43427_53350.jpg
Para peserta Workshop dan Pelatihan Menulis Riau tengah menyimak materi tentang perkembangan industri kertas di Indonesia. (Foto: Qureta)
Info · 2 menit baca

Mencintai Kertas, Menghargai Peradaban

Kertas adalah medium utama penyampaian informasi dan ilmu pengetahuan. Perannya itu tak dipungkiri lagi bagi penciptaan dan perkembangan peradaban umat manusia.

Guna menjaga eksistensinya, Qureta bekerja sama dengan APP Sinarmas adakan Workshop dan Pelatihan Menulis bertema "Kertas dan Peradaban". Dan hari ini, Selasa (14/11/2017), agenda tersebut akhirnya terselenggara dengan melibatkan 26 orang peserta dari beragam latar belakang juga profesi.

Agenda yang berlangsung di Hotel Royal Asnof, Pekanbaru, Riau dari tanggal 14-17 November 2017 ini, diawali dengan sambutan singkat dari masing-masing penyelenggara. Dari pihak APP Sinarmas, Emmy Kuswandari menyampaikan bahwa peradaban kertas begitu dinamis. Ia pun berharap para peserta mampu memahami itu, setidaknya mengenali proses produksi pembuatannya lebih jauh.

"Kami ingin peserta bisa mengenal lebih jauh proses produksi kertas, jenis-jenis kertas, dan pendistribusian kertas di Indonesia. Selain menyangkut isu lingkungan, langkah ini pun merupakan awal merawat tradisi literasi di Indonesia."

Hal senada juga disampaikan pendiri Qureta Luthfi Assyaukanie dalam sambutannya. Sebab ini merupakan langkah merawat tradisi literasi, sebagaimana misi Qureta sendiri, maka mengangkat isu bertemakan Kertas dan Peradaban jadi komitmen utama juga.

"Komitmen kami di sana. Maka penting untuk dijadikan topik utama dalam serial workshop dan pelatihan menulis Qureta ke depan."

Selain menyampaikan harapannya akan perkembangan kertas bagi ilmu pengetahuan, Luthfi juga berharap bagaimana hal tersebut selaras dengan budaya membaca masyarakat. Di samping perkembangannya yang juga mesti sejalan dengan kebutuhan masyarakat era modern.

"Di Amerika, umumnya di wilayah Eropa, meski penggunaan teknologi digitalnya begitu pesat, konsumsi kertas tetap saja terbilang tinggi. Ini jadi pertanda, semakin modern suatu masyarakat, semakin tinggi kebutuhan mereka akan kertas, baik untuk kebutuhan pembersih maupun pembungkus."

Seusai pembukaan, acara kemudian dilanjut dengan materi pertama tentang perkembangan industri kertas di Indonesia. Materi ini disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Aryan Warga Dalam. Ia beri gambaran bagaimana perkembangan kertas itu bergulir sampai hari ini.

"Pesatnya teknologi digital seperti sekarang belum tentu memberi tekanan terhadap eksistensi kertas. Meski perubahan konsumsi kertas di Indonesia, jika dibanding dengan negara-negara berkembang umumnya, yang baru berkutat di produksi kertas tulis cetak dan kertas koran saja, tapi eksistensinya tidak akan pernah mati hanya karena pesatnya perkembangan teknologi."

Itu bisa dilihat hari ini bagaimana produksi kertas tidak lagi sebatas untuk kebutuhan buku atau koran saja, melainkan pula untuk bermacam-macam kebutuhan lainnya, seperti kertas sembahyang, karton, kertas pelapis, tisu, kertas bungkus rokok dan kado, hingga pembungkus nasi.

"Jadi, bukan hanya kertas yang digunakan untuk buku atau koran saja.”

Adapun soal produksi kertas di Indonesia, Aryan mengungkapkan bagaimana peningkatan tampak cukup signifikan. Produksi kertas di tahun 2016, misalnya, produksinya mencapai 8 juta ton. Produksi itu kemudian meningkat menjadi 10 juta ton di tahun 2017.

"Jika dirata-ratakan, sejak tahun 2012 hingga 2016, maka produksi kertas di Indonesia bisa dikatakan mengalami peningkatan sebesar 4,8 persen."

Dijelaskan pula bagaimana industri kertas di Indonesia punya sumbangsih besar secara global. Indonesia mampu menyumbangkan sebesar 3 persen untuk produksi kertas ini bagi dunia.

"Ya, meskipun penggunaan kertas di negeri ini sendiri masih minim, yakni berkisar hanya 32,6 kg per kapita."

Tentu kondisi tersebut masih sangat jauh jika dibanding dengan penggunaan kertas di negara-negara maju. Di Amerika dan Jepang, misalnya, penggunaan kertasnya mampu mencapai rata-rata 200-300 kg per kapita. Bahkan, Indonesia masih kalah dengan Malaysia yang penggunaan kertasnya berjumlah sekitar 100 kg per kapita.

Di akhir paparannya, tak lupa Aryan menitip pesan kepada para peserta, teruntuk pula bagi masyarakat Indonesia secara umum. Bahwa kertas dan ilmu pengetahuan, menurutnya, merupakan dua hal yang melekat erat satu sama lain. Maka, mencintai kertas adalah upaya menghargai peradaban manusia sendiri.