Perjalanan cinta berliku agaknya cukup melelahkanku. Aku ingin diam dulu sejenak. Bukan menyerah, aku hanya ingin membuang sisa-sisa kepahitan yang pernah ada.

Ibaratnya, jika akan minum, maka gelasnya harus dicuci bersih dulu agar rasanya nikmat. Mana bisa minum dengan gelas kotor yang masih ada ampas-ampas minuman kemarin?

Dan, untuk menetralkan hati yang entah sudah bagaimana bentuknya tak semudah mencuci gelas kotor. Banyak pembelajaran daripada sekadar gengsi unggah foto bersama pasangan di media sosial. Betul apa betul?

Aku lebih memilih sendiri dan menunggu orang yang benar-benar kuinginkan daripada melampiaskan gengsiku. Pernah ada yang bertanya begini, "Mantan udah punya gandengan, kok kamu masih sendiri aja?"

Astaga. Kok kasihan banget sama pemberi pertanyaan itu. Hubungan atau lomba lari, Mas? Hubungan bukan bahan becandaan, Paman Boboho.

Dia sudah menemukan pasangan yang cocok dengannya, ya bagus dong. Untuk apa aku harus memberikan tolok ukur "mantan sudah punya gandengan", lalu aku harus demikian?

Kita beda level. Justru itu membuktikan bahwa keputusanku mengakhiri hubungan adalah sesuatu yang tepat. Dengan begitu, aku berterima kasih padanya karena sudah meyakinkanku supaya tak menyesal.

Perasaan kesal pasti ada, ya namanya manusia. Tapi, pas dipikir-pikir kenapa juga harus kesal. Sudah kupikirkan matang-matang konsekuensinya ketika akan memutuskan hubungan. Salah satunya melihat dia menemukan pasangan lagi. Jadi, ya sudah santuy saja.

Tidak ada yang bisa dipaksakan di dunia ini. Daripada saling menyakiti, lebih baik diakhiri. Prioritas hubungan adalah membahagiakan. Jika akhirnya malah menguras energi, pasti kamu salah orang!

Bagaimanapun keadaannya, kita berdua sudah sama-sama belajar dan pernah saling berjuang. Jika akhirnya seperti ini, maka bukan penyesalan yang kuratapi. Tapi, bentuk syukur luar biasa bahwa tiap orang memiliki kisah cinta berbeda.

Sungguh memalukan jika aku mengatakan buruk-buruknya dia, sedangkan dulu pernah kusayang-sayang. Intinya, aku menyadari dan telah berdamai pada apapun tentang masa lalu. Baik dan buruknya cukup aku yang tahu.

Babak baru pun dimulai. Akhirnya aku menemukan orang yang ingin kujadikan pelabuhan seumur hidupku. Betapa senyumnya mampu menghilangkan segala duka. Eakkk, jiwa bucinku kembali meronta-ronta.

Aku masih kebingungan, entah aku hanya "ingin" saja bersama dia atau "benar-benar butuh". Mengingat tanggung jawab kepada Tuhan adalah membahagiakan diri sendiri, maka aku akan meyakinkan diri dulu apakah aku benar-benar bahagia atau masih dipengaruhi ego.

Jujur, suaranya sangat familiar. Meneduhkan hati. Intuisiku pun berkata dia adalah jodohku. Tapi, aku memilih diam.

Aku takut bukan intuisi yang berkata, tapi ego yang bersembunyi dan berkedok intuisi.

Aku memilih mencintainya dengan anggun. Kuletakkan dia dalam doa-doa kepada Pemberi jodoh. Biarlah seperti ini. Biar Tuhan yang mengantarkan dia ke hadapanku jika memang seperti kata intuisiku.

Prioritas dalam hidupku bukan berpasangan, tapi menemukan orang yang tepat. Seperti apapun kerasnya hati ingin berhubungan dengan siapa pun, pada akhirnya restu semesta dan Tuhan tidak bisa diganggu gugat.

Aku tahu dia pun sayang denganku. Bahkan mungkin terlalu sayang. Sama sepertiku terlalu menyayanginya. Hingga melukai hatiku sedikit saja dia enggan.

Apakah ada kasih selirih ini, Rabb?

Yang sama-sama saling sayang, tapi memilih diam. Yang sama-sama ingin bersama, tapi takut tak bisa membuat bahagia.

Pertama melihat dia, aku tahu ada "sesuatu". Masih banyak misteri yang ingin kutahu tentang dia. Karena selama berkenalan dengan laki-laki, orang ini yang paling menarik perhatian.

Banyak hal tentang dia yang mengagumkan. Ya, aku salah satu pengagumnya. Dia bekerja dengan hati dan tahu cara menikmati hidup.

