Ada fenomena unik dalam cara beragama kita hari ini. Banyak orang yang makin belajar mendalami agamanya, tetapi di saat yang sama merasa dirinya benar dan memersekusi orang lain. 

Agama yang harusnya menuntut seseorang menjadi arif dan bijaksana justru malah menjadi pintu gerbang bagi munculnya hinaan dan caci maki. Dalihnya hampir sama, yakni mencoba menjalankan Islam yang kaffah, menjadi hanifan musliman.

Hal seperti ini sebenarnya sudah diingatkan oleh para pendahulu kita, Nurcholish Madjid misalnya. Dalam sebuah pidato yang ia bacakan di Taman Ismail Marzuki tahun 1992, dikatakan bahwa:

“... apakah ada kebaikan di dalam kehidupan beragama di masa yang akan datang? Agama itu mengajak kebaikan, tapi justru ketika orang percaya kepada agamanya. Maka, dia semakin kental menganggap dirinya benar untuk menganiaya orang lain. Tentu harus dicari pemecahan, karena Indonesia akan menghadapi masalah ini...”

Tiap-tiap orang yang beragama pada prinsipnya adalah menjunjung nilai-nilai kemanusiaan “...keberagamaan seseorang tidak akan tegak sebagai Islam sebagaimana yang dituntunkan dan diteladankan langsung oleh Rasulullah Saw jika pada dirinya tidak berdenyar nilai-nilai cinta kemanusiaan. [...] Bagaimana mungkin  seseorang  mengaku berislam , tetapi perilakunya kepada orang lain jauh dari sifat-sifat kedamaian dan keselamatan? (hlm. 10)”.

Berbeda dengan hukum dalam beribadah, yakni semuanya haram kecuali yang diperintah-Nya, maka dalam menjalankan hubungan kemanusiaan hukumnya adalah semua halal kecuali yang dilarang-Nya. 

Dari sini seyogianya kita bisa menempatkan hubungan sesama manusia sebagai hubungan yang berkelit kelindan di luar perbedaan yang dimiliki tiap orang. Perbedaan yang ada tidak menjadi alasan bagi kita untuk memutus hubungan dengan orang lain, bahkan menjadi legitimasi bagi kita untuk menganiaya orang lain. Tidak, Islam tidak hadir dengan nilai-nilai seperti itu.

Kisah hijrah Nabi Muhammad Saw beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah mungkin bisa kita renungkan kembali. Saat itu Nabi Muhammad Saw membuat suatu konsensus bagi semua masyarakat yang ada di Madinah, konsensus yang egaliter sebab tidak mempolarisasi masyarakat berdasarkan agama, suku, ras dan lainnya. Konsensus itu dikenal sebagai “Piagam Madinah”

Jika kita renungkan, konsesnsus tersebut nyatanya merangkul semua orang yang ada dalam suatu kesatuan komunitas. Tidak ada lagi kelompok yang merasa dirinya superior di antara yang lain, “Sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komunitas) manusia lain” adalah pasal pembuka piagam tersebut.

Tidak ada lagi polarisasi antara Muhajirin, Bani Auf, Bani Sa’idah, Bani Al-Hars, Bani, Jusyam, Bani An-Najjar, Bani ‘Amr bin ‘Awf, Bani Al-Nabit, Bani Al-’Aws. “Sesungguhnya piagam ini tidak membela orang zalim dan khianat. Orang yang keluar (bepergian) aman, dan orang berada di Madinah aman, kecuali orang yang zalim dan khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan takwa. Dan Muhammad Rasulullah Saw” menjadi penutup perjanjian itu.

Dalam bab 'Islam Apa Sebenarnya yang Ajarkan Hinaan dan Caci-Maki?' Mas Edi mengisahkan –diriwayatkan Abu Hurairah Ra– seorang pemabuk yang dihadapkan kepada Rasulullah Saw, lantas Rasulullah berkata “Pukullah ia”, kemudian salah seorang sahabat berkata “Semoga engkau dihinakan oleh Allah Swt.”

Rasulullah Saw seketika bersabda, “Janganlah kalian berkata demikian; janganlah memberikan pertolongan kepada setan untuk menggoda orang ini sehingga berbuat hal yang tidak dibenarkan oleh agama”. Kisah tersebut bisa kita lihat bagaimana Rasulullah Saw mengedepankan cinta kasih kepada sesama manusia.

Fenomena lain yang terjadi ialah mudahnya orang –bahkan pemuka agama– untuk menyebarluaskan ayat-ayat Alquran secara serampangan. Kekuatan media sosial menjadikan semua orang bak ‘ulama’ instan, kecepatan membagikan sesuatu lebih tinggi dibandingkan sekedar untuk membaca dan merenungkan terlebih dahulu. 

Oleh sebab itu, kuncinya –menurut Buya Syafii Maarif– dalam memahami al-Quran adalah dengan ‘aqlun salim (akal sehat) dan qalbun salim (hati bersih) yang beriringan. Artinya, keduanya tidak dapat dipisahkan. 

“Kalaupun seseorang telah memiliki bekal pengetahuan yang baik..., tetapi jika hatinya kurang sehat..., niscaya bekal pengetahuan yang berbasis pada akal sehat itu akan tumbang dan berikutnya rawan betul menjatuhkannya pada ekspresi-ekspresi pertikaian (hlm. 111-112).”

Inti dari belajar adalah terus bertumbuh. Semakin luas ilmu dan pengetahuan yang kita miliki seyogianya membuat kita semakin bijaksana, arif, rendah hati, sebab nilai kita sebagai manusia dihadapan semua ilmu dan pengetahuan sangatlah kecil. 

Pun demikian dalam beragama, semakin dalam, semakin luas, dan semakin gencar kita mempelajarinya, maka seyogianya kita semakin tawadhu. Sebab “... diri ini hanyalah makhluk yang fana, lemah, dan terbatas, logisnya kita tak akan pernah berani menempatkan diri sebagai ‘sang serba tahu’ atau ‘serba ahli’ lagi (hlm. 68).”

Agama adalah Cinta, Cinta adalah Agama menjadi medium dalam mereguk makna agama yang penuh cinta kasih. Mas Edi menyajikannya tema yang terlihat 'berat' dalam penjelasan-penjelasan yang singkat nan jelas. Buku ini hadir menyentil cara kita beragama yang penuh ambisi namun luput akan toleransi.

Maka sudah sepantasnya sebagai manusia yang fana, lemah dan terbatas ini untuk senantiasa mawas diri terhadap cara kita dalam beragama. Sebab, “mana mungkin agama dan kemanusiaan tidak saling berpelukan?” seperti yang diutarakan Mas Edi sebagai sub-judul buku ini.