Researcher
1 tahun lalu · 151 view · 4 menit baca · Media 90481_86880.jpg
http://www.governancenow.com

Mencerdaskan Publik, Menangkal Narasi Intoleransi

Media Digital, Hate Spin dan Intoleransi

Sebuah survei yang diselenggarakan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (MTI) membuahkan hasil yang mengejutkan, bahwa sebesar 44,30 persen berita hoax diterima masyarakat setiap hari, dan 29,80 persen berita hoax diterima masyarakat dalam waktu seminggu sekali. 

Artinya, setiap hari masyarakat kita digempur oleh berita hoax, atau berita palsu (fake news). Dan 88,60 persen jenis hoax yang diterima tersebut berisi tentang SARA, salah satunya dominan berisi tentang narasi radikalisme agama. Berita hoax yang berisi tentang narasi ektremisme, yang menyebarkan pemahaman intoleran. 

Survei tersebut juga menyebutkan berita hoax tersebut paling banyak disebarkan melalui saluran media sosial, yakni sebesar 92,40 persen, dan 62,80 persen disebarkan melalui aplikasi chatting seperti Whatsapp, Line dan Telegram. Bahkan yang lebih berbahaya, 30,30 persen tanggapan masyarakat mengaku kesulitan memeriksa berita hoax tersebut.

Sehingga banyak dari mereka yang justru memilih menyebarkan atau meneruskan berita hoax tersebut kepada orang terdekatnya, komunitasnya dan grup yang dia ikuti di sosial media atau aplikasi chatting. Alasan mereka menyebarkan karena mengira bahwa berita hoax tersebut adalah berita yang bermanfaat (31,90 persen) dan mengira bahwa berita hoax tersebut adalah benar (18 persen). 

Angka ini adalah refleksi bahwa penyebaran ajaran radikalisme agama dan intoleransi di media digital cukup mengkhawatirkan. Dan angka ini berpotensi meningkatkan angka intoleransi masyarakat Indonesia.

Sejalan dengan hal ini, temuan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga menunjukkan bahwa intoleransi radikalisme di kalangan generasi muda cukup mengkhawatirkan. Dari sejumlah responden yang terdiri dari 1522 siswa dan 337 mahasiswa, terdapat opini radikal 58,5 persen, opini intoleransi internal 51,1 persen, dan opini intoleran eksternal 34,3 persen. 

Penelitian tersebut juga menemukan pengaruh media digital terhadap pengkonstruksian pemahaman radikalisme agama dan intoleransi bahwa generasi muda saat ini gemar mencari sumber pengetahuan agama melalui internet, mulai dari blog, website, dan media sosial lainnya. Hal ini terlihat dari angka 54,87 persen rujukan generasi muda mencari pengetahuan agama adalah internet. 48,57 persen melalui buku atau kitab, dan 33,73 persen dari channel televisi. 

Artinya, pemahaman agama yang menjurus pada radikalisme dan intoleran didapat oleh masyarakat dari jejaring media digital atau internet. Dengan kata lain, konten yang ada di media digital atau internet berperan penting dalam membentuk pemahaman masyarakat menjadi intoleran dan mengarah pada radikalisme. 

Temuan ini diperkuat jika dilihat dari traffic pengunjung beberapa situs atau portal berita yang terindikasi menyebarkan pemahaman radikalisme dan intoleran. Sejumlah situs atau portal berita yang terindikasi menyebarkan pikiran radikalisme dan intoleransi seperti portalpiyungan.org, eramuslim.com, dan voa-islam.com jika dilihat melalui Worth Traffic ternyata situs tersebut dikunjungi sebanyak 300 ribu kunjungan setiap hari.

Artinya situs tersebut dikunjungi orang sebanyak 300 ribu saban harinya. Dari kunjungan ini, situs tersebut diperkirakan dapat mendulang pendapatan mencapai US$ 100 per hari atau US$ 36.500 setahun, yang setara dengan Rp 485 juta dalam setahun. 

Namun permasalahan ini tak bisa diselesaikan dengan pemblokiran situs. Pemblokiran situs bukanlah solusi untuk menyelesaikan persoalan meluasnya pandangan radikalisme dan intoleran. Perlu ada sebuah treatment khusus untuk mencegah meluasnya paham radikalisme dan intoleran. Terutama sebuah cara yang tidak boleh melanggar nilai-nilai demokrasi dan hak warga negara. 

