4 bulan lalu · 263 view · 3 menit baca · Politik 31414_35046.jpg
Pexels.com

Mencoba Menertawakan Dubes Arab Saudi

Apa arti penting seorang duta? Pertanyaan saya ketika usai mengikuti berita viral tentang Osamah Mohammad Al-Shuibi, Dubes Saudi Arabia untuk Indonesia kita tercinta. Osamah menuai banyak kritikan akibat pernyataannya di Twitter.

Dalam bahasa Arab, dia mengatakan bahwa Reuni 212 yang telah lalu merupakan aksi balasan atas pembakaran bendera hitam bertuliskan laa ilaaha illallaah muhammadur rasuulullaah yang ia sebut sebagai bendera tauhid.

Tak sampai di situ saja, ia juga menyebut bahwa pihak pembakar bendera tersebut adalah al-jama'ah al-munharifah yang artinya "kelompok menyimpang (sesat)". Sontak pernyataan tersebut mendapat respons dari banyak pihak, terutama GP Anshor dan PBNU. Protes keras pun dilayangkan, mendorong agar Osamah dikembalikan dan diberi sanksi.

Osamah dinilai telah keluar jalur dengan mengumbar pernyataan yang menghina, dan PBNU juga menyebut bahwa Osamah telah melakukan "pelanggaran keras diplomatik". Dengan begitu pihak Saudi berhak menarik dan memberinya sanksi.

Setelah meliputi diri dengan substansi berita itu, saya pun mencari arti kata "duta" di aplikasi KBBI 2016 dari Kemendikbud. Duta adalah utusan sebuah pemerintahan (raja dan sebagainya) untuk melakukan tugas khusus, biasanya di negara lain. Selain itu, satu poin kesimpulan bahwa seorang duta besar adalah sebagai wakil diplomatik tertinggi yang mengurus kepentingan negara yang mengutus.

Ada dua hal penting yang patut kita beri perhatian terkait tweet si Dubes itu. Pertama bahwa ada keterkaitan emosi politik dari seorang Osamah dengan kubu Prabowo Subianto beserta kelompok radikal yang kebanyakan mendukungnya.

Kemungkinan di atas bukan mitos belaka. Karena Osamah dalam tweet-nya di hari Reuni tersebut menyebut nama Prabowo dan Fadli Zon. Untuk apa dua nama tersebut disebut? Untuk kepentingan diplomatiskah?

Dua pertanyaan itu mungkin bisa dijawab Osamah dengan sangat mudah. Alasan mudah dicari, semudah orang kaya Arab berlibur dan menyewa villa di Puncak.

Pun demikian sorotan yang perlu difokuskan lebih mendalam ada pada poin pernyataan Osamah yang menyebut bahwa pihak yang membakar bendera tauhid adalah kelompok sesat menyimpang.

Sebegitu parahkah radikalisme di Indonesia? Sekelas Dubes pun ikut-ikutan menyampaikan pernyataan ekstrem dengan memberi vonis sesat kepada sebuah komunitas yang padahal seagama, lebih parah itu dilakukan di negara orang. Pantas saja PBNU mendesak Menlu Retno agar mengirim nota ke pihak Saudi, tujuannya agar Saudi menarik kembali si Dubes lucu itu dan menggantinya dengan duta yang baru.

Hal yang kedua terkait cuitan Osamah adalah bahwa dari sikapnya itu melahirkan kecurigaan kita kepada Saudi. Apakah pernyataan itu juga merupakan representasi sesungguhnya dari Saudi dalam hal relasi antarnegara.

Sudah jadi omongan publik bahwa Saudi merupakan negara monarki yang banyak melahirkan sikap-sikap yang pro dengan Barat. Di tengah carut-marut kondisi negara-negara Arab lain, alih-alih menjadi pelopor penyelesaian konflik, Saudi justru terkesan pasif bahkan bermain "lempar batu sembunyi tangan" dalam banyak perselisihan yang terjadi di Timur Tengah.

Kondisi Yaman menjadi ironi tersendiri bangsa Arab. Kekhawatiran Saudi atas kelompok Al-Khouthi yang jika berhasil menguasai Yaman akan mengancam negara Arab masih menyisakan ambiguitas. Entah berlatar politik ideologis atau apa pun itu, sikap politik Arab Saudi dengan negerinya para Habaib itu sama sekali tidak lucu.

Lebih lucu kelakuan Osamah ini. Namun perlu ada tindakan khusus yang sifatnya preventif dalam menghadapi kasus ini. Pengamat Timur Tengah M Najih Ar-Romadloni, melalui media NUonline.com, mengatakan bahwa pernyataan Osama (yang melanggar etika diplomasi) itu perlu dijadikan peringatan dini pemerintah Indonesia untuk mencegah intervensi lebih dalam dari Arab Saudi.

Pernyataan Najih tersebut, walau belum tentu akan terbukti jika belum tentu terbukti, adalah sebuah dorongan agar berhati-hati dengan sikap bangsa asing. Curiga terhadap orang asing boleh-boleh saja, karena kepentingan negeri sendiri lebih utama. 

Arab Saudi selama ini terkenal sebagai pusat peradaban dan perkembangan kelompok salafi yang masyhur sebagai kelompok intoleran. Meski secara resmi Pangeran Salman pernah mengampanyekan agar Saudi menuju kemoderatan Islam, tapi gelagat Saudi tetap perlu dicurigai terutama jika mengingat keterlibatan pihak kerajaan Saudi dalam kasus penghilangan nyawa salah seorang jurnalis yang sampai saat ini belum selesai.

Yang terakhir ini juga tidak lucu, bukan? Memang pada dasarnya ini bukan lelucon.

Dampak dari substansi cuitan Osamah tidak bisa dibilang remeh. Ini melibatkan marwah bangsa Indonesia. Dengan tidak sopan seorang duta besar mencampuri hiruk pikuk politik dalam negeri, bukankah itu terkesan seenaknya saja.

Cukup sudah, bahwa di zaman post-kolonial ini kita bangsa Indonesia harus melepaskan diri dari hegemoni luar negeri. Tak pandang negara Islam sekalipun. Kerena akan jadi malapetaka jika kedaulatan kita di mata asing dianggap sebagai kedaulatan setengah tiang yang menyedihkan.

Ternyata setelah diprotes, Osamah mengubah tweet-nya, tapi jejak digital masih sekejam saat kasus Ahok. Sampai di sini, pada akhirnya saya merasa kesulitan untuk menertawakan Osamah. Salam.