Rasa yang ada di dalam diri setiap manusia hadir tanpa pernah ia rencanakan, dunia ini seakan terasa lamban walau perubahan drastis berubah begitu cepat, tak ada yang abadi selain rasa cintaku padamu yang mengalir bagaikan sungai saban detik tak pernah pudar, berdoa kepada yang maha kuasa, mendoakanmu sepanjang waktu. 

Ungkapan tersebut sering kita dengar di banyak anak-anak remaja, kita tak tahu dan bagaimana puisi yang bagus bisa menghasilkan kepedihan, pedih yang saya maksud adalah ada puisi yang bagus namun dipergunakan untuk menggombal yang menjadikan seseorang percaya dan menyerahkan segalanya yang membuat ia pada akhirnya menyesal. 

Saya mungkin berhenti untuk menulis puisi dan pensiun, bukan karena saya tidak suka puisi melainkan takut puisi tersebut dipergunakan sebagai rayuan. Karena ini sudah terjadi setahun silam dimana sang wanita meminta pertanggung jawaban akan puisi yang saya tulis dipergunakan oleh mantannya untuk merayunya. 

Pembahasan ini akan semakin panjang dan klarifikasi sangat dibutuhkan, karena bagaimanapun seorang pencinta seni memiliki tanggung jawab yang besar akan bagaimana karya yang ia ciptakan. Tentu kita mengenal dengan esai yang ditulis Roland Barthes mengenai The Death of Author, bahwa ketika karya sudah jadi, sang pencipta tak bertanggung jawab akan seperti apa interpretasi yang muncul dikemudian hari, karena bisa jadi kontroversi akan selalu ada dan dari kontroversi yang turun temurun itulah keabadian seseorang terus dipikirkan, diperbincangkan dalam perkumpulan. 

Kita mengenal Nietzsche, walau kita tak setuju dengan apa yang ia tuliskan toh kita tetap mencintai gaya filsafatnya yang khas tentang Tuhan Telah Mati, disatu sisi ia berdosa atau mengorbankan imannya agar masyarakat dimasa mendatang tetap mengimani tentang ketuhanan, dan akan terlahir dualisme pemikiran yang lainnya.

Apa yang saya perbuat sepenuhnya tak pasti kebenarannya, karena membuat puisi juga bisa lebih menakutkan berbahaya dari membuat nuklir. Mungkin dalam 10 atau 20 tahun kedepan tidak berbahaya namun lihatlah 40 sampai 60 tahun kedepan mengenai prediksi bukan sekedar ramalan takhayul.

Banyak orang yang pontang-panting berjuang demi sebuah rasa, seorang penulis kerja berjam-jam di depan labtob tak pernah merasa jenuh dengan apa yang ia tulis, bagi orang awam melihat kegiatan itu terasa seakan aneh, namun itulah yang dinamakan cinta, suatu perjuangan yang tak pernah berharap belas kasih maupun pujaan. Ia bahagia dengan apa yang ia lakukan tanpa letih.

Seseorang yang dalam mencintai adalah Orang yang dalam keadaan semangat berapi-api, apapun ia tempuh, hujan badai bahkan tsunamipun ditempuh, mengikut kata Crishe, meski keujung dunia pasti akan kutempuh.

Kita sering mendengar nasehat Jangan terlalu berharap karena nanti jikalau tak sampai maka sakit jadinya, terlalu banyak merenung dan membayangkan sesuatu yang tak pasti menyebabkan seseorang sering hilang semangat. 

Kita lebih baik tersakiti oleh pikiran daripada tersakiti oleh harapan, pembaca boleh mempertimbangkan secara radikal karena pemikiran yang semakin ingin mencapai kodrat segala sesuatu akan menyadari bahwa lebih baik pikiran sedikit tersakiti daripada perasaan yang banyak kegalauan.

Ada yang datang disaat ingin, dan ada yang pergi setelah rasa itu terpuaskan. Cinta selain memiliki keindahan disatu sisi memiliki paradoks tersendiri. Dan kita sebagai manusia tak ingin tertipu maupun terjebak dalam rayuan wak labu dan gombal yang bisa datang kapan saja. 

Sering terjadi misalnya kenapa dia tiba-tiba berubah dulu baiknya minta ampun sekarang dikala ditegur sombongnya bukan main. Manusia memang seperti itu tak menetap pendiriannya, namun kita sebagai manusia juga memiliki rasa iba, kasihan dan biarlah ia bermain asal kota tak menjerumuskan.

