Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya (Sudarwan Danim, 2011: 5). Sebagaimana dalam undang-undang tentang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005 bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Kalimat dalam undang-undang tersebut bersifat normatif, bukan mengajar terlebih dahulu namun mendidik. Kita tahu bahwa semua orang bisa mengajar tetapi belum tentu bisa mendidik. Mendidik lebih komprehensif bukan hanya ranah kognitif namun juga afektif dan ketrampilan juga dibangun. Mengajar sebenarnya bagian dari mendidik.

Era sekarang sudah bukan sekedar globalisasi namun sudah masuk ke wilayah perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat dahsyat. Para ahli menyebut era sekarang disebut dengan Era Industri 4.0  bahkan Era Society 5.0. Teknologi sudah menjadi kebutuhan, mulai dari kalangan dewasa hingga anak-anak. 

Penelitian KPAI menjelaskan, 79% anak diperbolehkan menggunakan gadget dan sisanya tidak, 71,3% persen anak memiliki gadget dan sisanya tidak. Penggunaan gadget maupun laptop semakin menjadi kebutuhan bagi anak-anak seiring dengan pembelajaran online selama Pandemi COVID-19. 

Fenomena penggunaan gadget oleh anak-anak di atas, juga media elektronik lainnya (seperti TV, dan sejenisnya), menunjukkan bahwa institusi, baik institusi agama, pendidikan, bahkan keluarga tidak bisa lagi secara penuh melakukan intervensi kepada para siswa. Mereka (anak-anak) memiliki "guru-guru lain" online. Tidak hanya guru memberikan pembelajaran tetapi anak-anak juga memiliki inisiatif belajar melalui google.

Guru profesional adalah guru yang memiliki kualifikasi akademik minimal S-1 dan juga memiliki kompetensi. Kompetensi yang dimiliki, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang masing-masing memiliki ranah/indikatornya serta memiliki sertifikasi.

Untuk meraih kualitas keberhasilan di sekolah mutu pendidikan maka pendidik harus memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku yang itu semua merupakan bagian dari integritas guru. Integritas guru dilandasi dengan akhlakul kharimah.

Dengan mengajarkan, menebarkan kebaikan juga kepercayaan, berani menampilkan kebenaran sebagai seorang pendidik, serta kecerdasan dan keteguhan hati. Itu semua yang menggambarkan sejauh mana suatu kualitas keberhasilan guru sebagai garda terdepan dalam mencerdaskan anak bangsa.

Menjadi Guru di Tengah Globalisasi-Industri 4.0 : Mempertimbangkan Pendekatan Holistik

Mengidentifikasi peristiwa di atas maka menjadi guru dihadapkan dengan tantangan yang sangat kompleks. Guru tidak bisa lagi hanya sekedar pengajaran “calistung” (baca, tulis, hitung). Jika merujuk pada teori Abraham Maslow, maka pendidikan harus dapat mengantarkan peserta didik untuk memperoleh aktualisasi diri (self-actualization) yang ditandai dengan adanya kesadaran, kejujuran, kebebasan atau kemandirian, dan kepercayaan.

Dengan memikirkan keadaan tersebut, menjadi guru di era globalisasi industri 4.0 perlu mempertimbangkan model pendekatan pendidikan holistik. Pendekatan yang dimaksud adalah yang memperhatikan kebutuhan dan potensi yang dimiliki peserta didik, baik dalam aspek intelektual, emosional, artistik, kreatif, inovatif, dan spiritual.

Proses pembelajaran menjadi tanggung jawab personal sekaligus juga kolektif. Oleh karena itu, strategi pembelajaran lebih diarahkan pada bagaimana mengajar dan bagaimana orang belajar. Terkait dengan pendekatan holistik. Pertama, bagaimana guru dalam menggunakan pendekatan pembelajaran transformatif.

