Siapa yang tidak kenal Shiba. Laki-laki paling terkenal pinter, tampan, tidak kebanyakan gaya. Prestasinya tidak perlu dipertanyakan lagi. Pemenang olimpiade dua tahun berturut-turut.

Putra sulung dari pasangan pengusaha kaya dan seorang dosen di sebuah universitas ternama. Tidak jauh berbeda, adik perempuannya menjadi idola setiap laki-laki di sekolahnya. Seperti tidak ada cacat sedikitpun dalam keluarganya.

Setiap pagi, di depan gerbang masuk sekolah terlihat mobil mewah berwarna putih yang menyala karena sentuhan cahaya matahari pagi. Semua mata terpana. Sungguh sempurna.

Pintu mobil mewah itu terbuka. Rasanya dag dig dug jantung ini. Ya ampun siapa aku yang hanya bisa melihatnya dari kejauhan, yang hanya bisa tersenyum sendiri saat melihatnya memasuki gerbang. Bagaikan cebol merindukan bulan.

Kali ini Hanum. Perempuan paling populer dengan kecantikan dan keberaniannya mendekati Shiba.

“ Eh eh kenapa kamu senyum-senyum sendiri melihat Shiba?. Tanya Hanum padaku.

Aku hanya tersenyum melihatnya dan beranjak pergi menuju kelas.

Shiba, Hanum dan Aku adalah teman satu kelas meskipun tidak begitu dekat. Shiba yang selalu sendiri dan Hanum yang selalu bersama dengan teman-teman satu gengnya. Sedangkan Aku adalah orang yang hanya kenal kelas dan perpustakaan. Oh God.

Pak Ruslan, guru matematika yang baru saja memasuki kelas dengan membawa satu bendel kertas ujian. Guru yang paling ditakuti oleh seluruh siswa.  Seperti biasa, matematika memang pelajaran paling menakutkan. Tapi tidak untuk Shiba.

“Anak-anakku sekalian, hari ini kita ujian matematika. Kali ini bapak tidak mau kalau Cuma Shiba yang nilainya bagus. Kalian ini harusnya belajar bersama dengan Shiba. Kalau tidak Shiba yang bagus paling juga Naura.” Pak Ruslan mengawali hari ini.

“Bapak sampai bosan ngasih nilai jelek terus sama kalian. Tapi bagaimana lagi, kalian ini memang susah berubah.” Lanjut Pak Ruslan.

Satu persatu soal ujian dibagikan oleh pak Ruslan. Semua siswa mulai mengerjakan soal dengan hening. Bagaikan gerakan mengheningkan cipta dalam sebuah upacara. Hanya terdiam tanpa kata.

Satu jam telah berlalu. Satu persatu siswa bergantian keluar dari ruang kelas. Dengan wajah yang muram tidak karuan, mereka saling bergumam satu sama lain.

“Naura, hey Naura.” Panggil seseorang yang sedikit masih asing ditelingaku. Belum pernah sekalipun Aku mendengarnya.

“Iya.” Sambil membelokkan tubuhku ke belakang. Siapa sebenarnya orang yang memanggilku dengan nama asliku bukan sapaanku. Berbeda dengan teman-teman lain yang memanggilku dengan nama penghuni perpus atau kutu buku atau sahabat pena.

“Naura, kamu mau ke perpus?” Tanya Shiba.

Baru kali ini dia menyapaku. Kita memang baru sekitar 5 bulan menjadi teman sekelas. Makanya belum begitu akrab satu sama lain. Hari ini rasanya begitu dingin, bagaikan air es tiba-tiba membasahi tubuh ini.

“Eh Shiba. Iya seperti biasa, kerjaanku memang hanya di kelas dan di perpus.” Sedikit masih canggung dan bingung.

“Boleh Aku barengan ke perpusnya?” tanya Shiba.

Aku hanya mengangguk. Rasanya masih bingung. Ada apa dengan hari ini? Mengapa begitu indah.

Selama di perpus, Aku banyak melihat cara Shiba belajar. Dia memulai membaca buku dan menulisnya dalam buku yang agak tebal. Cover buku itu bertuliskan “My Resume”. Semakin penasaran apa saja isi buku itu.

“Kalau kamu di perpus belajar apa saja, Ra?” Tanya Shiba.

“Aku hanya menulis, mencari buku-buku sumber tulisan. Dan yang paling penting, perpus adalah tempat paling tenang untuk bercerita pada hati.” Aku hanya terdiam, berfikir kenapa bisa jawab seperti itu di depan Shiba. Sungguh malu diri ini.

“Kamu memang hebat. Tidak mengikuti trend teman-teman. Keluar kelas langsung ke perpus. Ra, besok aku ikutan lagi ya?.”

“Iya. Boleh kok.” Aku hanya tercengang.

Kini hari-hariku tidak pernah sendiri. Keluar dari kelas dan berdua menuju perpus. Aku hanya bisa menikmati kedekatan ini dengan bahagia. Meski kedekatanku dengannya bukan kedekatan karena cinta. Tapi rasanya sudah begitu membahagiakan.

Satu minggu berlalu. Shiba bukan sosok asing lagi, tapi sosok yang selalu menemani dan menjadi teman diskusiku. Hari kedelapan Aku bersamanya. Tiba-tiba seorang perempuan datang mendekatinya.

“Selamat siang. Ini Naura ya?” Sapanya.

“Heee, Iya.” Jawabku dengan kebingungan.

Aku tidak tahu lagi. Rasa hancur dan kehilangan tiba-tiba menghampiri. Sosok laki-laki yang baru saja datang, mendekat dan menenangkan kini hilang begitu saja. Bukan salah Shiba, namun salahku yang terlalu banyak berharap.

Kini Aku baru tahu siapa perempuan itu. Perempuan yang telah menjadi pendampingnya selama tiga tahun ini. Aku memang sangat bersalah dengan rasa ini. Hatiku terlalu cepat menyimpulkan jika kini Shiba sudah mulai mendekatiku.

Hatiku masih bingung dengan perasaan ini. Shiba yang hanya menganggapku sebagai teman namun hatiku terlalu berlebihan. Menganggap kenyamanan ini adalah sebuah keberanian untuk mengungkapkan isi hati. Namun semuanya salah.

Shiba tidak pernah sendiri. Laki-laki yang selalu menjadi idaman perempuan mana mungkin pernah sendiri. Hanya Aku yang berlebihan dengan perasaan ini. Maafkan Aku, maafkan hatiku.

Kembalilah menjadi Naura yang menjaga hati tanpa sosok laki-laki.

Kembalilah bercerita bersama dengan buku-buku rahasia penuh dengan makna.

Menulislah, membacalah, kelak kau akan bahagia.