Setelah melakukan investigasi literatur sekian lama, akhirnya langkah kaki tiba di tempat yang dicari selama ini. Sebuah makam dengan pusara bermotif bunga dengan nama “Iskandar Tirtoekoesoemo”, namun di atas pusara tertulis sebuah plakat kayu bertuliskan “R.A.A. Tirto Koesoemo, Ketua Boedi Oetomo 1908-1911”.

Saat mata menjumpai nama tersebut di antara tangga menuju makam, bergetar rasanya seluruh tubuh dan bulu kuduk meremang. Bukan karena melihat sebuah penampakan atau mengalami fenomena spiritual, melainkan saya mengalami apa yang saya istilahkan “kepuasan emosional”.

Istilah ini sekadar untuk mengartikulasikan apa yang penulis rasakan dalam kejiwaan setelah sekian waktu lamanya menghabiskan hari meneliti dan menuliskan mengenai tokoh Tirtoe Koesoemo dan Iskandar Tirtokoesoemo serta kehidupan Karanganyar saat masih berstatus kabupaten sebelum kemudian pada 1 Januari 1936 dihapuskan statusnya kemudian digabungkan menjadi wilayah Kebumen.

Jika penulis mendapatkan data-data sesuai dengan sejumlah teori dan hipotesis, maka penulis merasa mengalami “kepuasan intelektual”. Namun saat penulis menemukan secara fisik apa yang dicari dari sebuah penelitian panjang, bukan sekadar “kepuasan intelektual” yang dialami, melainkan “kepuasan emosional”.

Situasi inilah yang dialami saat menemukan makam keluarga Tirtoekoesoemo. Tokoh dan pejabat di era kolonial yang namanya tidak banyak dituliskan dalam buku sejarah umum namun dapat dilacak kiprah dan karyanya di koran-koran berbahasa Belanda.

Sejak 2019 penulis telah memfokuskan meriset dan mengumpulkan informasi mengenai Kabupaten Karanganyar sebelum dihapuskan statusnya sebagai kabupaten pada tahun 1936 dengan membaca koran-koran dan majalah berbahasa Belanda. Konsekuensi logisnya para bupati yang pernah memimpin di Karanganyar menjadi satu kesatuan penelitian.

Beberapa hasil penelitian dan penemuan data telah penulis tuliskan menjadi sebuah artikel al., Mengenang Tirtoekoesoemo: Ketua Boedi Oetoemo Pertama, Ziekenhuis Nirmala (RS Nirmala): Monumen Historis Kemandirian Perawatan Kesehatan Masyarakat di Karanganyar, “Lomba “Pacuan Kuda di Karanganyar Lama, Mengenal Iskandar Tirtoekoesoemo: Penerima Song Song Kuning dan Pendiri Ziekenhuis Nirmolo”.

Demikianlah beberapa penemuan dan penelitian yang disajikan dalam artikel di atas. Kali ini penulis memberi judul artikel, “Mencari Tirtoekoesoemo di Karang Kemiri” dikarenakan beberapa waktu sebelumnya telah menemukan dan membaca sebuah berita mengenai kewafatan R.A.A. Tirtoekoesoemo ayahanda Iskandar Tirtoekoesoemo di mana nama Karang Kemiri disebutkan sebagai peristirahatan terakhir.

Dalam sebuah berita berjudul, “Karanganjar in Diepen Rouw" (Karanganjar Berduka Mendalam) yang diterbitkan harian Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indiee (04-11-1924) dilaporkan perihal kewafatan R.A.A. Tirtoekoesoemo pada usia 73 tahun sbb:

“Donderdag-avond is de Oud-Regent van Karanganjar-Kedoe, Raden Adipati Ario Tirtokoesoemo, na een lang ziekbed, zacht en kalm overleden. Van mond tot mond, van desa tot desa en zoo van plaats tot plaats en stad, in en om buiten dit Regentschap, werd de treurige mare stil en vol eerbied voor den reeds ontslapene verspreid.”

Terjemahan bebas:

“Kamis malam, Mantan Bupati Karanganjar-Kedoe, Raden Adipati Ario Tirtokoesoemo, meninggal dengan lembut dan tenang setelah lama sakit. Dari mulut ke mulut, dari desa ke desa dan dari tempat ke tempat dan kota, di dalam dan di luar Kabupaten, berita dukacita itu tersebar diam-diam dan penuh hormat kepada yang sudah tertidur”.