Kedua, bagaimana prosedur pembelajaran yang fleksibel karena tidak statis namun harus dinamis. Ketiga, pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu. Tidak hanya satu disiplin ilmu tapi mungkin multidisiplin. Keempat, pembelajaran yang bermakna. Kelima, pembelajaran melibatkan komunitas di mana individu berada.

Menjadi Guru di Tengah Globalisasi-Industri 4.0 : Blended Learning

Dalam pendidikan holistik, peran dan otoritas guru untuk memimpin dan mengontrol kegiatan pembelajaran hanya sedikit dan guru lebih banyak berperan sebagai sahabat, mentor, dan fasilitator. Fosbes (1996) mengibaratkan peran guru seperti seorang teman dalam perjalanan yang telah berpengalaman dan menyenangkan.

Sekolah hendaknya menjadi tempat peserta didik dan guru bekerja guna mencapai tujuan pembelajaran penyemaian ilmu. Komunikasi yang terbuka dan jujur sangat penting. Perbedaan individu dihargai dan kerja sama lebih utama dari kompetisi. Dalam kerangka pendidikan holistik, belakangan ini muncul tentang apa yang disebut Blended Learning.

Model blended learning adalah pada dasarnya merupakan gabungan keunggulan pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka dan secara virtual. Metode ini sangat efektif untuk menambah efisiensi untuk kelas instruksi dan memungkinkan peningkatan diskusi atau meninjau informasi di luar ruang kelas.

Pendidik di Era Globalisasi-Era Revolusi Industri 4.0 pertama harus profesional, yaitu memiliki 4 kompetensi. Kompetensi yang harus dimiliki adalah kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional. Kedua, memberikan inspirasi, sehingga peserta didik bisa termotivasi untuk mengikuti pembelajaran.

Ketiga, kreatif dan inovatif dalam rangka mencerdaskan anak bangsa dengan pendekatan model, strategi pembelajaran, dan lain sebagainya. Keempat, komunikatif, Dalam era sekarang harus dibangun komunikasi. Dengan berbagai komunitas belajar. Kelima, collaborative, tidak hanya komunikatif tetapi harus berkolaborasi. Keenam, harus berkarakter.

Ketujuh, kemampuan berbahasa, bahasa-bahasa IT sekarang terkadang tidak mudah dipahami sehingga kemampuan bahasa sangat penting. Kedelapan,  adaptasi terhadap IT (Informasi & Teknologi), supaya kita tidak menjadi masyarakat yang termarjinalkan serta masyarakat pinggiran maka kita harus adaptif terhadap informasi dan teknologi sehingga tidak tertinggal. Kesembilan, adaptif terhadap perkembangan zaman untuk menjadi penentu peserta didik dan masa depan bangsa yang berkemajuan.

Perubahan sosial yang dihadapi sekarang tidak hanya mengglobal tetapi telah masuk Revolusi Industri 4.0. Fenomena kepanikan, "kegilaan" dan bahkan kerancuan nilai (anomie) adalah beberapa dampak yang akhirnya menuntut guru lebih kreatif dan meningkatkan secara optimal kompetensinya namun tetap tegak menjaga integritas guru.

Pendidikan holistik pada dasarnya adalah pendidikan child centered, yaitu menumbuhkan potensi kecerdasan anak, kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Sekalipun demikian, pendidikan holistik perlu dijalankan sejalan dengan era disrupsi (kegalauan/kegilaan) yang dirasakan dengan perkembangan teknologi maka jawabannya adalah pembelajaran yang disebut dengan blended learning dapat dijadikan alternatif sebagai strategi pembelajaran.

Guru harus pandai menjadi fasilitator dan "teman" bagi para siswa dalam menjelajah berbagai pengalaman namun tidak terlepas dari nilai dan juga model kecerdasan yang menjadi tujuan pendidikan. Akhirnya, sebagai agent of sosial change, apa yang menjadi tugas guru harus mampu mengantar para siswa dan juga masyarakat membangun peradaban berkemajuan.