Malam ini menjadi begitu rapuh. Hanya karena tak sengaja mendengarkan lagu berkisah tentang mencintai dalam sepi. Sebuah lagu karya Guyon Waton.

Aku yakin, ini bukan akhir "perjalanan". Selama aku mencintai dia dan dia tak peduli, maka ini bukan akhir dari pencarianku.

Namun, aku juga tak bisa bersama dengan orang yang dengannya tiada rasa tercipta. Padahal, orang itu mati-matian memperjuangkan dan ingin membahagiakan aku. Tapi, kenapa aku tak bisa menghadirkan rasaku untuknya? Aku tak tahu.

Kalian adalah dua orang berbeda. Barangkali benar, orang yang kau cinta dan mencintaimu adalah dua orang yang berbeda. Barangkali memang begitu.

Sering terselip sedikit perasaan kecewa, "Andai saja itu kamu," atas perlakuan baik seseorang yang tak kuharapkan. Ya, andai saja semua yang kuharapkan terwujud, mungkin tiada luka akan menghampiriku. Kutahu itu mustahil dan sebatas imaji.

Mencintai dalam sepi, tiada yang lebih perih dari ini. Di mana hari-hariku penuh imaji akan dia yang memperlakukanku begitu manis dan tulus.

Ada satu hal yang tak kumengerti, yakni tentang sebuah ketaksanggupan menciptakan rasa di hati sendiri. Aku sadar, sepenuhnya sadar jika dia tidak pantas mendapatkan harapan-harapanku ini. Tapi, aku juga tak bisa berhenti menaburkan harapan. Ini semua murni di luar kendaliku.

Seseorang yang tak peduli seharusnya juga tidak pantas mendapatkan kepedulianku. Faktanya, "seharusnya" tinggallah wacana belaka. Aku masih tetap merindukan kepeduliannya.

Ya, aku sadar bahwa aku bodoh. Di sisi lain, aku kehilangan wewenangku untuk menghentikan kebodohanku sendiri. Kesadaran yang tak berbuah apa-apa tetaplah kebodohan, hehe.

"Aku mohon, wahai diri, berhentilah menyakiti dirimu sendiri!"

Perintah itu bukan lagi sering kulontarkan untuk diriku sendiri, bahkan hampir tiap detik. Kepala batu sekali diriku ini!

Seperti ada dua orang berbeda dalam diriku, yaitu antara sadar dan ketidaksadaran. Satu hal yang bisa kupegang teguh di tengah-tengah, "Ini bukan akhir segalanya. Selama belum berakhir baik, maka ini bukan akhirnya."

Dengan segala keperihan yang kualami, aku tak ingin mencari pelampiasan. Meskipun dengan mudah aku bisa menjadikan orang lain sebagai "obat luka" bagi hatiku.

Untuk bagian ini, aku bisa mengendalikan keinginan liarku untuk mempermainkan orang lain. Aku bisa berdiam diri dan menolak ketika dia menawarkan "jasa" penyembuh luka. Tidak! Aku ingin menyembuhkan lukaku sendiri, tanpa orang lain.

Apalagi aku tak bisa berpura-pura mencintai orang yang sebenarnya tak kucintai. Terlalu "kurang ajar" menyeret dia ke dalam kerumitan kisah cinta kelamku.

Aku tidak yakin, dengan menerima segala penawaran orang lain tersebut akan menyelesaikan kerumitanku. Bisa jadi malah menambah rumit. Nah, pusing kan?

Oh iya, ini bukan fiktif belaka. Memang kisah cinta orang berbeda-beda. Dan, ini kisah cintaku yang luar biasa memusingkan.

Aku menceritakan ini sebagai ajang hiburan untuk diriku sendiri. Selain itu, ingin berbagi bahwa kisah cinta tak selamanya mulus. Dan, ingin mengingatkan, untuk tak menyeret orang lain dalam kegalauan pribadi.

Bayangkan saja jika kita di posisi orang itu? Pasti menyakitkan sekali dijadikan pelampiasan, kan? Ya, segala sesuatu harusnya ditembakkan dulu ke diri sendiri, sebelum kepada orang lain.

Harapanku saat ini, tak lagi menginginkan orang yang kucinta memperlakukanku dengan manis. Tidak! Aku hanya ingin melepaskan belenggu adiksi ini dan merasa bebas sebebas-bebasnya.

Nyatanya, bukan ikatan yang sebenarnya mengikat diri. Tapi, perasaan diri sendiri yang melebihi kadar ketentuan tak akan membawa kita ke mana-mana. Diam di tempat.

Mencintai dalam sepi dan diam-diam bukanlah hal baru. Ini fenomena biasa dalam kisah percintaan. Di mana kedua orang yang saling mencintai adalah keberuntungan luar biasa.

Aku kurang beruntung, atau lebih tepatnya belum beruntung. Di luar sana, pasti banyak juga yang merasakan keperihan seperti diriku ini. Karena yang beruntung saling mencintai sedikit sekali. Mereka benar-benar beruntung.

Terkadang, mereka membuatku iri. Dengan segala kerendahan hati, aku tak bisa berbuat apa-apa selain meminta kepada Yang Maha Esa. Jangan pasrah kepada keadaan dan meratapi diri. Inilah keyakinanku. Aku yakin suatu saat akan beruntung juga seperti mereka.

Tiada kejujuran paling jujur selain kepada-Nya. Termasuk mengadukan segala kekecewaan, keperihan, dan segala luka yang entah dari mana asalnya. Sakit sekali mencintai dan mengagumi diam-diam.

Apakah aku harus berbalik arah?

Tidak! Aku tak pernah menyesal telah merasakan kepahitan cinta seperti ini. Yang ada aku bersyukur sekali karena banyak pelajaran akibat ini. Salah satunya, kisah cinta tak selalu manis dan memenuhi harapan.

Ya, bagaikan pendewasaan diri nan mahal sekali harganya. Karena aku telah membayar dengan kesabaran luar biasa; pengaduan tiada terputus kepada Yang Esa; dan pantang menyerah melawan "kekurang-ajaran" diri sendiri. Ini adalah bentuk perjuangan.

Untuk sebuah kesabaran luar biasa, pasti ada balasan yang lebih luar biasa. Mungkin tidak secara serta-merta, tapi nyata adanya. Tunggu saja sebentar dan akan ada jawaban atas segala pengaduan kepada-Nya. Bukankah tiada yang menyayangi kita selain Dia?

Aku harus "bermesraan" dulu kepada Yang Esa dengan air mata dan pengaduan, sebelum akhirnya menjadi bagian orang-orang yang beruntung menemukan apa yang dia cari.

Dan, tiada satu hal pun yang dicari tapi tidak ditemukan. Pasti bertemu, hanya masalah waktu. Semoga sabar menunggu.

Orang yang luar biasa akan disandingkan dengan pasangan yang luar biasa pula. Eits, sebelum itu tentu ada ujian yang luar biasa untuk dilalui.

"Sabar, ya, wahai diriku. Dan, untuk orang-orang yang merasakan sepertiku di luar sana. Mari berjuang menaklukkan ujian luar biasa ini bersama-sama."