Prinsip wanita adalah cukup sekali terluka, dan tak ingin menyesali dikemudian hari. Wanita adakalanya mau tak mau harus berpikir lebih berat dari apa yang dipikirkan oleh lelaki, mungkin ini saran wajib dipertimbangkan tanpa harus dipilih. 

Namun jika dibangun suatu formasi agar tak ada penyesalan saling maki dikemudian hari memang penting untuk berpikir secara struktur, yaitu logika secara mapan terbangun dari persiapan menimbang suatu keputusan yaitu tak ada yang sempurna dan jangan keburu cepat memutuskan pilihan bahwa dia yang terbaik tanpa ada ikatan yang pasti. 

Salah satu penyebab dari cepatnya tumbuh rasa puber adalah hadirnya sinetron baper yang tak menentu. Para orang tua saat ini sakit kepalanya jika melihat film yang tokohnya diisi anak SMP tapi sudah memiliki rasa untuk pacaran yang pada akhirnya bisa menular tidak kepada anak SMP tetapi menular juga kepada SD, yang menyebabkan timbullah pemikiran yang tak diinginkan berupa bahwa banyak anak pelajar sekarang sudah tidak utuh lagi. Mendengarnya tentu sakit, tapi inilah kenyataan. Mungkin judul diatas tak sesuai harapan karena penulis bukan penyair yang galau karena jatuh cinta maupun patah hati.

Tidak mungkin ada rasa tanpa nafsu, seseorang yang ingin memiliki tak mungkin ada dorongan untuk bertindak cepat. Anak-anak yang kelahiran angkatan 60 sampai 80 ada rasa saling suka sewaktu mengisi bangku kuliah dan setelah kuliah, sekarang anak zaman now angkatan 90 sampai kini sudah jatuh cinta sejak dibangku SD dan SMP, kan sakit pikiran kita ngebayanginnya tiba-tiba di TV ada berita anak SMP telah nikah. Tentu ini fenomena semakin mewabah dan harus ada penyeimbangan agar tidak terlalu menggebu.

Cinta juga memiliki kaitan dengan kegelapan jika dianalisis dari warna kopi dan  kepahitannya. Yang paling berat diantara kehidupan yang pelik ini adalah hidup tanpa ngopi. Orang suka pada ngopi karena ia tahu bagaimana ia melihat dunia dalam kegelapan. 

Walau kopi memiliki kepahitan yang tak tanggung beratnya bagi pecinta kopi tanpa gula, justru di dalam kepahitan itu ia bisa menikmati dan melihat secara dalam suatu persoalan bahwa inilah maksud sebenarnya hidup. 

Menikmati kepahitan kopi itu seakan tanpa merasa menderita, walau pada awalnya seorang penikmat kopi akan kepahitan, "kenapa pahit sekali ?" Begitu kira-kira namun dibalik itu semua perlahan ia akan sadar dan tahu tentang permasalahan dan dunia yang tengah ia hadapi. Kita bisa merasa bahwa cinta itu pahit sekali, sedih kali hidupmu saat ini.

Kalau kita perhatikan ada yang ganjil jika seseorang mengatakan aku cinta dia dan semua telah kuberikan padanya dan aku telah berkorban mati-matian dan ia tidak membalas cintaku. Seseorang memang tak bisa sepenuhnya menjabarkan kenapa ia harus mencintai dan kenapa ia harus berjuang tanpa henti. 

Karena orang yang mencintai otomatis memiliki estetika yang kuat artinya ia mencintai seni sebagai konsumsi untuk memanusiakan manusia, dan satu hal yang lebih penting lagi ialah orang yang seninya dalam dan luas pasti matematikanya jagok. 

Perlu ditekankan bahwa Cinta tidak ada pakai Kata Tapi-tapi dan karena-karena, cinta tak ada pakai Kalkulasi, cinta tak pakai karena aku ini itu dan sebagainya, ketika kau mencintai, maka cinta akan terus berjuang tanpa pernah memandang seberapa besar pengorbanan, cinta tak ada kelelahan, maka bagaimanapun bertahun-tahun terus dalam usaha seseorang takkan merasa lelah. Cinta akan selalu ada ketika kau tidak merasa berkorban.