Atmosfir ruang dan keadaan sepertinya memberi pengaruh terhadap cara berpikir orang. Entah pengaruh itu besar atau tidak. Ya, seperti sekarang ini. Warung kopi dan pentas band lokal di dalamnya membantu sedikit daya khayalku. Sosokmu menyelinap ke dalam ruang imajinasi.

Kali ini di momen seperti ini, momen manusia berpasangan sambil mendengarkan band lokal menembang lagu-lagunya, tentang cinta dan segala hal yang berhubungan dengannya seketika ingin kubahas.

Cinta dan segala riuh tentang hakikatnya masih menyelinap di perbincangan banyak kalangan. Mulai anak-anak, remaja dan dewasa. Lain pandangan lain penamaan. Manusia kelas awam (rakyat tanpa pendidikan formal), agamawan, intelektual, cendekiawan, kyai, sufi, budayawan dan banyak namanama lainnya. 

Pada intinya, manusia yang mengerti dan mengenal sekaligus mempraktekkan sifat manusiawinya itulah manusia. Terlepas apa nama yang dilkatkan oleh banyak orang pada pribadi individual manusia.

Sampai detik ini, pada pengetahuanku yang terbatas ini, hanya Imam al-Ghazali yang memberikan definisi cinta secara jelas. Menurutnya: cinta adalah kecondongan hati pada sesuatu yang disenangi atau memberi rasa senang. Tokoh sufi lain yang dikenal mewacanakan agama cinta, Ibnu ‘Arabi dan Jalaluddin Rumi tidak memberi definisi yang jelas tentang cinta.

Ibnu ‘Arabi berkata:

Cinta tidak memiliki definisi yang melaluinya esensi cinta menjadi bisa dikenal. Sebaliknya, yang dimilikinya hanyalah definisi-definisi dengan sifat yang deskriptif dan verbal, tidak lebih dari itu. Siapa pun yang mendefinisikan sesungguhnya tidak mengenal cinta, siapapun yang tidak mereguknya, tidak pernah mengenalnya, dan siapa pun yang mengatakan bahwa mereka telah merasa puas olehnya, berarti tidak pernah mengenalnya, karena cinta adalah mereguk tanpa pernah puas.

Jalaluddin Rumi, melalui puisinya, menerangkan cinta seperti berikut: Ada orang bertanya, “Apakah cinta?” Kujawab, “Janganlah tanyakan aku maknanya. Jika kamu menjadi seperti diriku, kamu akan tahu; Jika ia memanggilmu, kamu akan bercerita tentangnya.” Apakah arti mencintai? Memuaskan dahaga. Karena itu, biar kujelaskan air kehidupan.

Lain halnya dengan Plato. Cinta menurut Plato memiliki tingkatan dan jenis tertentu. Di antaranya:

  • Cinta jasmaniyah: keinginan untuk memiliki dan mencari suatu obyek keindahan atau kebajikan demi kesenangan atau kepuasan.
  • Cinta  persahabatan: perasaan cinta yang ditujukan kepada semua orang tanpa terkecuali, didorong oleh ketulusan hati, semata-mata demi kebahagiaan dan kesenangan orang lain.
  • Cinta ketuhanan: manifestasi dari adanya karunia Tuhan dan cinta-Nya kepada manusia .

Filosof lain, Phaedrus. Menurutnya, cinta berperan sebagai Divine Madness (kegilaan ilahiah)

Menurutnya, pada diri manusia ada dua jenis kegilaan: Kegilaan karena sakit jiwa dan kegilaan ilahiah (inspiratif & intuitif) yang membuat seseorang berbeda dari perilaku keseharian yang dianggap “normal”. Cinta berperan dalam kegilaan ini.

Menurut Kimiawan – (ahli kimia) yang meneliti aspek kimiawi dalam diri manusia yang berhubungan dengan cinta, cinta adalah gejala kimia. Ciri-ciri reaksi kimianya adalah ketika melihat lawan jenis terus berdebar-debar, adrenalin naik, dan ada yang terasa panas. Keadaan demikian menandakan bahwa ada zat kimiawi yang  bereaksi. 

Setiap jatuh cinta, zat ini diproduksi. Semakin dalam cintamu semakin diproduksi secara masif (bergerak terus menerus). Oleh karena itu, ketika sudah jatuh cinta, untuk tidak jatuh cinta lagi susah. Zat ini kalau dipakai terus menerus bisa habis dalam masa 2 tahun. Cinta dalam hal ini mengarah atau condong pada ranah fisik.

Mencintai adalah mendayagunakan unsur cinta yang sudah tertanam sejak masa penciptaan. Lain kata, ini merupakan software manusia. Pasca mengetahui definisi cinta dan sifat dasarnya, barangkali dan seyogianya cara kita mencintai berbeda. Pengetahuan membantu manusia bergerak dan bertindak. Mencintai berarti tindakan yang didasarkan cinta.

Pada akhirnya rangkaian kalimat tentang cinta di atas menjadi rangkaian sebagaimana berikut:

Dapatkanlah kesimpulan yang berarti bagi prosesmu mencintai, entah sama pasangan atau sama Tuhan.