Mata bu Sri seketika terbeliak ketika dilihatnya beberapa pot bunga di halaman depan kembali terguling dan tanahnya berhamburan di halaman. Setelah diperiksa ada tiga pohon mawar dan satu pohon dendrobium patah batangnya.

"Pasti kelakuan anak kurang didikan itu lagi. Bisa nggak sih mendidik anak. Makanya sekolahin yang bener dong!" begitu bu Sri mengomel sambil membenahi pot-pot bunga itu.

"Doniii...coba to kasih tahu tetangga sebelah rumah agar anaknya tahu sopan santun!" teriak bu Sri pada anak semata wayangnya.

"Ada apa bu, sabaaar...biar ga darah tinggi", Jawab Doni.

"Alllaaah....kamu ini selalu saja bilang sabar...sabar...Aku sudah habis sabarnya!" 

"Lha sama anak kecil ya harus sabar to buuu...Doni dulu waktu kecil bukannya juga begitu. Malah kaca tetangga sampai pecah."

Bu Sri terdiam dan kembali merapikan pot-pot bunga yang berantakan. Sementara dari balik pagar rumah sebelah, anak-anak kecil mengintip dengan agak takut. Anak-anak itu saling berbisik  dan saling dorong entah apa yang mereka bicarakan.

Sudah dua bulan ini bu Sri memiliki tetangga baru. Dia tidak tahu persis siapa dan berapa jumlah anggota keluarganya karena mereka belum memperkenalkan diri. Dia hanya tahu bahwa tetangga baru itu kelihatannya mempunyai tiga anak laki-laki yang masih kecil-kecil dan sering membuat tanamannya rusak. 

Sebagai penghuni lama bu Sri gengsi untuk mendatangi mereka terlebih dahulu. Apalagi bu Sri jauh lebih tua daripada penghuni baru itu. Begitulah budaya di perkotaan. Antar tetangga harusnya peduli, tetapi yang terjadi adalah saling asing. 

Sejak tetangga baru itu datang ada saja hal yang membuat bu Sri jengkel karena ulah anak-anaknya yang masih kecil itu. Rumah bu Sri memang agak luas dan dipenuhi tanaman buah-buahan dan bunga yang terawat. 

Bu Sri tinggal berdua dengan Doni anak semata wayangnya. Suaminya sudah meninggal empat tahun yang lalu ketika Doni masih SMP. 

Pagi itu bu Sri memeriksa tanamannya. Dilihatnya anggur dan jambu bijinya sudah mulai ranum, tetapi belum pas untuk dipetik. Dibungkusnya buah-buah itu menggunakan kertas samak. 

Bu Sri rajin menyapa semua tanaman bunganya yang mulai bermunculan dan juga yang sedang mekar. Itulah hiburan baginya karena ia jarang mengobrol dengan tetangga. Semua tetangganya sibuk bekerja sedangkan dia hanyalah janda tua yang mengandalkan pensiun suaminya serta hasil cocok tanam.

Selesai melihat-lihat tanamannya bu Sri masuk rumah hendak memasak. Lamat-lamat dia mendengar suara anak-anak itu di depan rumah. Dia mulai curiga...jangan-jangan....

Segera bu Sri ke depan rumah dan astaga...anak-anak itu sedang berebut ingin memetik jambu dan anggur miliknya yang baru saja dibungkus.

"Dasar anak nakal...emangnya itu yang nanam nenekmu...hussss...pergi! Kalau ga pergi saya lempar kepala kalian dengan bola-bola ini!"

'Lempar saja...itu kan bolaku...! Nenek tuaaa...nenek galaaak...!" anak-anak itu malah meledek bu Sri.

Bu Sri geram setengah mati. Tetapi dia menjadi lemas karena darah tingginya mulai kambuh. Akhirnya bu Sri duduk menenangkan diri. Dipanggilnya Doni berkali-kali tetapi tak ada jawaban. Dia dengan sedih memandangi buah-buahan yang masih mentah itu dipetik oleh anak-anak itu. 

Beberapa saat kemudian Doni datang dan melihat ibunya duduk di lantai. Segera dibantunya ibunya untuk berdiri dan dipapah ke dalam rumah. Diambilkannya teh hangat lalu dipersilahkannya ibunya minum. 

Doni duduk menunggui ibunya minum teh hangat hingga habis. Sesaat bu Sri sudah terlihat tenang dan nafasnya mulai normal. Pelan dia berkata pada Doni :"Ini semua gara-gara anak-anak nakal itu, lain kali akan kulabrak orangtuanya."

"Tenang aja bu, biar Doni nanti yang ke rumah sebelah. Ibu sabar ya, semua juga demi kesehatan ibu. Kalau ibu sakit nanti Doni sedih."

Hati bu Sri meleleh mendengar kata-kata Doni. Bu Sri hanya terdiam, tetapi dia merasa terharu bahwa anaknya begitu baik dan perhatian padanya.