Mencerdaskan Publik 

Hambatan yang penting untuk menjadi fokus dalam penanggulangan penyebaran paham radikalisme agama dan intoleransi ialah kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi dan memverifikasi konten berita hoax yang berisi narasi radikalisme dan intoleran. Terutama bukan hanya berita hoax dalam bentuk bingkai narasi yang benar-benar konyol atau di luar akal sehat.

Namun juga yang dibingkai dalam bentuk narasi yang lebih abu-abu, atau berisi informasi yang sengaja dipelintir dan mengecoh. Mengingat saat ini konten di media digital mulai banyak berisi pelintiran-pelintiran informasi dengan tujuan untuk menciptakan rekayasa ketersinggungan kelompok agama tertentu terhadap kelompok agama yang lain. 

Artinya, model penyebaran konten radikalisme agama dan intoleransi bukan hanya menggunakan berita bohong. Melainkan juga menggunakan potongan-potongan informasi atau kejadian yang kemudian pemaknaannya dipelintir sedemikian rupa untuk menyulut ketersinggungan masyarakat terhadap persoalan keagamaan. Model penyebaran inilah yang berpotensi besar menciptakan kebencian, kegaduhan hingga aksi kekerasan antar kelompok agama. 

Persoalan ini hanya bisa ditanggulangi dengan meningkatkan kemampuan kritis masyarakat terhadap konten media. Kita tidak bisa melarang atau membatasi akses masyarakat ke dunia digital atau internet.

Meningkatkan kemampuan kritis masyarakat dalam mengonsumsi konten media adalah salah satu cara untuk menangkal efek penyebaran konten media yang mengandung paham radikalisme dan intoleransi terhadap presepsi masyarakat. Sehingga masyarakat dengan sendirinya aktif menangkal konten-konten media yang mencoba menyulut dan menghasut sentimen keagaman dan intoleransi. 

Dengan kata lain, cara yang dilakukan bertujuan memungkinkan masyarakat untuk bisa mandiri menyaring konten-konten media yang tersebar di internet, sosial media dan aplikasi chatting yang mereka akses. Cara yang bisa dilakukan ialah bisa dengan gerakan kembali ke sekolah dengan mengajarkan kemampuan mengidentifikasi, menganalisa dan memverifikasi konten media kepada siswa-siswa sekolah. 

Metodenya bisa dilakukan dengan mengajak siswa berdiskusi tentang isi dari situs yang mereka baca, dan membandingkannya dengan isi dari media yang memiliki kredibilitas jurnalisme yang baik atau dengan konten yang memuat gagasan pluralisme atau kebhinekaan sehingga siswa dapat sensitif dalam mengidentifikasi kualitas konten media.

Mengajak para siswa berdiskusi dan menanyakan isi dari media yang mereka konsumsi dan memberikan mereka perbandingan (analisa) dengan konten media yang lebih kredibel atau konten yang berisi tentang pemahaman terkait kebhinekaan dan pluralisme, membuat para siswa dapat menilai secara mandiri mana konten yang berisi ujaran kebencian dan intoleran, dengan mana konten yang memang bermanfaat untuk mereka konsumsi. Sehingga siswa menjadi konsumen media yang cerdas. 

Upaya ini dapat dilakukan bersama-sama antara Pemerintah, Lembaga Pendidikan, NGO, Perusahaan Media Massa dan penyedia platform sosial media sebagai upaya melawan penyebaran konten media yang berisi tentang hate spin, atau hate speech yang berbau radikalisme agama dan intoleransi yang kini semakin marak. 

Upaya ini juga bisa dilakukan bukan saja terbatas pada siswa sekolah, namun juga dapat diberikan kepada elemen-elemen lain yang ada di masyarakat, seperti ibu-ibu rumah tangga, komunitas anak-anak muda, dan lainnya. Sehingga semua dapat berpartisipasi secara aktif menangkal penyebaran pikiran-pikiran intoleran dan radikalisme agama. 

Dengan upaya ini masyarakat dapat bersikap kritis dan skeptis ketika memperoleh atau mengkonsumsi konten media yang berisi tentang intoleransi dan radikalisme agama. Sehingga masyarakat tidak mudah tersulut dan dapat menyikapinya dengan cerdas ketika konten media yang berisi radikalisme agama dan intoleransi mencoba meracuninya.

Artikel Terkait