Meskipun punya kedudukan dan terpandang, suaranya masih saja lembut dan menghargai orang lain. Karena itu, aku hormat dan segan kepadanya.

Bukan karena kedudukannya, tapi cara dia memperlakukan orang lain.

Jika mimpi bukanlah mimpi kalau tak menggetarkan jiwa, maka hidup bersama dengan dia adalah salah satu mimpiku. Tangan-tanganku selalu bergetar atau nderedek ketika berbicara dengannya. Walaupun itu hanya melalui panggilan video di WhatsApp.

Luar biasa sensasinya. Panas dan dingin bercampur jadi satu. Sudah macam abegeh dimabuk cinta saja diriku ini. Memanglah, terkadang tak ingat umur.

Momen senyum-senyum sendiri adalah melihat dia bermain-main dengan anak kecil. Dalam hatiku berbisik, "Nanti, ya, kita main sama anak-anak kita."

Sosok ini adalah laki-laki pekerja keras dan berusaha berpikiran positif. Meskipun begitu, aku tahu kalau hatinya Hello Kitty, hehe. Saling melengkapi dong, aku luarnya Hello Kitty (ups), tapi hatinya keras banget.

Kenapa hatiku keras banget?

Iya, jatuh cinta adalah hal mustahil dalam diriku. Tidak mudah membuatku terpesona. Ada nilai-nilai tersendiri yang membuatku cepat-cepat memutuskan skip dan no.

Kalau ada orang yang berkata, "Dijalani saja dulu, mana tahu cocok." Aku bukan tipe orang begitu. Jika awalnya sudah tak tertarik, maka jangan harap akan mencoba.

Tapi, jika awalnya sudah terpesona, biasanya akan kukejar mati-matian. Hanya satu orang ini saja yang membuatku aneh.  

Bersama dia termasuk salah satu mimpiku, bukan satu-satunya mimpiku. Bagiku, menghabiskan hidup dengan apa-apa harus "pasangan" sangat unfaedah. Idealnya, pasangan sifatnya melengkapi dan mendukung visi-misi hidup kita. Kalau bersama pasangan lantas tunas-tunas kita terhalang menjadi pohon tinggi nan bermanfaat, untuk apa?

Santuy saja, pasangan bukan prioritas dalam hidup. Jika ditanya someone special, maka jawabannya aku punya. Dia satu-satunya yang membuatku cukup dan berhenti mencari. Satu-satunya yang kudoakan sebelum tidur. Namun, segala sesuatunya atas restu Tuhan.

Pasangan yang sejati adalah ketika mampu menerima apa adanya dia dan tetap mampu melanjutkan visi-misi hidup masing-masing. Jika membutuhkan penyesuaian sikap, maka tak terlalu ekstra.

Rumusnya: Jika bersama pasanganmu dan malah membuat dirimu merasa terkuras energinya atau pas dia pergi senangnya minta ampun, fix kamu salah orang!

Sebelum membahagiakan orang lain, kita bertanggung jawab di hadapan Tuhan untuk membahagiakan diri sendiri dulu. Jadi, stop menggantungkan kebahagiaan kepada pasangan. Apalagi sampai menganggap berpasangan sebagai tolok ukur kebahagiaan.

Ada, kok, nanti saatnya kita akan dibersamakan pasangan yang tepat. Yang benar-benar pilihan Pencipta. Kadang kan kebingungan tuh pas memilih pakaian, minta dipilihkan orang lain. Nah, sama orang lain saja percaya, masa ini dipilihkan yang Menciptakan masih ragu-ragu?

Hidup di dunia bukan tentang pasangan belaka, Paman Boboho. Jangan lupa visi-misi jiwa dan mencari apa sesungguhnya kontrak kerja kita terhadap Pencipta.

Apalagi yang mencari pasangan hanya karena melihat kelebihan di targetnya. Tolong, ya, kalau jahat jangan kebangetan. Memangnya kamu mau diperlakukan demikian oleh orang lain? Suka esmosi saja melihat aneka tingkah manusia zaman akhir ini.

Ada yang mengejar seseorang demi memperbaiki keturunan. Lah, dia juga punya hak memperbaiki keturunan dan punya hak tak ingin denganmu. Lalu, kenapa egois?

Kesimpulannya, menurutku jodoh tak ubahnya rezeki. Jika memang milik kita, ya akan datang kepada kita. Jika belum, ya fokus pada pengembangan diri dan persiapan supaya pantas didatangi si jodoh.

Mencintailah dengan anggun. Jangan mentang-mentang suka sama seseorang harus dikejar terus sampai dapat. Ya kalau jodoh, kalau cuma jagain jodoh orang gimana?