Keesokan paginya setelah kejadian itu adalah Sabtu. Doni libur sekolah. Pagi-pagi Doni sudah bangun dan tak seperti biasanya dia merapikan taman dan menyapu halaman serta menyiram bunga-bunga. Semua dia lakukan agar ibunya gembira dan tidak melihat anak-anak itu merusak tanaman lagi. 

Doni memetik beberapa jeruk yang sudah matang, jambu biji dan juga salak. Dia menunggu di teras. Benar dugaannya, sepuluh menit dari waktu dia menunggu muncullah anak-anak tetangga sebelah rumah itu. Mereka sudah siap dengan sepeda dan bola. 

Doni asyik memperhatikan anak-anak yang bermain sepeda itu. Dia kemudian melangkah  membuka pintu gerbang dan duduk di tanah sambil memakan buah jambu. Tak lama kemudian anak-anak kecil itu mendekati Doni. Seorang diantara mereka memberanikan diri bertanya.

"Kakak makan buah jambu ya? Jambunya petik sendiri bukan?"

Doni menjawab dengan ramah. "Iya...kakak petik sendiri. Jambunya maniiiisss..., kamu mau?"

"Mauuu... emang boleh?"

"Boleh dong kalau yang sudah manis...kalau yang mentah jangan....kasihan kan masih kecil sudah dipetik nanti nangis. Lagian ga enak."

Begitulah cara mendekati anak-anak. Bukan dengan marah tetapi dengan berbuat seperti anak-anak juga. Aku dulu kan juga begitu waktu kecil. Demikian kata Doni dalam hati. 

Akhirnya anak-anak itu gembira dan ramai-ramai makan buah-buahan bersama Doni. Kini Doni tahu bahwa ketiga anak itu bernama Rio, Putra dan Sam. Sam paling besar dan paling banyak bercerita. Dari Sam, Doni tahu bahwa mereka adalah yatim-piatu. Mereka tinggal dengan kakek dan tantenya yang masih SMA.

"Tantemu cantik gak?" tanya Doni pada Sam

"Cantik dong, tante aku juga baik Kak. Dia ga pernah marah-marah kayak nenek galak di sini."

"Haaaa..." Doni tertawa ibunya disebut nenek galak oleh Sam

Setelah habis buah-buahannya, anak-anak itu pamit pada Doni untuk bermain bola. Doni berpesan agar mereka berhati-hati main bolanya agar tidak merusak pot-pot bunga nenek. Mereka mengiyakan dan menepati janji.

Seminggu sudah terlewati. Bu Sri heran anak-anak itu sekarang menjadi tertib tak seperti biasanya. Tetapi bu Sri belum mau ramah terhadap anak-anak itu. Hanya dia heran melihat Doni mulai rajin merawat tanaman dan sering berada di depan rumah. 

Bu sri tidak tahu kalau anaknya sedang mengamat-amati seorang gadis yang menjadi tetangga baru. Gadis itu bernama Putri, tantenya sam dan adik-adiknya. Akhirnya Doni berhasil berkenalan dengan Putri lewat Sam. 

Doni mengagumi kecantikan Putri dan sering mengirimkan buah-buahan dari rumahnya ke rumah Sam. Bu sri bahkan tidak menyadari jika buah-buahannya sering dikirimkan ke tetangga sebelah oleh Doni.

Suatu hari bu Sri sedang beristirahat sambil melihat TV di ruang tengah. Tiba-tiba pintu depan diketuk dan seorang gadis cantik mengantarkan kue dalam piring. Bu Sri mengajak gadis itu duduk di ruang tengah dan menanyainya.

"Neng cantik ini siapa? Ibu belum pernah lihat. Neng tinggalnya di mana? Terima kasih untuk kiriman kuenya," demikian berondongan pertanyaan dari bu Sri

Putri tersipu dibilang cantik oleh bu Sri. Apalagi tiba-tiba Doni muncul ke ruangan itu dan tersenyum padanya. 

"Saya Putri bu, tetangga sebelah rumah. Maafkan kami belum mengenalkan diri karena Putri banyak tugas sekolah, sedang ayah tak bisa kemana-mana karena kakinya lumpuh. Putri juga harus mengurus adik-adik sepupu yang masih kecil-kecil itu. maafkan adik-adik saya kalau nakal ya bu!" jawab Putri.

Bu Sri terkejut dan merasa kikuk karena ia sering marah-marah pada adik-adik Putri. Hatinya mendadak iba mendengar cerita Putri yang cantik itu, Lalu ia menjawab: "Oooo...ga apa-apa neng, maafin ibu juga karena sering marah-marah. Seminggu ini kok mereka terlihat baik."

"Makanya Bu...dengan anak kecil sabar. Tuh berkat Doni mereka semua menjadi baik dan aslinya mereka anak-anak baik. Tantenya cantik dan baik pula."

" Alllaaaah...kamu Don...kalau ada cewek cantik matamu ijo."

Doni, Bu Sri dan Putri akhirnya tertawa bersama. Setelah itu Putri pamit pulang dan kedua bertetangga itu menjadi baik satu sama lain.