Dalam artikel laman Dikti.go.id tanggal 28 November 2020, tulisan tentang Menciptakan Kampus Aman dan Nyaman Bebas dari Perundungan dan Kekerasan Seksual seperti memberikan angin segar bagai pertanyaan-pertanyaan seputar perhatian Kementerian tentang nasib perempuan yang bekerja di ranah-ranah akademis. 

Seperti yang dilansir di laman yang sama, menurut data dari Komisioner Komnas Perempuan, Alimatul Qibtiyah menyampaikan bahwa data kasus kekerasan seksual selama Januari hingga Oktober 2020, terdapat 1.617 kasus dan 1.458 kasus diantaranya adalah kekerasan berbasis gender. 

Mengapa hal ini penting? Sebab siapa saja bisa melakukan perundungan tersebut dengan alasan-alasan yang mungkin saja jauh dari masuk akal hanya untuk mempersekusi seseorang yang bekerja di ranah-ranah akademik dan salah satunya dengan cara melakukan perundungan dan melakukan kekerasan seksual terhadap para perempuan yang bekerja di ranah akademis tersebut. 

Dapat pula terdapat motif-motif seperti usaha menghambat atau menghentikan karir seseorang. Dapat pula motif-motif seperti pertarungan kelas dari dari tidak terdidik dengan kaum terpelajar. Mau tidak mau hal-hal seperti ini ada di masyarakat. 

Pada kenyataannya, masih ada masyarakat-masyarakat tertentu yang tak cukup memiliki kemampuan dan ingin mendapat segala hal dengan cara instan, misalnya status sosial tanpa melakukan usaha untuk peningkatan status sosial itu. Bisa juga keinginan akan kebendaan tanpa penghargaan akan pentingnya bekerja keras untuk mendapatkannya, khususnya melalui pendidikan untuk dapat pekerjaan. 

Kecemburuan sosial juga dapat menjadi motif. Secara umum, dalam teori kelompok kekerasan adalah orang-orang kurang memiliki kapabilitas atau kemampuan misalnya ketrampilan tertentu seperti menjahit, menjual sesuatu, berserikat untuk berdaya, membangun tempat untuk bersumberdaya, mereka juga cenderung tidak tidak fit in di masyarakat pada umumnya, tidak tahu cara bersosialisasi di tengah masyarakat. 

Jika hal ini, skenario paling buruk dilakukan oleh orang-orang di luar civitas akademika adalah melakukan perundungan pada masyarakat belajar. Seringkali dengan cemooh-cemooh anti modernisme, seperti "perempuan kok menyetir mobil!", "perempuan kok belum menikah!", "kerja sama orang asing ya? Perempuan gabener?", "anaknya gak berkerudung? anak nakal!", dsb. 

Akan tetapi jika terjadi di dalam civitas akademika, seperti misalnya Sitok dari UI atau pun juga UGM, maraknya adalah sebab pengancaman tak diluluskan atau tak disidangkan skripsinya. Tentu saja, pengancaman-pengancaman itu memburu seperti nightmare! 

Hal ini sebab terkadang mahasiswa/i telah habis-habisan secara emosional, psikologis, emosional, dll untuk dapat lulus. Sementara di pundaknya selalu ada tanggungjawab 'cepat lulus' dari orang tua di rumah atau di kampung halaman. 

Mahasiswa/i hanya berfikir tentang bagaimana ia cepat memakai toga setelah 8 semester orang tuanya berjerih payah membayar SPP dan sebagainya, mungkin bisa saja untuk membayar SPP itu orang tuanya musti menjual barang-barang di rumah, berhutang, dan sebagainya. Maka semakin bertambah-tambah pula lah beban di pundaknya. 

Di sinilah terkadang, kebanyakan awam dan masyarakat bukan civitas bahkan orang tua (yang tak menjalani pendidikan serupa) tidak mengerti mengapa anak-anaknya yang mahasiswa/i bisa sakit; seperti tipes, hepatitis, muntah-muntah disertai asam lambung, keringat dingin berkepanjangan, jantung berdebar, dll. Segala yang diindikasi dokter terlalu banyak fikiran atau akibat stress.

#MeToo saat ini tak hanya menjadi perhatian Hollywood akan tetapi menjadi isu krusial yang bahkan menyentuh instansi-instansi pendidikan di luar negri seperti di Korea. Hal ini dilakukan sejak Januari 2018. 

"The Ministry of Education came up with measures to root out sex crimes at schools including sexual harassment and sexual assault, with few of them taking effect" (1). 

Selain itu di Amerika juga menggalakkan movement ini. Dilansir dari US News; 

“First and foremost, sexual harassment is occurring at the K-12 level,” says Anne Hedgepeth, interim vice president of public policy and government relations for the association. “This is not an issue that’s only relegated to college campuses or other workplaces. It’s something that’s happening early in our students’ lives, and there is a real imperative for us to do something about it” (2). 

Kita patut mengapresiasi perhatian Dikti pada persoalan ini demi lancarnya kegiatan pendidikan di kampus-kampus di seluruh Indonesia, jika itu memungkinkan, membangun jaringan peduli tak hanya dari NGO-NGO dan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) akan tetapi juga dari Kementerian sendiri. 

Hal ini patut diapresiasi sebab muncul dari dua negara maju. Pertama dalam kebudayaan, kontemporer dan tradisional, dari industri film, juga senada dengan Amerika yang dikatakan sebagai negara Demokrasi. Intinya jika ada persoalan di dalam negerinya sendiri, mereka tidak takut dan malu untuk menghadapi. 

Hal itu juga cukup bisa memberi kita pelajaran yang mungkin akhir-akhir ini kita lihat dimana-mana. Seperti #BlackLivesMatter hingga movement ini dapat menginisiasi perusahaan LOREAL Paris di Prancis untuk tidak menggunakan kata-kata kosmetik dengan pemutih atau whitening untuk menghargai perbedaan warna kulit yang sunatullah. 

Dari laman Dikti, terbaca bahwa ada i'tikad serius dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Adanya keinginan akan peningkatan supaya bisa bersaing di kancah dunia. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi terus melakukan berbagai upaya, salah satunya dengan mendorong pendidikan tinggi Indonesia untuk bergerak lebih cepat dengan melakukan transformasi. 

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam pada acara Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah III pada Kamis (26/11). Pada kesempatan inilah, pentingnya menciptakan kampus yang aman bebas perundungan dan pelecehan seksual dikemukakan. Kepada beliau kita patut memberi applouse. Mungkin juga dengan standing ovation!

Referensi

Dikti.go.id, "Menciptakan Kampus Aman dan Nyaman Bebas dari Perundungan dan Kekerasan Seksual", http://dikti.go.id/kabar-dikti/kabar/menciptakan-kampus-aman-dan-nyaman-bebas-dari-perundungan-dan-kekerasan-seksual/. Diakses 30 November 2020.

Korea Times, Education "School #MeToo Battle Against Sexual ViolanceLosing". outhttps://www.koreatimes.co.kr/www/nation/2020/10/181_281051.html

US News, "MeeToo Goes To School", https://www.usnews.com/news/education-news/articles/2018-01-08/the-metoo-movement-goes-to-school