempat jualan, berhenti berjualan ketika sakit, menjadi hal penting dalam mencegah penyebaran wabah Covid-19.

Awas germophobia berlebihan

Germophobia merupakan suatu ketakutan terhadap kontaminasi dan infeksi mikroba (termasuk virus) atau sesuatu yang kotor. Orang dengan germophobia akan cenderung untuk sering cuci tangan, menghabiskan waktu untuk bersih-bersih dan dekontaminasi berlebihan, serta menghindari kontak fisik dengan orang lain.

Germophobia biasanya disebabkan oleh trauma peristiwa atau kecemasan terhadap keluarga. Bahkan di Amerika Serikat, penggunaan barang-barang seperti hand sanitizer berkontribusi meningkatkan penderita germophobia (https://www.psycom.net/mysophobia-germophobia).

Di tengah pandemi Covid-19 ini, banyak orang yang mendadak germophobia. Hal ini tentu baik untuk mencegah wabah agar tidak makin meluas. Cuci tangan, menggunakan hand sanitizer, physical distancing (menghindari kontak fisik) menjadi anjuran baik dari WHO (World Health Organization) maupun pemerintah Indonesia.

Namun perilaku seperti germophobia yang berlebihan tentu tidak baik. Misal kita beli nasi bungkus di warung. Kemudian kita takut kalau kertas bungkus nasinya, plastiknya, dan uang kembaliannya terkontaminasi Covid-19. Ya, akhirnya tidak jadi makan nasi karena germophobia berlebihan terhadap Covid-19.

Perilaku panik masyarakat membeli masker dan hand sanitizer dalam jumlah besar juga termasuk dalam germophobia berlebihan terhadap Covid-19. Meski ada yang mengatakan, "itu kan tindakan antisipasi". Faktanya banyak yang karena motif ekonomi.

Di Indonesia, wabah Covid -19 (per 26 Maret 2020) telah menyebabkan 893 orang positif dan 78 orang meninggal. Tindakan antisipasi seperti cuci tangan dengan sabun (dengan tepat dan benar), tidak menyentuh area wajah (sebelum cuci tangan), dan physical distancing sangat penting mencegah penyebaran Covid-19.

Jangan sampai germophobia yang berlebihan terhadap Covid-19 membunuh kita. Ketakutan yang berlebihan akan sesuatu dapat memengaruhi menurunnya sistem imun yang akan menjadi kunci infeksi virus atau bakteri ke tubuh kita.

Referensi:

Kampf G, Todt D, Pfaender S, Steinmann E. 2020. Persistance of coronaviruses on inanimate surface and their inactivation with biocidal agents. Journal of Hospital Infection. 104:246-251.

https://www.psycom.net/mysophobia-germophobia