Moral mencakup pandangan tentang nilai dan norma yang terdapat di antara sekelompok orang tentang bagaimana manusia harus hidup sebagai manusia yang baik. Dalam kehidupan bermasyarakat, moral senantiasa ada sebagai pedoman untuk berperilaku. Meski dipandang sebagai norma yang berlaku di masyarakat, nyatanya tindakan kriminal masih kerap terjadi. 

Tuntutan finansial serta dampak dari PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), mampu membulatkan tekad seseorang untuk mencuri demi mengenyangkan perut diri sendiri dan keluarga. Namun ketika pelaku tertangkap, ia mengungkapkan alasan “mencuri demi kebutuhan sehari-hari.” 

Dimana alasan tersebut menarik simpati masyarakat agar diberi keringanan hukum atau dibebaskan dari jerat hukum tertulis. Terdapat beberapa contoh kasus dimana beberapa orang terpaksa mencuri demi kebutuhan hidup.

Pada tahun 2014, tersiarlah berita yang dilansir dari kompas.com. Seorang lelaki bernama Oma di PHK karena tempat kerjanya terkena dampak PSBB virus Covid-19 dan pada akhirnya mengalami gulung tikar. 

Puncaknya adalah saat Oma bertengkar dengan istrinya sebab tidak memiliki uang sepeser pun untuk memenuhi kebutuhan hidup, saat itulah Oma menjadi gelap mata dan nekad mencuri tabung gas agar dapat dijual kembali. 

Pada tahun 2020, tersiar juga berita yang dilansir dari tagar.id. Seorang pria berusia 32 tahun di Medan melakukan aksi pencurian sebanyak 5 kali dan akhirnya tertangkap oleh polisi. 

Pria itu mengaku bahwa dirinya melakukan tindakan nekad tersebut demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika sudah seperti ini, bagaimana pandangan teori etika sosial mengenai 'moral' yang diwajarkan oleh masyarakat?

Selepas menyimak kedua kasus pencurian yang masih kerap terjadi di kalangan masyarakat, kasus tersebut dapat dianalisis berdasarkan suara hati dan teori etika non-konsekuensialis deontologi. Suara hati sering dikaitkan dengan suara yang berasal dari luar diri manusia dan sekaligus mengatasi kewenangan manusia untuk menolak atau mengabaikannya (Sudarminta 2013: 63). 

Sedangkan deontologi adalah teori yang memandang bahwa perilaku baik atau buruk ditentukan dari maksud individu pelaku dalam melakukan perbuatan tersebut. 

Sehingga tindakan altruis atau spontan cenderung tidak baik, atau netral saja. Bagi Kant, kewajiban moral bersifat universal dan mutlak. Sehingga kita harus menggunakan pengetahuan kita tentang moralitas untuk mengkritik dan menafsirkan cerita dari gagasan keagamaan.

Jika dilihat dari motivasi, pelaku pencurian mengaku bahwa mereka gelap mata dan melakukan tindakan nekat tersebut karena dipaksa oleh keadaan finansial. Sebenarnya masih belum dapat dibuktikan dengan pasti apa mereka benar-benar melakukan hal itu karena terdesak, atau “demi memenuhi kebutuhan hidup,” hanya sebatas wacana belaka untuk menarik simpati dan terbebas dari hukuman pidana. 

Sedangkan dari sudut pandang suara hati, mereka merasa bahwa “jika saya tidak melakukan apa-apa, maka kebutuhan hidup saya dan keluarga tidak akan terpenuhi. Jadi dengan berat hati saya mengambil jalan pintas seperti ini, karena tidak tahu lagi harus bagaimana. Toh ini demi memenuhi kebutuhan hidup” Sesungguhnya mereka menyadari bahwa mencuri adalah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan secara hukum maupun nilai moral, namun kembali lagi ke situasi ekonomi yang tidak mendukung.

Secara keseluruhan, perbuatan mencuri atau mengambil barang milik orang lain yang didasari dengan ‘demi memenuhi kebutuhan hidup,’ hal tersebut tetap dinyatakan salah. 

Meski terdesak oleh tekanan finansial, lingkungan kerja yang gulung tikar, dan sebagainya. Masih banyak pekerjaan halal yang dapat dilakukan untuk memperoleh penghasilan, seperti membuka usaha sendiri, melamar pekerjaan lain, dan masih banyak lagi. 

Kiranya masyarakat yang tengah banting tulang dalam mencari sepeser uang, dapat senantiasa berada di jalan tersebut dan menjadi inspirasi bagi mereka yang tersesat di tengah tekanan finansial agar tidak mengambil jalan pintas yang salah. 

Diharapkan pemerintah juga mampu memperhatikan suara-suara rakyat yang bergema di lorong dan dengan segera mengambil tindakan agar pencurian berkedok 'demi memenuhi kebutuhan hidup' tak lagi marak terjadi. 

Ringkas cerita, dalam kehidupan bermasyarakat, moral senantiasa ada sebagai pedoman untuk berperilaku. Meski dipandang sebagai norma yang berlaku di masyarakat, nyatanya tindakan kriminal masih kerap terjadi. Salah satu contoh kriminal yang dilakukan, yaitu mencuri dengan beralaskan “demi kebutuhan sehari-hari.” 

Dimana alasan tersebut menarik simpati masyarakat agar diberi keringanan hukum. Secara keseluruhan, perbuatan mencuri atau mengambil barang milik orang lain yang didasari dengan ‘demi memenuhi kebutuhan hidup,’ hal tersebut tetap dinyatakan salah. 

Diharapkan perilaku mencuri ini dapat diminimalisir dengan mengingat hukum pidana yang berlaku dan penyuluhan bahwa mencari nafkah memerlukan usaha keras. 

Kiranya juga pemerintah mampu mengambil tindakan dan membuat perubahan akan pencurian berkedok 'demi memenuhi kebutuhan hidup.' Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah, yaitu menyediakan lapangan pekerjaan, memberikan subsidi atau modal untuk masyarakat yang berkeinginan menciptakan lapangan pekerjaan, dan sebagainya.