Sejak dideklarasikan pada 6 Februari 2008, partai berlambang kepala garuda belum pernah bersama pemerintah. Gerindra selalu menjadi oposisi. Itu artinya, ia menjadi satu-satunya partai yang sejak berdiri belum pernah menempatkan kadernya sebagai menteri. 

Kekalahan Prabowo dalam pilpres 2009 saat berpasangan dengan Megawati menjadi momen pertama mereka menjadi oposisi. Tahun 2014 hingga saat ini, mereka (Gerindra) tetap memilih menjadi oposisi bersama PKS. 

Lalu bagaimana dengan tahun ini hingga 2024? Apakah Gerindra akan melanjutkan posisi tersebut atau membuat langkah bersejarah dengan bergabung dalam pemerintahan?

Sinyal diterimanya Gerindra dalam pemerintahan banyak kita baca dari komentar anggota TKN. Berbeda dengan Demokrat yang sudah mulai mendekati Jokowi, namun partai koalisi tampak kurang nyaman dengan PD. Mereka cenderung senang jika Gerindra yang bergabung. 

Gerindra sudah 10 tahun menjadi oposisi. Sama halnya dengan PDIP sejak SBY berkuasa. Menarik kita nantikan apakah Gerindra akan memecahkan rekor dengan menjadi oposisi selama 15 tahun. 

Sebenarnya, sebagai partai yang baru hadir sejak 2008, Gerindra cukup sukses meski tak sesukses Demokrat. 

Kelebihan Gerindra dibandingkan Demokrat ialah kemampuan menjadi oposisi selama 10 tahun. Padahal suara Gerindra cukup signifikan untuk melakukan bargaining. Gerindra bisa saja menjadi menjadi bagian pemerintah di tahun 2009. Namun kesetiaan mereka pada PDIP membuat mereka memilih sebagai oposisi. 

Hal itu tentu berbanding terbalik dengan Demokrat yang tidak pernah menjadi oposisi. Meski tak masuk dalam pemerintahan Jokowi-JK, Demokrat juga tidak memilih sebagai oposisi. Adalah sejarah baru apabila Demokrat nantinya menjadi oposisi. Berani?

Melihat ngebetnya AHY untuk menjadi capres 2024, rasanya mustahil Demokrat berani menjadi oposisi. Kita semua paham mengapa akhirnya Demokrat mendukung Prabowo di akhir penutupan pencalonan. Ada keharusan mendukung salah satu capres sebagai syarat dapat mencalonkan capres 2024. Tanpa syarat itu, barangkali Demokrat akan bersikap seperti 2014.

Fakta sejarah itulah yang membuat Gerindra harus bersikap cerdas. Koalisi dengan PDIP sudah pernah terbangun. Gerindra unggul secara historis, dan Demokrat belum pernah berkoalisi dengan PDIP. Jokowi, terutama Megawati, akan cenderung berkoalisi dengan Gerindra ketimbang dengan Demokrat.

Skenario Jokowi-Ma'ruf yang dilantik mengharuskan Gerindra memutuskan sejarahnya sendiri. Bersama Jokowi menyiapkan capres selanjutnya merupakan pilihan realistis dan logis ketimbang menjadi oposisi. Prabowo dapat dipastikan tidak kembali mencalonkan diri. Menyiapkan kader selanjutnya sangatlah penting.

Ketergantungan sosok sentral harus diganti dengan regenerasi dan kaderisasi. Kader-kader Gerindra dapat dipromosikan menjadi menteri dalam kabinet Jokowi-Ma'ruf. Sejarah mengatakan bahwa tidak ada koalisi oposisi yang benar-benar permanen. Lihatlah bagaimana akhirnya PAN dan Golkar meninggalkan KMP.

Ingatlah mengapa Jokowi menang dalam pilpres 2014. Bukan karena PDIP menjadi oposisi, tetapi karena Demokrat memutuskan tidak ikut dalam kontestasi 2014. 

Belajar dari itulah hendaknya Gerindra memilih menjadi bagian dari pemerintahan. PDIP masih memiliki cukup banyak kader yang akan bertarung dalam pilpres 2024. Gerindra bukan hanya butuh capres 2024, tetapi butuh pula tokoh yang dapat menggantikan Prabowo sebagai ketua umum. 

Koalisi parpol Jokowi-Ma'ruf juga sangat menyambut baik dengan hadirnya Gerindra. Saatnya Gerindra memperbaiki ekonomi dan politik dari dalam pemerintahan. Selain itu, Gerindra akan mencetak sejarah baru, yakni memiliki seorang menteri sekaligus menjadi bagian dalam pemerintahan. 

Manfaat lainnya, polarisasi akar rumput dipastikan akan lenyap secara perlahan. Cebong dan kampret hanya menjadi catatan buruk politik kita. Biarkan Demokrat menjadi oposisi jika berani.

Secara perolehan suara legislatif 2019, Gerindra lebih 'seksi', lebih menguntungkan bagi jalannya pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. 

Tahun 2024, Prabowo bisa menjadi kingmaker. Toh Prabowo sudah sukses menjadikan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Bahkan Prabowo bersama JK disinyalir sebagai tokoh di balik kemenangan Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2012.

Jurgen Klopp yang kini melatih Liverpool sehingga menjadi juara Liga Champion Eropa bukanlah pemain hebat. Namun sebagai pelatih, ia sangat sukses. 

Sebelumnya, ia sukses membawa Mainz 05 naik ke divisi utama untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Selain itu, ia sukses memberikan dua gelar Liga Jerman dan satu DFB Fokal kepada Dortmund.

Bukan hanya itu, Prabowo bisa berkaca dari kesuksesan Megawati menjadikan Jokowi sebagai Presiden. Padahal Megawati tidak pernah menang ketika mengikuti kontestasi pilpres; kalah dari Gus Dur dan dua kali kalah dari SBY. Megawati menjadi Presiden bukan melalui pemilihan, namun dibantu aturan konstitusi ketika Gus Dur dilengserkan.

Prabowo tak perlu bersedih. Bukankah yang terpenting visinya berjalan meski bukan dia presidennya? 

Prabowo harus mempertimbangkan masa depan kadernya yang berpotensi. Bukti ia peduli pada kadernya ialah memberi mereka kesempatan berkarya di dalam pemerintahan. Sekali lagi, skenario ini apabila memang nantinya Jokowi-Ma'ruf yang dilantik.

Inilah saat yang tepat Gerindra mencetak sejarah dengan menjadi bagian dari pemerintahan. Atau menjadi partai paling lama menjadi oposisi pasca-reformasi.