Mahasiswa
4 minggu lalu · 60 view · 6 min baca menit baca · Olahraga 34667_41087.jpg
Bongdanet.vn

Mencontoh Industri Tradisional ala Nam Định FC

Berbicara tentang Vietnam, barangkali ada beberapa yang menjadi stereotip unggulan bagi masyarakat Indonesia, yakni kecepatan dan orang-orang yang bernama Nguyen. 

Memang tak sepenuhnya salah. Warga Vietnam kebanyakan berjalan dengan tempo yang cepat. Kendaraan-kendaraan yang melaju di sudut-sudut Kota Hanoi pun seakan mempertegas hal tersebut. Pula dengan nama Nguyen yang kita kenal dari para pemain timnas Vietnam yang memakai nama tersebut dengan kaitan sejarah yang kental. 

Namun, jika berbicara tentang sepak bola, adakah benang merah yang dapat ditarik menjadi suatu kesimpulan selain timnasnya selalu kurang beruntung jika bertemu Indonesia di fase grup dalam suatu ajang kompetisi? 

Kebanyakan dari kita akan mejawab Hanoi FC atau Becamex Binh Duong. Itu pun kita ketahui dari ajang AFC lantaran satu grup dengan klub Indonesia. Jika saya berkata tentang Nam Dinh, adakah gambaran utama tentang klub ini?

Sepak bola tidak lepas dari apa yang dinamakan industri. Memang, jika kita tarik menjadi lini masa sejarah, sepak bola merupakan hasil kawin dari sebuah hiburan dengan kelas pekerja di tanah Britannia nan jauh di sana. 

Sepak bola menjadi pemersatu mereka dalam mengusir rasa bosan dari kegiatan bekerja yang mereka lakukan selama berjam-jam lamanya. Sepak bola menjadi sebuah alat yang dapat menunjang apa yang mereka butuhkan sehingga menjadi sebuah pengikat dalam hubungan sosial kaum urban. 

Lalu bagaimana bisa sepak bola menjadi sebuah industri yang memiliki nilai tinggi?

Adam Smith menegaskan bahwa manusia berbeda dengan hewan yang bakat dalam tubuhnya tidak memberikan keuntungan. Manusia dapat mencium suatu hal yang akan berpotensi besar menjadi ladang ekonomis yang menguntungkan. Sepak bola adalah salah satunya. 


Banyaknya peminat dengan konsep yang mudah dipahami merupakan ladang uang yang begitu menggiurkan bagi mereka yang melihat dari sisi non-hiburan. Berinvestasi guna mendapatkan profit demi profit adalah yang terjadi selanjutnya. Korbannya adalah para buruh itu sendiri—yang semula bertujuan untuk menghibur justru menjadi bumerang yang dapat menghabiskan dompet tipis mereka guna melihat sebuah ‘hiburan di antara kesulitan’.

Industri dalam tubuh sepak bola dapat membuat semacam kesenjangan bagi para pelaku di dalamnya. Investasi yang besar, memperkaya sebuah tim, membangun stadiun yang nyaman, dan mematok tarif tiket adalah hal wajar jika sebuah tim melakukan sebuah progres. 

Nahas bagi mereka, klub yang tidak bernasib sama—tidak memiliki ekonomi yang kuat—akan terjebak dalam kesulitan meraih sesuatu. Itulah hubungan antara industri dengan hasil. 

Namun, adakah sebuah klub di era modern ini yang keluar dari pakem-pakem industri yang berkutat terhadap kemewahan dan kucuran dana berlimpah? Di awal, penulis sudah menjanjikan Nam Dinh sebagai jawaban.

Nam Dinh adalah tim yang paling tradisional di antara semua tim yang ada—yang masih eksis dalam V.League 1 bersama The Cong yang sudah berganti nama menjadi Viettel FC.

Terdapat sebuah cerita bahwa permainan sepak bola datang ke Vietnam melalui kolonialisme Prancis, menuju wilayah koloni yang salah satunya adalah Nam Dinh yang letaknya 90 kilometer di Tenggara Hanoi. Di kota ini juga memiliki semacam tradisi bernama Co Trach. 

Perayaan ini menghormati Jenderal Trần Hưng Đạo, pahlawan nasional abad ke-13 yang memimpin pasukan Vietnam meraih kemenangan atas pasukan Mongol yang menyerang. Nama Nam Dinh sendiri berkembang pada 1831.

Berkembang bersama tempatnya yang penuh dengan sejarah, klub Nam Dinh pula tumbuh bersama sebuah tradisi yang coraknya unik. Berawal dari sebuah klub di wilayah Tonkin—Vietnam bagian Utara— dan berhasil memenangkan kompetisi antar-Indocina pada tahun perdananya 1943 dan edisi 1945, pada tahun 1965 klub ini berubah namanya menjadi Ha Nam karena masuk wilayah provinsi Ha Nam. 