Kemudian nama tempat pekuburan di mana R.A.A Tirtoekoesoemo muncul dalam berita tersebut yaitu Karang Kemiri dengan sebuah penanda berupa lereng bukit sbb:

“...naar zijn rustplaats in het familiegraf van de Tirtokoesoemo's op hun begraafplaats en grond met name Karangsoetji, op de heuvelenrij ressorteerende onder de dessa Karangkemiri in het onderdistrict Karanganjar”

Terjemahan bebas:

“... pada perjalanan terakhirnya ke tempat peristirahatannya di makam keluarga Tirtokoesoemo di kuburan dan tanah mereka, khususnya Karangsutji, di lereng bukit milik dessa Karangkemiri di kecamatan Karanganjar”.

Berita surat kabar tersebut melaporkan sejumlah orang yang hadir dalam pemakaman R.A.A Tirtoekoesoemo di tahun 1924 tersebut yaitu: M. B. van der Jagt, Residen Kedu; Komandan lokal Gombong, Mayor Schaafsma, Kepala Pemerintah Daerah, Asisten Residen Kebumen, LBC de Klerk, 5 Bupati Wilayah Kedu, J.J.M. Treur, Controleur Karanganjar, sejumlah orang Eropa, pengusaha pertanian dan industri, semua Pejabat Pemerintah Pribumi dari kabupaten ini, Kepala Distrik Kota Tionghoa, para pensiunan serta sejumlah kepala desa.

Pukul setengah dua prosesi pemakaman mulai meninggalkan Kabupaten Karanganyar. Peti mati itu ditutupi dengan karangan bunga. Sejumlah sambutan disampaikan yaitu dari Residen Kedu dan Bupati Arungbinang VII sebagai kolega.

Dalam petikan sambutannya, Residen Kedu yaitu M. B. van der Jagt menyinggung perihal jasa-jasa R.A.A Tirtoekoesoemo yang disebutnya “groote verdiensten” (jasa yang sangat besar) sebagaimana dikatakan sbb:

“Op zoo menig gebied zijt ge naar voren getreden, van landbouw, van veeteelt, van het credietwezen in de dessa, van onderwijs en voorlichting — veelvoudig en onverdroten — van het volk, overal waar Ge werkzaam waart. Van Boedi-Oetomo zijt Ge medeoprichter en eerste Voorzitter geweest”

Terjemahan bebas:

“Anda telah berjasa di begitu banyak bidang, pertanian, peternakan, sistem kredit di Dessa, pendidikan dan informasi - bermacam-macam dan tak tergoyahkan - dari orang-orang di mana pun Anda bekerja. Anda adalah salah satu pendiri dan Ketua pertama Boedi-Oetomo”

Kemudian Residen Kedu membacakan riwayat singkat R.A.A. Tirtoekoesoemo yang memulai tugas sebagai pegawai pemerintah dari kalangan pribumi mulai tahun 1881 hingga 1903 yaitu sebagai Asisten Wedono dari Borobudur (Magelang), Wakil Kepala Djaksa, Kepala Djaksa, Patih Magelang.

R.A.A Tirtoekoesoemo menjabat sebagai Bupati Karanganyar mulai tahun 1903 hingga 1912. Sementara predikat “Ario” dberikan pemerintahan Belanda pada tahun 1907 serta bintang jasa perwira dalam Ordo Orange-Nassau pada tahun 1912. Sebagai bupati dengan prestasi yang baik, Tirtoekoesoemo menerima song song (payung) kuning dari pemerintahan Belanda pada waktu itu.

Setelah Residen Kedu menyelesaikan sambutan, dilanjutkan sambutan dari Bupati Arungbinang dalam “het Hoog-Javaansch” (bahasa Jawa tinggi/halus) namun tidak disebutkan isi sambutannya. Kemudian dilaporkan Iskandar Tirtokoesoemo memberikan sambutan sebagai bentuk ucapan terimakasih yang ditujukan kepada semua yang hadir di pemakaman tersebut.

