Terciptanya pikiran menjadi bagian tubuh manusia, tak terlepas dari bukti kasih sayang Tuhan kepada makhluknya. Ini merupakan bentuk validasi atas ucapan Tuhan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna. Bisa dibayangkan bagaimana jika manusia hidup tanpa dibekali pikiran. Akankah kita bisa melihat gedung setinggi Burj Khalifah di Dubai? Monumen Nasional di Jakarta? atau bahkan Menara Eiffel di Paris?

Keindahan-keindahan dunia non alam itu dapat kita nikmati karena pikiran yang ada pada manusia. Tentu tidak ada bedanya antara manusia dengan hewan dan tumbuhan, jika manusia dilahirkan tanpa bekal pikiran. Bukan merendahkan, tapi kita semua tahu bahwa hewan dan tumbuhan tidak bisa menciptakan sesuatu selain makan, tidur dan berkembang biak. Ini lah yang ada pada benak maulana syekh Aristoteles bahwa manusia adalah binatang yang berfikir.

Selain memiliki pikiran, manusia adalah makhluk yang disertai  beragam macam dimensi, sehingga ia akan selalu penasaran terhadap sesuatu yang berhadapan dengannya. Pikirannya selalu menjadi instrumen yang sangat kental untuk mengetahui sesuatu. Ditambah lagi dengan sifatnya yang tak pernah puas dan selesai. Maka dari itu kita mengenal manusia sebagai makhluk yang bertanya.

Meski ketidakpuasan itu terus menyertai, manusia tetap tidak  bisa menyangkal bahwa mereka adalah makhluk yang memiliki batasan. Memang Ia akan terus bertanya dan bertanya sebagai bentuk ketidakpuasaannya terhadap sesuatu. Tapi, sampai kapanpun tidak akan pernah ada pengetahuan yang bisa memenuhi cakrawala perhatiannya.

lebih jauh dari pada itu, biasanya manusia menggunakan pikiran untuk bekerja sedikit nakal. Mereka menggerakkanya untuk bertanya tentang Tuhan. Banyak sekali pertanyaan yang pada dasarnya berada di luar iman. Lalu, apakah pertanyaan itu bisa dinalar? atau malah Tuhan adalah bahasan yang terletak di ujung Menara Gading yang jauh di atas sana sehingga tidak bisa dijangkau? entahlah, mari kita bergelut lebih jauh.

Pertanyaan tentang Tuhan ini tidak datang begitu saja seperti menang undian atau give away. Ia hadir karena memang manusia sudah menyembahnya dari dulu. Menurut  Franz Magnis Suneno dalam bukunya Menalar Tuhan bahwa mulai dari abad ke-20 filsafat tidak lagi ingin menyentuh Tuhan. Hal ini disebabkan banyak filsuf secara diam-diam sepakat bahwa filsafat tidak dapat bicara tentang Tuhan.

Sejalan dengan perkataannya Imanuel Kant bahwa Tuhan tidak menjadi objek pengetahuan manusia, jadi nalar tidak dapat mengetahui apapun tentangnya. Atas dasar keterbatasan akal itu para filsuf sepakat bahwa urusan tentang Tuhan dikembalikan kepada kepercayaan masing-masing. Percaya ya monggo. Enggak juga gak papa.

Di sisi lain, beberapa orang beragama cenderung tidak ingin mempertanyakan lebih jauh tentang Tuhan mereka. Meskipun manusia adalah makhluk yang tak pernah selesai, dalam hal ini mereka sudah yakin sekali dengan keimanannya, sehingga menganggap bahwa pemikiran rasional tentang Tuhan adalah suatu kesia-siaan.

Tapi justru mereka yang dengan gencar menggaungkan tentang Tuhan yang tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, akan mendapat tantangan untuk mempertanggungjawabkan keyakinan tersebut. Bagaimana mungkin hal yang tidak terjangkau itu bisa bersemayang di kepalamu? begitulah kira-kira pertanyaan dari mereka yang ingin merasionalkan Tuhan.

Franz Magnis Suseno dalam buku yang sama menjelaskan bahwa iman dapat dipertanggungjawabkan dalam dua arti. Secara teologis dan secara filosofis.

Secara teologis iman dipertanggungjawabkan apabila dapat ditunjuk bahwa apa yang diimani sesuai sumber iman itu. Jadi dapat dikatakan bahwa teologi berdasarkan wahyu agama yang bersangkutan dan wahyu itulah adalah sumber kebenarannya.

Berbeda dengan filosofis. Pertanggungjawabannya haruslah menggunakan nalar. Nalar bisa memeriksa suatu keyakinan apakah revelan atau tidak. misalnya kitab suci mengatakan sesuatu penciptaan alam semesta, lalu lihat yang terjadi pada dunia dan masyarakat. 

Pada kenyataannya hal tersebut bisa diteliti dengan ilmu sains, sehingga bisa dijelaskan dengan sudut pandang ilmiah. Jika mahakarya Tuhan itu ternyata sejalan dengan kehidupan, berarti kepercayaan terhadap Tuhan sudah bisa dipertanggungjawabkan.

Pemilihan kata mempertanggungjawabkan secara rasional merupakan tugas yang berat. Selain memposisikan diri sebagai moderat, pembuktian terhadap Tuhan haruslah dikombinasikan antara nalar dan keimanan. Banyak sekali data-data agama yang tidak bisa dijelaskan, sehingga data tersebut hanya bisa diterima oleh mereka yang percaya Tuhan.

Sebagai klarifikasi, pertanggungjawaban di sini bukanlah bermaksud untuk membuktikan adanya Tuhan. Tapi,  untuk percaya pada adanya Tuhan dapat diajukan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal. Tapi lagi-lagi pendakatan semacam itu hanya tersentuh oleh mereka yang memiliki iman.

Mereka yang tidak memiliki iman cenderung tidak tertarik membicarakan hal ini. Bahkan ada yang lebih ekstrim mengatakan bahasan tentang Tuhan adalah hal yang memalukan. Dalam bukunya Phil Zuckerman yang berjudul Masyarakat Tanpa Tuhan menceritakan bahwa, masyarakat Atheis lebih memilih telanjang di pinggir jalan daripada membicarakan Tuhan.

Memang benar sih, mengatakan Tuhan itu tidak ada sama beraninya dengan mengatakan Tuhan itu ada. Sebab dua-duanya sama-sama absurd. Sama-sama meiliki pertanyaan yang terletak di ujung Menara Pisa, tak bisa terjawab oleh keterbatasan pikiran manusia.

Bagaimanapun berdebatan ini berlangsung, tetap saja kita sama-sama penghuni bumi. Perperangan dan perpecahan tidak boleh terjadi, Terlebih alasannya adalah Tuhan. Disatu pihak mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Dan satunya lagi mengatakan Tuhan itu maha segalanya. Lalu untuk apa mati-matian membela dia yang tidak ada atau dia yang maha segalanya?

Referensi :

Suseno, Franz Magnis. 2006. Menalar Tuhan. Yogyakarta: KANISIUS.

Zuckerman, Phil. New York Univesity press. Masyarakat Tanpa Tuhan. Nisa Khoiriyah. 2018. Basa Basi: Yogyakarta.