Dan pada tahun 1978, nama klub menjadi Công nghiệp Hà Nam Ninh—ini dikarenakan Ha Nam dipecah menjadi tiga, yakni Ha Nam, Nam Dinh, dan Ninh Binh. Dengan nama terbaru, sempat menjadi juara A1 di tahun 1985 kemudian dibubarkan pada tahun 1989. Tahun 1991, tim ini hadir kembali dengan nama Nam Dinh, dengan semangat kedaerahan di Nam Dinh

Dalam perjuangan untuk tetap eksis dalam persepakbolaan Vietnam, Nam Dinh beberapa kali menggandeng sponsor. Sebut saja Som Da, yang merupakan perusahaan investasi terkenal di Vitenam. 


Terjadi beberapa polemik lantaran permasalahan logo perusahaan yang menutupi logo utama Nam Dinh. Tetapi mereka hanya bertahan sampai 2005, dan lebih parahnya, Mikado datang dan mengambil alih tim ini. Logonya pun yang sebelum tertutup, kali ini benar-benar hilang—tertulis dengan jelas MIKADO, tidak terdapat unsur-unsur Nam Dinh. Nama klub pun ikut berubah menjadi Câu lạc bộ Mikado-Nam Định. 

Mikado tidak bertahan lama, hingga 2007 berubah bernama Đạm Phú Mỹ - Nam Định. Setelah kembali ke pangkuan MIKADO dan Megastar, kini mereka dalam balutan sponsor kesehatan bertajuk apotek Nam Dinh dengan nama serupa, yakni Dược Nam Hà - Nam Định.

Di Vietnam sendiri, masalah sposor merupakan sumber dana utama selain penjualan tiket. Sedangkan di Indonesia, mereka mengandalkan pemasukan dari empat hal. Pertama, dari tiket. Kedua dari sponsor. Ketiga dari PT. Liga yang biasanya telat sekali. 

Dan yang terakhir, yang paling lucu, beberapa tim mengandalkan dari pemerintah daerah. Biasanya pemerintah daerah memiliki saham di klub. Kalau tidak, ya mereka-mereka ini yang hendak mengikuti kegiatan politik guna domplengan simpati. Setelah itu klub tersebut ditinggalkan begitu saja. Contohnya? Tidak usah disebutkan. Banyak.

Sepak bola menjadi sebuah hal yang dilematis. Terdapat panji-panji kebesaran klub berupa logo, warna, maskot, dan nama daerah. Beberapa panji ini terkesan sebagai sebuah hal yang sakral dan amat dilindungi. 

Di lain pihak, sepak bola terus mengalami perubahan yang dinamis. Salah satunya adalah industri. Jika prestasi tak kunjung datang, suporter mulai lelah untuk mendukung dan maraknya produksi jersey di luar pihak klub, dari mana klub mendapatkan suntikan dana? 

Berpangku tangan pada pelaku politik dapat dikatakan sebagai seni bunuh diri dan menjual panji kebesaran kepada sponsor adalah mengencingi harga diri. Barangkali peribahasa hidup segan mati tak mau menemui contoh nyatanya.

Selain Nam Dinh, banyak klub-klub di Vietnam yang menaungi nama kebesaran mereka bersanding dengan sponsor, sebut saja Becamex Bình Dương yang berpangku pada Becamex IDC, sebuah perusahaan multi-industri yang berbasis di Binh Duong. Ada pula SHB Da Nang yang memiliki sokongan dana dari SHB. Bahkan The Cong dengan nilai sejarah yang tinggi, kini memakan nama Viettle FC. 

Bagi mereka, nilai tradisional sebuah klub adalah ada atau tidaknya mereka di tempat tersebut. Nilai sejarah sebuah klub terlihat dari nilai empiris yang tetap melekat walau beberapa panji kebesaran mereka mulai dimakan oleh industri.

Inilah yang dinamakan industri tradisional yang dipegang oleh Nam Dinh. 


Sebenarnya di Vietnam pun beberapa tim berpangku tangan kepada pemerintah daerah. Namun, ketika sepak bola menjadi sebuah profesi dan banyaknya orang mengharapkan kehidupan dari sini, ketika kebutuhan meningkat dan sebuah klub harus mampu memenuhinya, bagi mereka, sebuah klub bertahan hidup saja sudah baik. 

Dalam artian, pembayaran gaji dan penyediaan fasilitas pertandingan selama liga berjalan berjalan dengan baik. Jadi, tidak ada nilai utama seperti nama kebesaran klub dan nama stadion dikarenakan sepak bola tidak akan kembali kepada nilai orisinalnya sebagai hiburan. Bagi para pelaku di lapangan hijau, sepak bila kini menyangkut sebuah pola besar yang bernama industri.

Nam Dinh mendapatkan uang guna menghidupi klub dari sponsor yang berani mengeluarkan banyak dana kepada klub. Pertaruhannya jelas, adalah identitas. 

Nam Dinh menjawab dengan anggun, lebih baik menggunakan industri tradisional dan klub tersebut tetap ada secara empiris ketimbang berubah homebase dan mengubah namanya menjadi suatu daerah baru kemudian merangsak masuk ke liga tertinggi dengan asal-usul tidak jelas adalah sebuah dosa utama.

Seberapa pun perubahan klub—baik itu emblem atau stadion, ketika mereka berada secara empiris, mendiami suatu kota, apa pun perubahan tim tersebut—Nam Dinh tetap sebagai Nam Dinh secara utuh. Jadi, rela mengubah logo klub kesayanganmu?

Artikel Terkait