Demikianlah ringkasan isi berita koran berbahasa Belanda yang melaporkan kewafatan dan penguburan Alm. Tirtoekoesoemo di Karang Kemiri. Berangkat dari informasi tersebut penulis berusaha melakukan penelusuran dan investigasi.

Akhirnya, dengan ditemani Bapak Supriono (Lurah Desa Plarangan) dan kolega penulis yaitu Bapak Chusni Ansori, tibalah di lokasi yang dicari. Jika beberapa orang menemukan makam atau benda-benda tertentu melalui jalan gaib berupa suara atau isyarat dalam mimpi, penulis justru merasa dibimbing setahap demi setahap hingga menemukan di mana R.A.A. Tirtoekoesoemo dan Iskandar Tirtoekoesoemo disemayamkan yaitu melalui berita sebuah koran berbahasa Belanda.

Sebuah kejutan saat melihat nama Iskandar Tirtoekoesoemo di depan pintu besi makam yang terkunci. Ternyata beliau dimakamkan di tempat ini bersama ayahandanya. Sepengetahua penulis sejak tahun 1936 saat mana Kabupaten Karanganyar dihapuskan, Iskandar Tirtoekoesoemo ditugaskan sebagai bupati di Demak (De Indische Courant, 2 januari 1936).

Penulis sempat kebingungan saat melihat makam bertuliskan “Iskandar Tirtoekoesoemo” namun di atas pusara tertulis sebuah plakat kayu bertuliskan “R.A.A. Tirto Koesoemo, Ketua Boedi Oetomo 1908-1911”. Namun setelah melihat posisi makam, nampaknya yang di atas atau belakang makam Iskandar Tirtoekoesoemo adalah makam R.A.A. Tirtoekoesoemo.

Dugaan tersebut semakin dikuatkan setelah penulis berhasil menemui juru kunci makam yang saat itu sedang melakukan pekerjaan di sawah dan menanyai nama-nama penghuni makam. Bapak Slamet memberikan konfirmasi bahwa posisi makam R.A.A. Tirto Koesoemo berada di belakang atau di atas makam Iskandar Tirtoekoesoemo.

Dari hasil penelitian dan penelusuran tersebut telah terbukti sesuai dengan berita dalam koran berbahasa Belanda bahwa R.A.A. Tirto Koesoemo dikebumikan di “familiegraaf” (kuburan keluarga) dan “op de heuvelenrij ressorteerende onder de dessa Karangkemiri” (di lereng bukit milik dessa Karangkemiri). Jika melihat kedudukan makam memang berada di ketinggian sebuah lereng bukit dan masuk wilayah Desa Karang Kemiri.

Dengan membaca peran R.A.A Tirtoekoesoemo sebagai Ketua Budi Utomo dan jasa R.A.A. Iskandar Tirtoekoesoemo yang telah membangun Panti Raga Nirmala (sekarang Puskesmas Karanganyar) sekalipun bekerja sebagai pejabat pemerintahan daerah yang bertanggung jawab kepada pemerintahan Berlanda kala itu, selayaknya pemerintah daerah atau komunitas peduli sejarah lokal saat ini memberikan apresiasi dan memberikan penanda simbolik sebagai sebuah peringatan yang diingat oleh generasi masa kini dan masa yang akan datang.

Ajakan untuk mengingat kembali jasa dan kedudukan mereka di era kolonial bagi pembangunan pertanian dan kesehatan masyarakat mendapat konfirmasinya saat penulis hendak berpamitan kepada Bapak Slamet, juru kunci makam keluarga Tirtoekoesoemo. Sebanyak dua kali Bapak Slamet mengucapkan kalimat, “Beliau adalah pahlawan yang terlupakan”.

Terlepas pemahaman terhadap makna dan muatan istilah “pahlawan” antara Bapak Slamet dan penulis atau beberapa orang yang menemani penulis saat itu, nama R.A.A Tirtoekoesoemo  dan R.A.A. Iskandar Tirtoekoesoemo demikian pula K.R.M.A.A. Djodjodiningrat (bupati pertama Karanganyar sebelum digantikan R.A.A. Tirtoekoesoemo) selayaknya mendapatkan apresiasi dan diperkenalkan kembali dalam percakapan publik maupun penanda simbolik bahkan kurikulum sejarah lokal.